9 December 2019

Hah, Demokrat Persiapkan AHY Maju di Pilpres 2019?

KONFRONTASI -  Biasanya seseorang yang kalah dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) namanya hilang dari peredaran.  Pers lebih suka memuat berita sang pemenang pilkada. Media massa  umumnya enggan memberitakan aktivitas orang yang kalah di Pilkada.

Namun, tidak demikian halnya dengan  Agus Harimurti Yudhoyono yang akrab dipanggil Agus atau AHY, akronim dari namanya.  Nama Agus mulai menyedot perhatian  publik ketika secara mengejutkan ia diusung Partai Demokrat, PAN, PPP, dan PKB sebagai calon gubernur DKI pada Pilkada 2017. Disebut kejutan karena semula sejumlah pihak memprediksi yang akan diusung keempat partai politik (parpol) tersebut adalah Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra.

Karena mendapat kepercayaan maju di Pilkada DKI 2017, Agus mengundurkan diri dari militer. Putra sulung Presiden ke-6 RI yang juga Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini  berhenti dengan pangkat mayor TNI AD.

Dalam Pilkada DKI 2017 Agus menggandeng mantan Deputi Gubernur DKI bidang Kebudayaan dan Pariwisata, Sylviana Murni. Pilkada tersebut diikuti tiga pasangan calon (paslon), yakni Agus-Sylvi yang bernomor urut 1, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat (nomor urut dua), dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno (nomor urut tiga).

Ahok dan Djarot adalah Gubernur dan Wakil Gubernur (Wagub) petahana DKI. Mereka diusung PDI-P, Golkar, Nasdem, dan Hanura.

Sementara itu Anies Baswedan adalah mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Anies ditendang dari kursi Mendikbud oleh Presiden Jokowi pada 27 Juli 2016. Pada Pilpres 2014 Anies yang bukan kader parpol apapun dipercaya menjadi juru bicara Jokowi-Jusuf Kalla. Setelah tak lagi menjadi menteri, mantan Rektor Universitas Paramadina ini tetap tidak menjadi kader parpol apapun. Tak disangka-sangka Anies dipercaya Partai Gerindra dan PKS sebagai cagub pada Pilkada DKI 2017. Ia berduet dengan kader Gerindra, Sandiaga Uno.

Khusus di DKI dalam pilkada berlaku dua putaran jika pada putaran pertama tak  ada yang memperoleh suara lebih dari 50%. Yang berhak maju ke putaran kedua adalah dua paslon yang memperoleh suara terbanyak.

Sebulan menjelang Pilkada hasil survei yang dilakukan sejumlah lembaga survei menyebutkan Agus-Sylvi menggungguli Ahok-Djarot dan Anies-Sandi.

Tetapi, dalam praktiknya Agus-Sylvi harus mengubur dalam-dalam ambisinya untuk berkuasa di DKI. Hasil Pilkada yang digelar pada 15 Februari 2017 tak sesuai dengan hasil survei.  Komisi Pemilihan Umum Daerah Provinsi DKI Jakarta (KPU DKI)  Senin (27/2) mengumumkan hasil rekapitulasi penghitungan suara, yakni Agus-Sylvi memperoleh 937.955 suara atau 17,05 persen, Ahok-Djarot 2.364.577 (42,99 persen), dan Anies-Sandi  2.197.333 (39,95 persen).

Ketiga paslon tidak ada yang memperoleh suara lebih dari 50 persen sebagai persyaratan untuk ditetapkan sebagai gubernur dan wagub sebagaimana ditetapkan dalam UU 29/2007 tentang Pemerintahan Provinsi DKI Jakarta. Untuk itu pada rapat pleno Sabtu (4/3) KPU DKI memutuskan Ahok-Djarot dan Anies-Sandi maju di putaran kedua.

 

Pilkada putaran kedua digelar pada Rabu (19/4). Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara tingkat provinsi, Minggu (30/4). Anies-Sandi memperoleh 3.240.987 suara atau 57,96%. Sedangkan Ahok-Djarot mendapat 2.350.366 suara atau 42,04%. Hal ini dapat dibaca mantan pendukung Agus-Sylvi memberikan suaranya kepada Anies-Sandi.

Jumat (5/5) KPU DKI menetapkan Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wagub terpilih. Anies-Sandi akan dilantik pada Oktober mendatang untuk periode 2017-2022.

Kembali ke soal Agus. Setelah gagal di Pilkada DKI, berembus isu santer Agus akan maju di Pilkada Jawa Timur 2017. Namun, rumor itu ditepis Ketua Divisi Komunikasi Publik Partai Demokrat, Imelda Sari. “Nggak bener isu itu. Mas Agus nggak akan maju di Pilkada Jatim,” kata Imelda ketika dikonfirmasi Obsessionnews.com beberapa waktu lalu.

Dalam dua bulan terakhir Agus bersama Partai Demokrat aktif bergerilya ke berbagai daerah. Dalam safarinya tersebut Agus mendapat sambutan hangat dari berbagai elemen masyarakat. Tujuan utama safari tersebut merupakan upaya Partai Demokrat untuk memperkenalkan Agus. (Baca: Demokrat Persiapkan AHY Maju di Pilpres 2019? (Bag. 1))

Namun, tak dapat dipungkiri hal itu untuk mengampanyekan Agus sebagai capres pada Pilpres 2019. Apalagi jika dikaitkan dengan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Demokrat di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), 9 Mei 2019 yang ingin kader partai diusung. Suara dari daerah berharap Agus ikut maju bersaing.

Spanduk AHY di beberapa daerah.

Wakil Sekjen DPP Demokrat Putu Supadma Rudana tak menampik keinginan kader agar Agus maju ke Pilpres 2019. Menurut Putu, Agus merupakan anak muda yang berpengalaman di militer.

“AHY sosok pemimpin yang cerdas dan masih muda. Dia sudah digembleng menjadi pemimpin sejak di Akademi Militer. Bahkan, sudah 16 tahun di militer dan selalu menduduki posisi pimpinan,” kata Putu kepada sebuah media online, Selasa (30/5/2017).

Putu menilai sosok Agus itu tak memiliki catatan apa pun jika dikaitkan dengan Pilpres 2019. Ia mengibaratkan Agus sebagai figur bersih yang tak punya catatan negatif.

“Sosok AHY ibarat kain putih yang belum ternoda. Bagi kami di Demokrat, syarat pemimpin itu adalah bersih dan belum pernah ternoda,” tuturnya.

Jika Partai Demokrat mengusung Agus pada Pilpres 2019 mendatang, mampukah suami Annisa Pohan ini berprestasi seperti ayahnya? Seperti diketahui pada Demokrat mengusung SBY pada Pilpres 2004, yang merupakan pilpres pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. Saat itu SBY yang berduet dengan politisi Golkar secara mengejutkan mengalahkan Presiden petahana Megawati Soekarnoputri yang berpasangan dengan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi.

Pada Pilpres 2009 Demokrat kembali mengusung SBY. Kali ini SBY menggandeng mantan Gubernur Bank Indonesia Boediono. SBY-Boediono secara gemilang menaklukkan Megawati-Prabowo Subianto.

Pada Pilpres 2014 Demokrat absen mengusung capres dan cawapres. Demokrat bersikap netral. Dalam Pilpres 2014 Joko Widodo (Jokowi) yang berduet dengan JK menang melawan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. Jokowi-JK diusung PDI-P, Nasdem, Hanura, dan PKB. Sedangkan Prabowo-Hatta diusung Gerindra, PAN, PKS, dan PPP.(Juft/Obsession)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...