19 June 2019

KPK Sudah Dua Kali Datangi Rumah Ayah Irvan Rivano Muchtar

KONFRONTASI -  KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) melakukan dua kali penggeledahan di rumah milik mantan bupati Cianjur Tjetjep Muchtar Soleh yang merupakan ayah kandung Irvan Rivano Muchtar, tersangka OTT Dana Alokasi Khusus pendidikan.

Untuk kedua kalinya, tim KPK tidak menemukan pemilik rumah yang menghilang dan tidak diketahui keberadaannya. Tidak ada berkas yang diamankan atau dibawa KPK, kecuali dokumentasi visual atas beberapa dokumen.

Pada Rabu 19 Desember 2018, rumah berpagar tinggi itu terlihat sepi. Tidak ada aktivitas di dalam atau di pekarangan rumah. Menurut keterangan tetangga, rumah itu sudah sepi sejak beberapa hari yang lalu.

Akan tetapi, beberapa tetangga membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan belasan orang yang menggunakan beberapa kendaraan dari Jakarta, mengenakan rompi KPK dengan penutup wajah, dan masuk ke dalam rumah di Kampung Berenuk, Desa Limbangsari itu.

"Untuk hari ini, kami tidak melihat ada aktivitas atau tamu yang datang seperti beberapa hari yang lalu. Kalau hari Senin dan Minggu saya melihat ada dari KPK masuk ke dalam rumah, disaksikan Ketua RT setempat," kata seorang warga seperti diberitakan Antara.

Ia menjelaskan, tidak ada berkas atau koper yang dibawa dari dalam rumah yang sempat digeledah selama 4 jam. Keesokan harinya, KPK kembali datang dan melakukan penggeledahan beberapa puluh menit.

Hingga saat ini, KPK telah menggeledah beberapa tempat termasuk rumah pribadi Irvan Rivano Muchtar di Kecamatan Campaka, ruang kepala dinas dan kabid SMP, Kantor Bupati Cianjur, dan rumah pribadi Kepala Disdik Cecep Sobandi.

KPK menetapkan empat orang tersangka dalam OTT Dana Alokasi Khusus Pendidikan dengan barang bukti Rp 1,56 miliar. KPK menilai, pemotongan Dana Alokasi Khusus tersebut sudah terjadi sejak bupati sebelumnya, Tjetjep Muchtar Soleh. Tjetjep Muchtar Soleh merupakan Bupati Cianjur periode 2006-2016.

Diduga Bupati Cianjur bersama sejumlah pihak telah meminta, menerima, atau memotong pembayaran terkait Dana Alokasi Khusus Pendidikan Cianjur Tahun 2018 sebesar sekira 14,5 persen dari total Rp 46,8 miliar.

Taufik Setiawan alias Opik dan Rudiansyah yang menjabat sebagai pengurus Majelis Kerja Kepala Sekolah  Cianjur diduga berperan menagih fee dari Dana Alokasi Khusus Pendidikan pada sekitar 140 Kepala sekolah yang telah menerima Dana Alokasi Khusus tersebut.

Dari sekitar 200 SMP yang mengajukan, alokasi Dana Alokasi Khusus yang disetujui adalah untuk sekitar 140 SMP di Cianjur.

Diduga, alokasi fee terhadap Irvan Rivano Muchtar adalah 7 persen dari alokasi Dana Alokasi Khusus tersebut. Sandi yang digunakan adalah "cempaka" yang diduga merupakan kode yang menunjuk bupati.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...