26 April 2019

Darmawan Sinayangsah: Jokowi Tak Bisa Menang Pilpres 2019 Selama Rupiah Ambruk dan Ekonomi Terpuruk

KONFRONTASI- Direktur Freedom Foundation Darmawan Sinayangsah mengingatkan pemerintah bahwa dampak kemenangan Pakatan Harapan pimpinan Mahathir Muhamad- Wan Azizah Wan Ismail (istri mantan Deputi PM Anwar Ibrahim) di pemilu Malaysia ke Indonesia sudah jelas dan tandas: Jokowi-Jk hampir pasti kalah karena gagal ekonomi dan ambruknya rupiah yang membuat rakyat sengsara dan kelas menengah gelisah, gundah-resah dan begah. Jokowi-Jk menghitung hari dan kehilangan cahaya kalau rupiah terus melemah dan ekonomi tetap terpuruk

. ''Hemat saya, dengan sulitnya lapangan kerja, merosotnya daya beli rakyat, melemahnya  rupiah, ketidakpastian hukum, kasus Ahok, Mako Brimob, isu SARA, kalajengking, dan seterusnya, makin sulitlah Jokowi-JK untuk menang sebab tak ada solusi ekonomi. Slogannya Nawa Cita dan Triakti, kok utang bertambah, tapi pendapatan rakyat merosot. Katanya pembangunan infrastruktur, kok rakyat pada nganggur. Slogannya Nawa Cita dan Trisakti, katanya, kerja kerja dan kerja, kok pendapatan rakyat merosot dan para menteri dengan pedagang pada ngimpor garam,beras, bawang, gula, kedelai, dan seterusnya mencari rente di atas derita rakyat. Ini pemerintahan konsumen dan doyan pencitraan, mau kemana?,'' kata Darmawan Sinayangsah, peneliti  jebolan Fisip UI.

Hasil gambar untuk darmawan sinayangsah

Menurutnya, Civil society sudah curiga dan meyakini, Jokowi  tidak mungkin menang Pilpres 2019  selama ekonomi terpuruk dan rupiah ambruk dari 2015 sampai 2018, dimana rakyat kecewa sekali dan nyaris frustasi. ''Saya kira Civil society melihat, sungguh ganjil, dusta, tidak logis, tidak rasional dan tak masuk akal kalau Jokowi menang di pilpres 2019 - sebab ekonomi krisis dengan memburuknya rupiah dan makin lesunya daya beli.Tepat dan rasional-lah pendapat anggota DPR Fraksi PDIP Efendi Simbolon agar Jokowi mundur dan turun dari kursi presiden, ketimbang kekuasaannya bikin rakyat makin sengsara,''ujarnya.

Menurutnya pula, Menkeu Sri Mulyani adalah sosok yang membuat ekonomi makin suram setelah rentan dan ruwet oleh ulahnya sendiri. Siapa menkeu  yang dulu zaman SBY terbitkan hutang $ 43 miliar dgn bunga dua persen lebih mahal dari Thailand, Filipina, Vietnam? Dialah Sri Mulyani.  Padahal ketiga negara tersebut ratingnya lebih rendah dari Indonesia harusnya bunganya lebih murah. Mbok Sri Mulyani harus tanggung jawab dalam kasus financial ini

Darmawan  merujuk pendapat Ekonom senior Rizal Ramil  yang menyebut utang luar negeri Indonesia yang mencapai lebih Rp 4 700 triliun pada 2018 ini sangat mengkhawatirkan. ''Indikatornya, keseimbangan primer (primary balance) negatif. Artinya, sebagian bunga utang dibayar tidak dari pendapatan, melainkan dari utang baru menurut Rizal, dan saya percaya ini alarm bahaya bagi Jokowi-JK,''tutur Darmawan, mantan Ketua Senat Fisip UI

Lembaga rating Standard and Poor’s (S&P) memprediksi rupiah berpotensi melemah ke level Rp 15.000 per dollar Amerika Serikat (AS). Pengamat ekonomi Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menanggapi, dalam dua bulan terakhir nilai tukar rupiah memang mengalami guncangan yang cukup hebat.

Dari awalnya, rupiah berada di level Rp 13.300 per dollar pada awal Januari, kemudian terus terdepresiasi hingga Rp 13.800 per dollar pada awal Maret 2018. “Berbagai analis ikut dalam permainan gonjang-ganjing nilai tukar rupiah. Yang terbaru, lembaga rating internasional Standard and Poors (S&P) mengeluarkan rilis bahwa rupiah sangat berpotensi melemah hingga 15.000 per dolar,” ujar Bhima. (ff)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...