19 August 2019

Kompetensi Lemah, Ekonomi Terpuruk dan Komunikasi Bahasa Inggris Jokowi Mengecewakan Rakyat

KONFRONTASI- Kemampuan intelektual Jokowi yang sangat minim dan komunikasi bahasa Inggris Jokowi yang kedodoran dan sangat lemah, kompetensinya yang buruk untuk memimpin dan menghadapi tantangan era globalisasi, membuat netisen dan warga menyudutkannya di media sosial dengan sindiran dan kritik ala emak-emak, bapak-bapak dan mahasiswa serta generasi milineal yang kian kecewa.  Kinerja dan prestasi era pemerintahan Jokowi yang limbung, tak jelas arah orientasi kerjanya menjadi indikator nyata pemerintahan Jokowi sangat lemah, malah telah gagal, sehingga elektabilitas Jokowi anjlok. Terpuruknya ekonomi dan isu  agama membuat rakyat sangat kecewa dan mencari presiden baru yang kompeten dan  mahir berbahasa Inggris, mengatasi problem ekonomi dan mampu memenuhi aspirasi ummat Islam.

Demikian pendapat  Darmawan Sinayangsah, Direktur Freedom Foundation dan Muhamad Nabil MA dari  dari Center for the Study of Religion dan Culture UIN Jakarta secara terpisah Rabu ini.

Menurut Darmawan, elektabilitas Jokowi pun kian hari kian terpuruk, mengikuti limbungnya kinerja pemerintahan Jokowi selama periode 2014-2018. Sementara Ummat Islam sudah trauma terhadap Jokowi karena visi-misi dan program Jokowi terbukti tidak konsisten. Kegagalan ekonomi pemerintahan Jokowi, penegakan hukum yang tidak adil dan aksi rezimnnya menangkapi atau menyingkirkan para ulama/ustad/kiyai, termasuk Habib Rizieq, mendorong ummat Islam menolak untuk memilih kembali Jokowi, ''Itu semua membuat elektabilitas Jokowi menuju ke titik nadir,''ujanrya.

‘’Kalangan Muslim sudah trauma dengan Jokowi, dan kaum Muslim mencari presiden baru sehingga gerakan rakyat ‘2019 ganti presiden atau 2019 presiden baru’ sangat popular dan diinginkan rakyat,’’ kata Muhamad Nabil MA dari Center for the Study of Religion dan Culture UIN Jakarta

Sebelumnya peneliti senior Rico Marbun memperkirakan terus menurunnya  elektablitas untuk Jokowi karena faktor  kegagalan ekonomi.’’ Berbagai kebijakan diera pemerintahan Jokowi yang tidak pro rakyat dan keluar dari agenda Trisakti/Nawa Cita yang pernah dijanjikan pada kampanye pemilu 2014 yang lalu, seperti utamanya persoalan  keadilan social dan kesejahteraan rakyat,  Isu agama dan penegakan hukum yang keluar dari bingkai agenda Tri Sakti dan Nawacita, makin memperburuk elektabilitas Jokowi,  menjadi faktor merosotnya elektabilitas Joko Widodo,’’ kata Rico Marbun, Direktur Media Survei Nasional.

‘’Dan posisi Jokowi masih jauh dari aman. Elektabilitasnya masih di angka 30-35% karena terus merosot,’’ imbuhnya.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...