25 May 2019

Ke Mana Hilangnya Sikap Kritis Fadjroel Rachman?

KONFRONTASI-Aktivis Fadjroel Rachman beberapa hari lalu terpilih menjadi Komisaris PT Adhi Karya Tbk. Dalam sepak terjangnya di perpolitikan Indonesia, ia dikenal sebagai aktivis sipil yang vokal  dalam mengkritik kinerja pemerintahan SBY.

Namun saat pemerintahan beralih ke Jokowi, Fadjroel menjadi tidak kritis. Menjadi wajar, sebab saat pemilu 2014 lalu dia tergolong dalam barisan pendukung pasangan Jokowi JK.

Berikut ini sebuah tulisan pendek dari akun Facebook bernama Rusdi Mathari yang juga dikenal sebagai blogger kondang. Isinya yaitu mengkritik hilangnya suara vokal Fadjroel kepada pemerintahan Jokowi JK. Tulisan tersebut ditulis pada 28 April 2015 lalu, saat Jokowi 'keseleo lidah' menyebut indonesia masih berutang pada IMF.

FADJROEL. Mengoceh di Twitter siang ini, akun yang dikenal sebagai milik Fadjroel Rachman merespons ocehan SBY tentang utang ke Dana Moneter Internasional alias IMF. Mengacu laporan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Volume VI, April 2015, yang dikeluarkan Bank Indonesia, Fadjroel antara lain menulis, twit SBY tentang utang kepada IMF adalah benar. Sudah lunas sejak Oktober 2006 seperti yang dijelaskan di halaman xxvii laporan dimaksud.

Masalahnya menurut Fadjroel, pada Tabel 1.4 halaman 6 justru disebutkan, utang ke IMF [sampai Februari 2015] masih tersisa 2.801 juta dolar AS. Dia karena itu mengingatkan [SBY] agar menyimak dengan hati-hati statistik utang luar negeri Indonesia terbaru yang dikeluarkan BI.

Fadjroel adalah aktivis, pesohor, pemimpin sebuah media online, dan dikenal kritis pada pemerintah terutama di zaman SBY. Hampir apa saja tentang SBY dan kebijakan pemerintahannya selalu dikomentari, dikritisi. Mulai dari pesawat kepresidenan, penanganan bencana, termasuk korupsi yang menjerat kader Demokrat, partai milik SBY. Bisa dibayangkan, seandainya limousin pintu enam Mercedez Benz tipe V12 yang digunakan Jokowi digunakan oleh SBY, entah riuh seperti apa suara Fadjroel di Twitter dan medianya.

Di musim pemilu tahun lalu, dia berada di barisan pendukung capres Jokowi, dan itu tampaknya dilakukannya sampai sekarang ketika Jokowi sudah jadi presiden. Sejak itu, nyaris tak ada lagi suara Fadjroel di Twitter yang mengkritik pemerintah.

Dalam beberapa hal, dia bisa disebut cenderung berada di depan Jokowi, menjadi tameng pemerintah. Twit Fadjroel tentang utang ke IMF yang di-mention ke SBY, tampaknya juga dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa SBY keliru atau setidaknya tidak berhati-hati soal data-data utang ke IMF [dan Jokowi yang benar].

Hari ini, SBY memang menjadi berita menyusul twitnya tentang pelunasan utang pada IMF yang dijadikan berita oleh beberapa media online. Lewat akun @SBYudhoyono yang terverifikasi sebagai milik SBY, eks presiden itu mengkoreksi pernyataan Jokowi yang menyebut bahwa Indonesia masih berutang ke IMF.

Menurut SBY, dia merasa perlu meluruskan pernyataan Jokowi sebab kuatir dianggap berbohong saat menjadi presiden. Dia menulis, utang Indonesia ke IMF [$ 9,1 miliar] sudah dilunasi sejak 2006 atau empat tahun lebih awal dari masa jatuh tempo. "Jika pernyataan Presiden Jokowi tersebut tidak saya koreksi, rakyat bisa menuduh saya yang berbohong. Kebenaran bagi saya mutlak."

Twit SBY itulah yang ditanggapi oleh Fadjroel dengan menunjukkan data dari Laporan Statistik Utang Negeri Indonesia yang dikeluarkan oleh BI. Dan memang benar, pada Tabel I.4 halaman 6 yang disebutkan oleh Fadjroel, tertulis ada utang ke IMF sebesar 2.801 juta dolar AS sesuai “Posisi Utang Luar Negeri Menurut Kreditur.” Persoalannya, Fadjroel tidak cermat membaca data.

Penjelasan di halaman xxvii bahwa utang ke IMF [sesuai Tabel I.4] sudah dilunasi sejak Oktober 2006, sebetulnya sudah terang menggarisbawahi: utang IMF benar sudah lunas. Artinya, kalau masih tercantum ada utang, pasti akan ada penjelasan soal utang tersebut. Dan penjelasannya, ada di Tabel II.1 halaman 12 di bawah judul “Posisi Utang Luar Negeri Pemerintah dan Bank Sentral Menurut Jenis Utang [Klasifikasi Domestik]."

Disebutkan di tabel itu, utang $ 2.801 adalah utang Bank Sentral [BI] bukan utang pemerintah. Soal apakah pemerintah dan BI adalah dua entitas berbeda, silakan tanya pada ahli tata negara.

Saya hanya mau menyampaikan, Fadjroel yang aktivis dan kritis, ternyata memang tetap kritis: kritis pada SBY bahkan ketika SBY sudah tidak memerintah, tapi memilih bungkam atau mlipir untuk Jokowi, orang yang dibelanya di musim pemilu, dan kini jadi penguasa. Orang-orang semacam itu [dulu kritis pada SBY dan sekarang memilih kritis pada orang yang kritis terhadap Jokowi], tentu bukan monopoli Fadjroel. Tak bisa disalahkan.

Cuma, anak-anak sekarang mungkin akan bilang: "Fajroel mah orangnya gitu."

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...