19 June 2019

Luar Biasa!!! Selemak Minyak Pertamina di Bisnis Properti

Oleh: Yusri Usman

 

 

LUAR biasa langkah berani dan terkesan seolah-olah inovatif strategis Pertamina yang dilakukan Direktur Utama Pertamina, Tuan Elia Masa Manik dalam menghadapi tekanan arus kas perusahaaan yang tergerus terus labanya saat ini yang sudah mencapai Rp 19 triliun setelah selama tiga kuartal 2017, yang tentu katanya akibat penugasan menyalurkan BBM satu harga dan tidak dibolehkan menaikkan harga jual Premiun RON 88 dan Solar subsidi sampai akhir tahun 2017 oleh Pemerintah.

Namun bedanya, kalau direksi lama ketika disupiri Dwi Sucipto melakukan langkah-langkah efisiensi dan gebrakan inovatifnya yang terkenal mengeluarkan varian produk BBM jenis Pertalite dan Dexlite untuk mensiasati tekanan harga jual Premium Ron 88 dan Solar, langkah inovatif dan strategis yang dilakukan sekarang oleh Tuan Elia Masa Manik ternyata lebih canggih, yaitu dengan menggelontorkan dana segar Rp 1,4 triliun pada bulan Juli 2017 kepada anak perusahaannya PT Patra Jasa yang terlanjur kesohor di publik mengelola hotel berparas tua di berbagai daerah dan rajin memelihara aset tanah tidur daripada memanfaatkannya.

Ketika kocek tebal sudah digenggam PT Patra Jasa yang dikendalikan Tuan Haryo Yunianto dan diawasi Tuan Dwi Daryoto sebagai Komisaris Utamanya, ternyata bukannya digunakan untuk merenovasi hotel-hotelnya yang sudah kurang layak, agar bisa bersaing dengan hotel-hotel lainnya dan memanfaatkan aset-aset tanah kosong di lokasi strategis yang bernilai ekonomi tinggi, akan tetapi uang banyak itu malah digunakan untuk membeli aset-aset properti milik BUMN di Bekasi dan Jogja yang terkabar selama ini sekarat arus keuangannya.

Anehnya lagi, Patra Jasa malah masuk ke bisnis kapal pesiar dengan alasan mendukung kegiatan parawisata. Seakan benar alasannya tetapi akan mengandung resiko besar bagi perusahaan yang tidak mempunyai keahlian di bidang bisnis kapal pesiar. Malah lebih baik mengakuisisi Hotel Alexis seandainya Gubernur DKI Anis Baswedan memperpanjang izin operasinya.

Itulah sebuah resiko apabila sebuah proyek yang tidak prioritas tetapi diprioritaskan menjadi proyek utama, akan memakan korban. Bukannya fokus ke masalah tugas pokok dan fungsinya yakni penyaluran BBM, malah mengurusi properti.

Di sisi lainnya, langkah PT Patra Jasa yang lebih suka menerima suntikan dana dari induknya PT Pertamina Persero daripada harus cerdas memanfaatkan potensi asetnya, dianggap aneh dan lucu. Pasalnya banyak aset-aset tanah milik Patra Jasa yang jauh bernilai ekonomis dan terletak di daerah strategis yang harusnya bisa dikomersilkan malah diterlantarkan dan menjadi beban bagi perusahaan daripada manfaatnya, karena perusahaan harus rutin mengeluarkan dana pemeliharaan dan kewajiban bayar PBB.

Adapun keanehan yang tidak masuk akal sehat ketika Patra Jasa pada 13 Oktober 2016 dengan nomor surat 107/Dirut- PJ /X/2016 oleh Tuan Haryo telah melakukan pembatalan hasil tender tanpa alasan yang jelas untuk memanfaatkan potensi asetnya berupa tanah seluas 2,2 ha di Patra Kuningan, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan.

Adapun proses tender kerjasama pemanfaatan lahan kosong secara komersial sudah dimulai di awal tahun 2015 dengan mengundang BUMN karya PT Pembangunan Perumahan (Persero) Tbk, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk dengan masing-masing partnernya.

Proses tender telah dilakukan dengan masing-masing pihak menawarkan konsep bangunan yang dibangun dan angka kontribusi maksimal yang akan diterima oleh PT Patra Jasa. Menurut rekaman dokumen yang kami punyai, terungkap salah satu BUMN karya telah menawarkan total nilai kontribusi mendekati angka Rp 1,4 triliun kepada Patra Jasa dan sudah melalui tahapan negosiasi beberapa kali yang terekam dalam berita acara negosiasi yang ditanda tangani oleh masing-masing pihak.

Bahkan beredar rumor bahwa pembatalan tender tersebut diduga karena calon mitra yang sudah disetujui oleh panitia seleksi tidak sesuai dengan skenario awal dari pemilik hajad, sehingga untuk membuktikan dugaan tersebut perlu perhatian penegak hukum menelisiknya, karena proyek ini sudah bisa diklasifikasikan sebagai proyek 'habis besi, arang binasa'.

Di akhir penutup ini, dengan berat hati perlu mengungkapkan kegalauan saya, mengingat kegalauan Presiden akan banyaknya anak usaha dan cucu BUMN sekitar 800 yang tidak sesuai induk bisnisnya untuk dimerger, dan ternyata ada beberapa BUMN melalui anak perusahaan diduga digunakan sebagai modus menggelapkan uang dan banyak yang tidak efisien alias sepanjang tahun harus disuntik dengan PMN (Penyertaan Modal Negara). 

Anehnya, mengapa Pertamina bertolak belakang dengan Presiden dengan terus mendorong anak perusahaannya melebarkan ragam usahanya yang tidak sesuai bisnis utama Pertamina?

Jangan sampai Pertamina akan mengalami nasib buruk kembali seperti tahun 1970 Pertamina bangkrut di era kepemimpinan Ibnu Soetowo, dan sepertinya saya memprediksi setelah tahun 2019 akan banyak pejabat BUMN kita harus rajin mondar-mandir setiap saat ke kantor kuningan dan gedung bundar, dan rajin untuk isi absensi.

Melihat kenyataannya dari proses bisnis yang sudah dilakukan Pertamina selama ini, maka dengan harus berani saya katakan bahwa proyek ketahanan energi berupa RDMP (Refinery Develoment Master Planing) dan bangun kilang baru (GRR) adalah sebuah mimpi indah saja

 

Yusri Usman,Direktur Eksekutif Center of Energy and Resources Indonesia (CERI) (jft/Urbannews)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...