19 July 2019

Golkar, Ridwan Kamil dan Meikarta

KONFRONTASI -  Keputusan DPP Partai Golkar mengusung Ridwan Kamil maju di Pilgub Jawa Barat, mendapatkan reaksi keras dari kader Golkar Jabar yang selama ini bergerak diakar rumput.

 

Berbaju Putih, Dedi Mulyadi, Bupati Purwakarta, sekaligus Ketua DPD Jawa Barat.

 

Ujang Komarudin, Pengamat Politik dafi Universitas al-Azhar Jakarta, Senin (06/11) menilai, secara tidak langsung, DPP Partai Golkar telah menghianati proses dan sistem kaderisasi yang ada di internal partai.

Sebelumnya, Sekertaris Jenderal DPP Partai Golkar, Idrus Marham mengatakan, alasan Golkar memilih Ridwan Kamil, dengan pertimbangan elektabilitas yang begitu tinggi dari hasil survei.

Catatan redaksi, biasanya Golkar dalam kontestasi politik, selalu mengusung kader di internal. Seperti dalam Pilgub Sumsel 2018 nanti, Dodi Reza Alex, meski baru menjabat jadi bupati Musi Banyuasin, diusung DPP Golkar untuk maju di Pilgub Sumsel menjadi Cagub.

Meskipun, putra kandung Gubernur Sumsel, Alex Noedin ini, dalam beberapa hasil lembaga survei, secara elektabilitas, tidak pernah ada pada urutan pertama.

Beda halnya dengan Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang saat ini menjadi ketua DPD Partai Golkar Jabar, tak mendapat restu DPP untuk maju di Pilgub Jawa Barat.

Padahal berdasarkan hasil survei Indo Barometer, Bupati Purwakarta ini, secara elektabilitas menempati posisi kedua, setelah Deddy Mizwar, dengan perolehan sebanyak, 18,9 persen, disusul Deddy Mizwar sebanyak, 14,2 persen.

“Hasilnya berbeda dari hasil survei kami beberapa waktu lalu,” kata peneliti dari Indo Barometer, Hadi Suprapto, Red.

Diketahui, survei Indo Barometer digelar pada 11 sampai 15 Oktober 2017, dengan jumlah responden sebanyak 800 oranh. Dari hasil temuan dalam survei tersebut, nama Dedi Mulyadi, Ketua DPD Golkar Jabar, menempati posisi kedua, setelah Deddy Mizwad.

Terpisah, Koordinator Relawan Jabar Hiji, Ahmad Lutfi mengatakan, diusungnya Ridwan Kamil sebagai calon guberbur Jawa Barat oleh Golkar, diduga ada deal dan ada kesepakatan di bawah tangan.

Lutfi menilai, kesepakatan di bawah tangan tersebut, berkaitan dengan proyek-proyek besar, yang sifatnya membutuhkan proyek-proyek gubernur Jawa Barat. “Kami protes keras atas keputusan ini sekaligus bertanya ada deal apa antara Golkar dengan Ridwan Kamil,” ujar Lutfi, Koordinator Relawan Jabar Hiji. Red.

Ridwan Kamil Titipan Luhut

Sekedar informasi, Jawa Barat salah satu provinsi yang saat ini memiliki proyek besar, salah satunya ‘Meikarta’. Salah satu aktivis Lingkungan Hidup di Jawa Barat, Muhammad Nirwan mengatakan, memegang kekuasaan di Jabar, memang hal yang menarik.

Pasalnya, sambung Nirwan, di Jabar ini, bukan karena penduduknya padar dan dekat dengan Jakarta. Tetapi sambung Nirwan menambahkan, di Jabar ada proyek strategis, yang itu sedang digarap pengembang.

Nirwan menjelaskan, sampai saat ini, proyek besar, bernama ‘Meikarta’ masih kontroversial dan bermasalah. Berkaitan dengan Pilgub Jabar, sambung Nirwan, keputusan Golkar mengusung Ridwan Kamil, ada kesepakatan dibawah tangan, melalui, jalur Luhut Binsar Panjaitan.

Ia menjelaskan, Walikota Bandung yang saat ini akan maju dalam Pilgub Jabar, terindikasi titipan Luhut Binsar Panjaitan, dan salah satu ‘deal’ Ridwan Kamil, dengan Luhut Binsar Panjaitan, kata Nirwan, untuk mengamankan kepentingan ‘Meikarta’.

“Luhut Binsar Panjaitan jelas mendukung habis proyek Meikarta, dan jika gubernur Jabar nanti bersikap sama seperti Gubernur DKI menghadapi proyek reklamasi, bisa gagal proyek besar itu,” sambung Aktivis Lingkungan Jabar, Nirwan. (Haji Merah).(KONF/KICAUANNEWS)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...