27 April 2017

Ini Cara Relawan Jomblo Pro Anies-Sandi ‘Melumpuhkan Kode-kode Keras’

KONFRONTASI - Kode keras merujuk pada komunikasi yang tidak efektif dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Biasanya pada pola komunikasi yang seperti ini akan berakhir pada konflik. Jika laki-laki dan perempuan tersebut terikat dalam hubungan rumah tangga, maka akan potensial mengganggu kelanggengannya. Demikian disampaikan oleh Nada Alichiah Hasan, seorang English Psychology Counselor dalam sebuah diskusi yang di Pendopo Relawan Anies-Sandi di Jl. Panglima Polim, Kebyoran Baru (30/11). Menurut jebolan fakultas psikologi UNISBA Bandung tersebut, laki-laki cenderung berkomunikasi berlandaskan fakta dan kondisi riil yang terjadi. Sementara perempuan, biasanya berdasarkan emosi dan ekspektasi. Misalnya laki-laki bilang tidak ada uang, memang benar-benar uang. Tetapi kalau perempuan bilang tidak ada uang, sesungguhnya berharap untuk dikasih uang. “Oleh karena itu, dalam membina hubungan, laki-laki dan perempuan dituntut transaparan. Artinya, terutama bagi perempuan, jika menyampaikan sesuatu tidak perlu dengan kode-kode tertentu yang mengakibatkan multitafsir bagi laki-laki. Sebagaimana diketahui, laki-laki pada dasarnya memang tidak memiliki kemampuan untuk menafsirkan kode-kode”, Nada menandaskan. Menanggapi paparan Nada tersebut, moderator diskusi Darussalam menyimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan, dalam membangun hubungan harus maju bersama. “Demi tercapainya kebahagiaan, baik dalam hubungan rumah tangga maupun hubungan sosial lainnya, laki-laki dan perempuan harus maju bersama. Ini sesuai dengan slogan Anies-Sandi, Maju Bersama bukan?” tandas relawan dari simpul Sohib Anies tersebut. Laki-laki Orientasi Seks, Perempuan Orientasi Komitmen Masih menurut Nada, laki-laki cenderung berorientasi pada seks, kalau perempuan kebih pada kebutuhan komitmen. Penjelasannya adalah, kalau laki-laki, biarpun sudah memiliki seseorang, dia masih bisa suka pada orang lain. “Karena memang naturalnya begitu,” kilahnya. Sedangkan perempuan, mereka menuntut laki-laki untuk berkomitmen, walaupun hubungannya belum terlalu jauh. “Dalam fase awal membangun hubungan, biasanya perempuan dari awal menuntut komitmen, sementara laki-laki belum menjadikan itu sebagai prioritas. Hal inilah yang seringkali menjadi ganjalan bagi hubungan laki-laki dan perempuan untuk melangkah lebih jauh”, katanya. Salah seorang peserta Dhidie Dyah merespon paparan Nada dengan memberikan contoh kasus di alami oleh temannya. Kata relawan yang bertugas di front office Pendopo tersebut, dirinya memiliki teman yang mengalami kode-kode tersebut dari seorang laki-laki. Temannya merasa bahwa ada seorang laki-laki yang mencintainya, tetapi ia tidak punya kuasa untuk melangkah lebih jauh. Laki-laki tersebut menolak untuk berkomitmen karena sudah berumah tangga. Menjawab pernyataan tersebut, Nada menyampaikan bahwa dalam kasus di atas, bisa jadi si laki-laki memang memiliki rasa cinta yang melebihi cintanya pada istrinya , bisa jadi juga tidak. Perlu diperjelas dulu kasusnya, bisa jadi itu hanya judgment dari si perempuan saja bahwa laki-laki tesebut mencintainya. Namun, dalam kaca mata psikologi, bisa jadi si laki-laki sesungguhnya tidak benar-benar cinta, tetapi hanya didorong oleh hasrat natural laki-laki-nya saja. Sebagaimana diketahui, walaupun sudah berkomitmen, seorang laki-laki bisa menyatakan cintanya pada orang lain. “Toh, jika laki-laki tersebut benar-benar cinta, sesungguhnya dia bisa mendobrak kenyataan dengan meninggalkan istrinya dan berpindah ke perempuan tersebut, bukan?” Talkshow konsultasi psikologi di Pendopo ini diselenggarakan oleh Relawan Jomblo Pro Anies. Relawan Jomblo Pro Anies adalah salah satu simpul relawan yang bergerak di ranah anak muda menengah kota. Selain diskusi rutin, mereka juga memiliki aktivitas seperti kampanya “Maju Kotanya, Bahagia Jomblonya” melalui media sosial. “Kegiatan-kagiatan kami, disampung mendukung pemenangan Anies-Sandi dalam Pilkada 15 Februari 2017 nanti, kami juga berusaha memberikan edukasi-edukasi positif bagi anak muda untuk lebih mengenal dirinya”, demikian disampaikan oleh Akhdyan Rahardja, salah satu inisiator Relawan Jomblo Pro Anies-Sandi.[ian]
Category: 

loading...


News Feed

Berita Lainnya

loading...
Rabu, 26 Apr 2017 - 20:10
Rabu, 26 Apr 2017 - 20:00
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:49
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:30
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:05
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:00
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:58
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:47