16 June 2019

Jokowi Sebaiknya Mengalah dan Mundur Ketimbang NKRI Hancur

KONFRONTASI-  DENGAN aksi massa 100 ribu orang atau lebih 21-25 Mei 2019 ini untuk merebut kedaulatan rakyat yang dizalimi kejahatan pemilu curang rezim Jokowi yang ngeblok ke China komunis, maka sebagai Kepala Negara, Jokowi, istana dan elite penguasa sebaiknya mengalah dan mundur ketimbang terjadi chaos atau perpecahan bangsa yang bakal meruntuhkan NKRI.

Demikian saran dan pandangan berbagai kalangan aktivis kebangsaan antara lain Bennie Akbar Fatah, aktivis senior Gerakan 1998 dan mantan pimpinan KPU era Presiden Habibie, aktivis 1998 Dr Khalid Zabidi, pakar politik/Islamisme Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad dan  ahli geopolitik Hendradjit. Mereka berbicara secara terpisah, awal pekan ini. '

'Sebagai kepala negara, dengan melihat potensi gerakan rakyat, perpecahan bangsa, chaos dan pertarungan adikuasa global yang sengit, yang bisa menghancurkan NKRI, maka Jokowi sebaiknya mengalah dan mundur,''kata Khalid Zabidi dalam diskusi di Hotel Grand Alia Jakarta, Senin kemarn

Hendradjit, Herdi dan Bennie Fatah pun mengakui, berlabuhnya kapal perang Angkatan Laut Australia, USA, Jepang dan kapal induk Prancis di sekitar laut Indonesia, hal itu menandakan AS/Barat/Jepang tidak ikhlas Indonesia jatuh ke tangan China, karena mereka juga punya banyak kepentingan ekonomi-politik dan strategis  di Indonesia.  ''Ke depan kita mengembalikan dan memperkuat  spirit dan cita cita Soekarno-Hatta yaitu harus kembali ke UUD 45,Trisakti dan Pancasila agar bangsa kita tidak dikuasai liberalisme, oligarki kapital dan kekuatan taipan,'' kata Herdi Sahrasad.

''Kita harus punya skema rekonstruksi nasional berdasarkan geopolitik yang digariskan Soekarno dan preambule UUD45,'' tegas Hendradjit

‘’Saya melihat Jokowi dan rezim kubu-01 harus berpikir keras antara dua pilihan yakni, memaksakan KPU menangkan kubu 01 dan melanjutkan kejahatan kecurangan dengan ekses terjadinya chaos, atau Jokowi/01 merelakan mengaku kalah secara jujur,’’tutur Bennie Fatah, aktivis KAPPI 1966 dan Hendradjit.

‘’Hemat saya, kubu Jokowi juga harus mengalah dan mundur demi keselamatan bangsa dan negara, juga  Jokowi musti memperhitungkan jenderal-jenderal Kopasus/Kostrad dan Marinir/AL yang ada  di belakang Prabowo, para Alim Ulama dan pendukung setia Prabowo yang siap mati. AS/Uni Eropa dan sekutunya juga mendukung Prabowo/kubu 02 ,’’ungkap Bennie Fatah yang berdarah Bugis-Jawa itu.

Hasil gambar untuk bennie fatah

Bennie Fatah

Hasil gambar untuk herdi sahrasad

herdi sahrasad

Hasil gambar untuk hendrajit

hendradjit

Hasil gambar untuk khalid zabidi

khalid zabidi

Menurutnya, Jokowi dan KPU semestinya mengalah, mundur dan meminta maaf  pada rakyat, kubu 02 dan bangsa Indonesia  karena menghancurkan daulat rakyat dan demokrasi, menodai amanat konstitusi dan amanat rakyat dengan kejahatan kecurangan pemilu masif dan kegagalan ekonomi. Jika tidak, gerakan kedaulatan rakyat akan mencapai ratusan ribu warga, bahkan sejuta orang untuk menumbangkan kejahatan pemilu dengan dampak diskualifikasi Jokowi dan ambruknya rezim Jokowi ini. Dan aksi ini mendapat dukungan/simpati AS/Uni Eropa dan  sekutunya, yang ditandai dengan merapatnya kapal perang Angkatan Laut AS, Australia, Jepang dan kapal induk Prancis di sekitar laut Indonesia, dan penarikan keluar  dana trilyunan rupiah dari  Indonesia.

Dalam beberapa hari ini sudah Rp11 trilyun dana  minggat keluar dari Indonesia dan BI pun mulai panik dan blingsatan kalau arus dana keluar itu berkelanjutan.

''KPU juga harus minta maaf karena terancam hukuman penjara dengan meninggalnya lebih 500 petugas KPPS dan kecurangan pemilu dimana menurut pasal 542, soal salah input yang mengakibatkan hilangnya 1 suara, bisa dikena pidana penjara hingga 4 tahun. Apalagi Situng yang diketahui salah input ribuan kali,'' kata Bennie Fatah.( Sumber2/nf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...