25 May 2019

Dikembalikan ke Penyidik, Kejati DKI Belum Terima Kembali Berkas Ratna Sarumpaet

KONFRONTASI -   Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI Jakarta hingga saat ini belum menerima kembali berkas kasus pembohongan publik (hoax) atas nama tersangka Ratna Sarumpaet (RS) dari penyidik Polda Metro Jaya.

Sebelumnya, tim jaksa peneliti pada 22 November 2018 mengembalikan berkas kepada penyidik karena dianggap belum lengkap baik formil maupun materil.

“Kami sudah kembalikan ke penyidik untuk dilengkapi dengan beberapa petunjuk dari jaksa peneliti setelah menilai berkas tersangka RS belum lengkap, formil dan materil,” kata Kasipenkum Kejati DKI Jakarta Nirwan Nawawi, Jumat (14/12/2018).

Kendati demikian, Nirwan enggan membeberkan perihal isi petunjuk dari tim jaksa peneliti yang harus dilengkapi penyidik Polda Metro Jaya. “Apalagi soal petunjuk terhadap materil dari perkara tersebut. Itu rahasia,” ujarnya.

Saat ini, kata Nirwan, pihaknya hanya menunggu tindak lanjut penyidik Polda Metro Jaya untuk melengkapi berkas tersangka RS. “Kami dalam hal ini bersifat pasif, menunggu,” katanya.

Dalam kasus Hoax ini tersangka Ratna disangka melanggar pasal 28 ayat (2) jo pasal 45A ayat (2) dan atau pasal 35 jo Pasal 51 ayat (1) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan atau Pasal 14 dan atau Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana.

Kasus posisi perkara tersebut bermula pada 2 Oktober 2018 lalu sekitar pukul 15.00 WIB, satu tim dari unit 1 Subdit 4/Umum Ditreskrimum Polda Metro Jaya melaksanakan penyelidikan atas info berita penganiayaan terhadap Ratna Sarumpaet, aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) yang juga anggota tim sukses calon Presiden Prabowo Subianto saat itu, yang sudah tersebar di media sosial.

Dari hasil penyelidikan diperoleh fakta tertanggal dilaporkan penganiayaan (21 September 2018), ternyata Ratna Sarumpaet sedang melaksanakan operasi kecantikan di RS Khusus Bedah Bina Estetika, Menteng, Jakarta Pusat.

Sehingga berita penganiayaan tersebut dapat disimpulkan berota bohong dan apabila disebarkan atau disiarkan dapat menimbulkan kebencian atau keonaran di masyarakat.(Jft/SinarKeadilan)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...