22 March 2019

Erick Thohir Ketua TKN, Jokowi Beli Kucing Dalam Karung?

KONFRONTASI -   Pengusaha muda Erick Thohir dipastikan menjadi ketua tim kampanye pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019. Kepastian tersebut sampaikan langsung oleh Jokowi pada Jumat, (7/9/2018) di Posko Cemara, Menteng, Jakarta Pusat.

Terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua tim kampanye pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin memang sudah santer sejak bulan Agustus lalu. Erick Thohir beserta pemilik Net TV Wishnu Utama dan persenter kondang Najwa Shihab menjadi tiga calon terkuat.

Salah satu alasan Jokowi menjatuhkan pilihannya kepada sosok Bos Mahaka Group ini adalah catatan sukses yang dimiliki Erick dalam berbagai hal.Ia dikenal sebagai sosok pengusaha, pemilik media, dan memiliki saham di beberapa bisnis olahraga.

Terakhir, suksesnya penyelenggaraan Asian Games secara keseluruhan, dianggap sebagai kesuksesan seorang Erick Thohir yang duduk sebagai ketua Inasgoc.

“Setiap hal yang beliau pimpin itu selalu mendapatkan kesuksesan. Terakhir kita masih ingat beliau Ketua Inasgoc di Asian Games 2018,” ujar Jokowi kala itu.

Selain terkenal sukses ketika menangani  dan memimpin lembaga-lembaga, terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye didasari oleh kedekatan pemilik saham mayoritas Viva Grup ini dengan kaum millenial sebutan khalayak muda zaman ini.

Hal itu diyakini akan mampu menandingi cawapres Prabowo, Sandiaga Uno yang juga dinilai dekat dengan kaum millenial.

Nama Erick sendiri diamini oleh sejumlah pihak akan mampu mengakomodir sejumlah pengusaha-pengusaha muda untuk mendekat dan mendukung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Pertimbangan itu yang dipilih oleh Jokowi untuk menjadikan sahabat karib cawapres kubu sebelah yakni Sandiaga Uno sebagai Ketua Tim Kemenangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Namun demikian mengacu data yang dihimpun oleh redaksi, nama Erick Thohir tidaklah secemerlang apa yang dilihat oleh masyarakat pada umumnya. Erick sendiri tertanya juga diduga terlibat dalam kasus pencucian uang hingga korupsi.

Dilansir BolaSport.Com dari La Stampa, Erick diduga terlibat masalah pencucian uang saat membeli klub Italia Inter Milan. Kabarnya Erick Tohir sedang dalam pemeriksaan pihak berwenang di Italia.

Erick Thohir sendiri membeli Inter Milan dari Massimo Moratti pada 2013 lalu.

Jumlah uang untuk membeli klub, yang mencapai 75 juta euro (setara 1,2 triliun rupiah) dianggap pihak berwenang mencurigakan.

Dua obligasi bank yang dikeluarkan 11 Oktober hingga 15 November 2013 dirasa mencurigakan oleh pihak berwajib.

Pasalnya, mereka tak menemukan koneksi antara pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi uang yang mengirimkan dana tersebut, dana yang kemudian digunakan untuk membeli Inter Milan.

Dilaporkan bahwa obligasi bank tersebut dikeluarkan di Hong Kong namun hingga saat ini belum ada kabar resmi.

Erick Thohir sendiri kali itu sudah membantah soal kabar tersebut. Erick mengklaiam bahwa isu tentang dirinya yang terlibat pencucian uang adalah hal yang wajar mengingat derbi Kota Milan, saat itu akan segera berlangsung. Derbi Milan antara AC Milan dan Inter memang memiliki tensi tinggi dan sarat perang urat syaraf.

Saat ini, Erick masih memiliki sebagian kecil saham setelah menjual sebagian besar sahamnya ke perusahaan China, Shuning Group.

Tak hanya itu, Erick sendiri diduga terlibat dalam kasus korupsi dana sosialisasi Asian Games yang menyeret 2 petinggi Komite Olahraga Indonesia (KOI) telah dinyatakan lengkap.

Tiga tersangka yang terlibat dalam kasus tersebut diserahkan ke pihak kejaksaan siang tadi. Ketiga tersangka itu yakni Dodi Iswandi selaku Sekjen KOI, Anjas Rivai selaku Bendahara KOI dan pengusaha Iwan Agus Salim selaku penyedia jasa.

Erick Thohir yang merupakan Ketua Komite Olahraga Indonesia sendiri pada Maret 2017 sudah mengaku siap dipenjara bila memang terbukti bersalah dan terlibat pada kasus ini.

“Saya dipanggil kepolisian tidak apa-apa kita hormati hukum, kalau memang dipanggil dan terbukti salah ya saya siap dihukum. Tapi kan yang jelas jangan dipolitisir, tapi kalau saya salah, saya siap dipenjara,” kata Erick seperti dikutip dari Tirto.id, Senin, (6/3/2017).

Kasus tersebut bermula saat Dodi Iswandi diduga terlibat kasus korupsi kegiatan “Carnaval Road to Asian Games 2018” pada enam kota di Indonesia.

Kegiatan tersebut terindikasi tidak melalui proses lelang sehingga diduga melanggar aturan. Kerugian negara yang diakibatkan Dodi mencapai Rp5 miliar dari total anggaran untuk enam kegiatan sebesar Rp61 miliar.

Dengan dugaan keterlibatan tersebut mungkinkah Jokowi ‘membeli kucing dalam karung’? Dengan memilih Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional?

Richard Achmad Supriyanto, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Keolahragaan Indonesia (Lemkapoin) sempat meminta agar kasus dugaan korupsi sosialisasi Asian Games yang menyeret nama Erick Thohir diusut tuntas.

Demi olahraga Indonesia yang lebih baik, imbuh dia, penyidik tidak usah pandang bulu. Seret semua yang terlibat dalam korupsi olahraga ke penjara.

Sementara itu,Presidium Pergerakan Andrianto mengatakan bahwa pemilihan Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Jokowi-Ma’ruf memang bak membeli kucing dalam karung.

Andrianto menilai kesuksesan Asian Games sebagai faktor untuk menetapkan Erick Thohir sebagai Tim Kampanye Nasional tidaklah tepat.

“Kalau ukuran Asian Games tidak tepat. Erick akan kesulitan memimpin barisan parpol. Tidak punya jam terbang politik,” imbuh Andrianto.

Andrianto pun menduga terpilihnya Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye Jokowi juga dapat dikaitkan dengan dugaan keterlibatan Erick dalam berbagai kasus pencucian uang dan dugaan korupsi.

“Betul lagi pula Erick berbalut kegagalan misalkan dia beli inter milan namun inter makin terpuruk. Ujungnya dijual kan. Lagipula banyak relasi binisnya yang gagal,” tukas Andrianto.

“Jadi kalau sekarang sekarang terpilih itu karena taktis amankan kepentingannya,” sambung Andrianto.

Pendapat berbeda disampaikan oleh Pengamat Politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin. Ia menilai Jokowi tidaklah membeli kucing dalam karung dengan mimilih Erick Thohir sebagai Ketua Tim Kampanye.

Seperti soal dugaan pencucian uang dan tuduhan korupsi dana sosialisasi Asian Games, Ujang menilai, hal tersebut sebagai persoalan lain.

“Karena masih sebatas tuduhan dan belum ada laporan kepenegak hukum dan juga belum ada kasusnya dipengadilan. Yang dilihat Jokowi kesuksesan penyelenggaraan Asian Games nya. Bukan pada kasus Erick Thohir-nya,” tukas Ujang.

Ia malah menilai keputusan Jokowi memilih nama Erick sebagai Ketua Tim Kampanye Nasional sangat tepat. Erick dinilai layak untuk mengimbangi gagasan kubu sebelah yang di komandoi oleh Cawapres muda dan millenial Sandiaga Uno.

“Jokowi tidak memilih kucing dalam karung. Tapi memilih untuk memback up’ Jokowi-Ma’ruf Amin dari sisi pemberitaan di media dan logistik pemenangan pilpres. Karena kita tahu Erick Thohir adalah pemilik media dan juga pengusaha,” beber Ujang.

“Erick juga berguna untuk mengimbangi kubu sebelah dalam menggarap kaum millenial. Karena kaum millenial butuh bukti. Di kubu sebelah ada Sandi, bukti kesuksesab dan di kubu Jokowi ada Erick Thohir yang juga bukti kesuksesan di usia muda,” pungkas Ujang.

Erick Tak Bisa Diremehkan

Partai koalisi pendukung pasangan Prabowo-Sandiaga Uno, Berkarya menilai Erick Thohir sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Ketua DPP Partai Berkarya Andi Badaruddin Andi Picunang mengakui meski Erick selama ini berada dalam bidang bisnis bukan politik, namun tetap tak bisa diremehkan.

“Beliau punya talenta memimpin suatu tim. Cuma selama ini kan di tim bisnis dan organisasi profesional. Kalau politik beliau belum teruji. Tinggal caranya, saya kira Erick mampu untuk itu,” tegas dia saat berbincang dengan KedaiPena.Com.

Dengan kondisi demikian, dia mengatakan, bahwa Jokowi tidaklah membeli kucing dalam karung. Badar begitu ia disapa menilai Erick sebagai kucing yang berbeda.

“Tidak lah. Kucingnya cakep-cakep kok. Berkeliaran dan lompat-lompat di depan kita,” kelakar Badar.

Tak hanya itu, Badar menjabarkan,  bahwa Erick tak bisa dibandingkan dengan sosok Djoko Santoso yang disebut-sebut akan menjadi ketua tim kampanye Prabowo-Sandiaga. Semua sosok memiliki plus dan minus.

“Ada plus minusnya lah. Tidak bisa kita langsung mengcap seperti itu. Pak Josan (Djoko Santoso) dari sisi umur dan pengalaman oke lah. Beliau kan aktif di politik (Gerindra) setelah pensiun. Tapi dari sisi memimpin tim bisa diadulah,” imbuh dia.

“Semua tergantung anggota tim yang dipimpin juga. Sejago-jagonya ketua tim tapi bila anggota timnya tidak solid dan tidak profesional ya wassalam,” tegas dia.(Juft/KP)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...