24 July 2019

Geruduk Bawaslu, Massa Usung Keranda Mayat

KONFRONTASI-Kantor Bawaslu RI kembali didemo oleh sejumlah massa yang menamakan dirinya Gerak Daulat Rakyat (GDR). Massa datang dengan menggunakan sejumlah atribut yang bernuansa kematian, termasuk keranda mayat.

Ketua GDR, Sangap Surbakti, mengatakan aksi yang dilakukan pihaknya untuk meminta kedaulatan berdemokrasi dikembalikan kepada rakyat. Menurutnya, saat ini demokrasi dihancurkan oleh pemerintah melalui Bawaslu, KPU, dan DKPP.

"Karena demokrasi yang kami titipkan melalui Perpres ternyata telah dihancurkan oleh sistem yang dibangun oleh negara, penguasa, melalui instrumennya Bawaslu, DKPP, dan KPU," ujar Sangap saat berdemo di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat, Rabu (15/5).

"Untuk itu kami hari ini bukan hanya ke Bawaslu tapi juga ke KPU. Kami akan mengambil kembali mandat yang telah kami berikan, baik itu kepada kelompok 01 atau 02, karena hakikatnya yang tertinggi itu demokrasi ada di tangan rakyat bukan di tangan oligarki kekuasaan ataupun partai politik maupun calon," lanjutnya.

Dia juga mengatakan massa GDR berasal dari massa yang terlibat aksi di tahun 1998, yang berjuang mengubah sistem di Indonesia. Dia menyebut akan mengerahkan massa untuk mengubah sistem yang kini dibelokkan oleh pemerintah.

"Kami kembali turun ke jalan, kembali mengorganisir dan akan membangun gerakan civil society untuk mengubah apa yang sekarang ini telah dibelokkan oleh rezim. Demokratisasi yang kami perjuangkan di tahun 98 ternyata sekarang dibajak dan dikhianati," serunya.

Suasana saat Gerakan Daulat Rakyat Demo di depan kantor Bawaslu, Jakarta Pusat. Foto: Efira Tamara/kumparan

Dia kemudian menyinggung soal carut marut DPT yang sampai saat ini menurutnya tak dapat diselesaikan oleh KPU. Begitu juga, dengan banyaknya petugas KPPS yang meninggal. Dia meminta adanya tim dari luar negeri untuk dibentuk menyelidiki kasus ini.

"Kami menuntut dibentuk tim investigasi dari luar negeri bukan dalam negeri. Kami tidak setuju dengan elite-elite yang menginginkan tim dari dalam. Kami tidak percaya mau dibentuk Komnas HAM yang di dalamnya ada Amien Rais, kami tidak percaya. Kami menginginkan tim independen dari luar negeri. Kalau tim dari dalam negeri semua bisa diintervensi, mau dari kubu mana pun," kata Sangap.

Dalam demo ini, massa menggunakan baju bernuansa kematian dengan baju berwarna serba hitam. Mereka juga membawa papan-papan yang bertuliskan tuntutannya. Bahkan massa membawa keranda sebagai simbol matinya demokrasi.

"Itu adalah simbol matinya demokrasi, kecurangan yang terjadi itu sama dengan mematikan demokrasi. Hak tertinggi rakyat itu telah dibunuh oleh para penguasa," ujarnya.(mr/kump)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...