19 August 2019

Kisi-kisi Pertanyaan Debat Bikin Pasangan Capres Tidak Genuine

Konfrontasi - Pengamat politik Pangi Sarwi Chaniago menilai debat capres 2019 putaran perdana berjalan kaku dan kurang menarik. Debat tentang hukum, hak asasi manusia, korupsi, dan terorisme, itu masih sangat jauh dari harapan publik.
 
Dia menilai visi misi dua pasangan calon belum menyentuh akar persoalan. Kedua kandidat justru terjebak pada retorik general yang bersifat normatif.
 
Menurut Pangi, secara umum visi misi yang disampaikan Joko Widodo - KH Ma'ruf Amin alias Jokowi - Kiai Ma'ruf, dan Prabowo Subianto - Sandiaga Uno alias Prabowo - Sandi, tidak jauh berbeda.
 
“Lebih kepada pendekatan persoalan masalah yang mungkin bisa sedikit membedakannya (distingsi),” kata dia, Jumat (18/1/2019).
 
Pangi menilai paslon nomor urut 01, Jokowi - Kiai Ma'ruf lebih menekankan pada reformasi kelembagaan dan penguatan sistem. Sedangkan paslon 02, Prabowo - Sandi, lebih menekankan pada kepastian hukum dengan pendekatan behavioral atau perilaku aparat penegak hukum serta memastikan kesejahteraan.
 
Dari segi kepastian hukum, kedua paslon juga memberikan pandangan yang hampir sama, memastikan tidak terjadi dan atau menertibkan peraturan-peraturan yang tumpang tindih.
 
Namun, kata dia, paslon 01 lebih menekankan pada sinkronisasi lewat badan legislasi nasional. Sedangkan paslon 02 lebih menekankan pembinaan peraturan, dengan melibatkan partisipasi publik dan para ahli di bawah kendali langsung presiden untuk menjamin adanya kepastian hukum.
 
Untuk konteks masalah HAM, Pangi menilai kedua paslon sepertinya tidak punya prioritas yang jelas. Secara konseptual juga keliru dalam memahami persoalan dan cenderung membahas hal remeh temeh. Kedua paslon tidak bisa membedakan antara konsep hak asasi dengan hak warga negara. Hak asasi itu bersifat melekat pada individu yang harus dilindungi. Sedangkan hak warga harus dipenuhi oleh negara.
 
"Kerancuan jalan berpikir pada akhirnya membuat kedua paslon tidak punya fokus yang jelas untuk menyelesaikan akar persoalan," kata Pangi.
 
Untuk pemberantasan korupsi, kata dia, kedua paslon juga masih berkutat pada jawaban yang bersifat umum dan normatif. Paslon 01 menekankan pada proses rekruitmen aparat yang punya kapasitas melalui merit sistem. Untuk jabatan politik, menekan politik biaya tinggi.
 
Namun, kata Pangi, masing-masing paslon kering narasi dari pikiran mereka bagaimana membuat politik biaya rendah untuk menjadi pemimpin.
 
Paslon 02 tetap pada pendekatan integritas aparat dengan perbaikan kesejahteraan aparat negara dengan menaikkan tax ratio sebagai sumber pendanaan. Kemudian, melakukan pengawasan internal yang ketat melalui penegakan disiplin yang ketat serta melakukan perbaikan pencatatan aset negara.
 
Untuk isu penanggulangan terorisme, kata Pangi, paslon 01 masih pada posisi melanjutkan program pemerintah melalui upaya deradikalisasi dengan mengindentifikasi akar persoalan.
 
Akar persoalannya bisa pada pemahaman keagamaan yang salah. Maka pendekatan keagamaan dipandang akan lebih efektif. Jika akar masalahnya pada soal kesejahteraan maka membuka kesempatan dan akses terhadap pekerjaan akan dibuka lebih luas.
 
Sementara, kata dia, paslon 02 lebih kepada sisi akar masalah namun menawarkan pedekatan yang lebih persuasif. Lebih menekankan pada upaya pencegahan melalui peningkatan kapasitas aparat keamanan, intelijen dan pelibatan TNI dalam skala tertentu melalui pemetaan risiko.
 
“Jalannya debat putaran pertama jika kita lihat dari segi penyelenggaraan masih jauh dari kata sempurna," katanya.
 
Menurut dia, publik masih belum terpuaskan dengan format debat yang masih kaku dan belum cair.
 
Wajar dan tak berlebihan agar debat pertama dievaluasi. Termasuk soal pemberian kisi kisi pertanyaan yang membuat capres dan cawapres tidak genuine. Tidak berselancar dengan pikiran liarnya. “Tidak berpetualang dengan ide dan gagasan besar yang ada di dalam otaknya," ujarnya. (jp/mg)
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...