16 December 2017

Dakwah dan Politik Sebagai Poros, Serta Pentingnya “Geospatial” Kemasyarakatan

KONFRONTASI -  “Kalau urusan ekonomi itu jadi poros, tentu Rasulullah saw menyuruh Abu Bakar untuk mengurus Bilal. Nyatanya, Rasulullah sama sekali tidak memerintahkan hal itu. Tetapi Abu Bakar Ash-Shiddiq sendirilah yang berinisiatif untuk menolong Bilal.”

 
Demikian disampaikan oleh guru saya, Ustadz Ahmad Faiz, dalam sebuah diskusi di Semarang.
 
Kata-kata beliau itu saya beberapa hari memikirkannya. Tampaknya dalem sekali contoh yang beliau sampaikan itu. Sayidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, seorang sahabat yang sangat kuat secara ekonomi, sama sekali tidak mempertanyakan gerak dakwah Rasulullah, yang pada faktanya berfokus pada urusan dakwah dan politik. Tetapi langsung mengambil langkah nyata untuk meringankan beban orang-orang beriman (para pengikut Rasulullah) yang saat itu tertindas.
 
Seandainya mau, beliau bisa saja “menggugat” Rasulullah, “Dakwah kok kayak gini. Para jama’ah yang tertindas saja tidak dibebaskan. Dibiarkan saja dengan kesengsaraan dan kemalangannya.
 
Bagaimana nanti bisa optimal? Apalagi mau menakhlukkan Konstantinopel? 
 
Sudahlah…, sama seorang budak hitam yang dihajar tuannya saja tidak bisa apa-apa….” Beliau juga tidak menyatakan “Ada yang tercecer (tidak terurus) dalam perjuangan ini. Lalu bagaimana mau mengurus urusan umat secara keseluruhan, yang jauh lebih besar.”
 
Abu Bakar sama sekali tidak ngutak atik apa yang dilakukan Rasulullah. Kapasitas beliau yang cukup powerfull dalam ekonomi tidak beliau pakai untuk menyaingi gerak Rasulullah di Mekah, apalagi membelokkan gerak dakwah itu. 
 
Tetapi beliau menggunakan langkah-langkah yang berpijak pada kekuatan ekonomi itu untuk ngrewangi para pengikut Rasulullah agar lebih normal kehidupannya sehingga juga lebih normal dalam berdakwah.
 
ilustrasi
 
Jika kita katakan Rasulullah fokus dalam dakwah, kita semua paham. Tapi bagaimana dengan fokus di politik?
 
Kita ketahui bahwa dakwah Rasulullah bukan dakwah sembarangan. Bukan sekedar mengajak berdoa orang yang kesusahan. Bukan sekedar mengajak sedekah orang yang punya kelebihan. Bukan sekedar mengajak menata hati agar semua orang tenang menjalankan segala aktivitasnya dalam segala tatanan kehidupan yang ada. Tetapi dakwah untuk hanya ber-Tuhan kepada Allah SWT. 
 
Tak hanya ber-Tuhan secara spiritual tetapi mengkhianati dalam pelaksanaan aturan. Bukan demikian. Tetapi dakwah untuk ber-Tuhan kepada Allah SWT dengan bentuk ketaatan pada aturan Allah, tak hanya dalam aturan individu dan keluarga, namun juga dalam ketaatan dalam aturan kemasyarakatan.
 
Dan ini jelas beresiko tinggi. Ini bisa diartikan sebagai merombak tatanan masyarakat, memutus zona nyaman para pejabat, dan akhirnya akan mendapat cap sebagai melawan penguasa.
 
Tak hanya itu, ayat-ayat Al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah, yaitu surat-surat Makkiyah, bahkan secara terang-terangan mengecam tatanan baku di Mekah dan tokoh-tokoh Mekah sebagai pelaksananya. 
 
Mulai kecaman terhadap pengingkaran atas hari qiamat, kecurangan dalam jual beli, kebiasaan membunuh bayi perempuan, kesenjangan ekonomi antara yang kaya dan yang miskin dengan segala upaya untuk mempertahankannya, kebiasaan tokoh intelektual yang tidak mau tunduk pada kebenaran dari langit, dan semacamnya. 
 
Tak luput dari itu, tokoh-tokoh Quraisy, semacam Abu Lahab, Abu Sufyan, dan Walid bin Mughirah pun menjadi sasaran “serangan” Al-Qur’an.
 
Semua itulah yang sebenarnya menjadi dasar dari para ulama untuk menggambarkan aktivitas Rasulullah adalah aktivitas siyasah, yang kemudian kita dapatkan padanannya sebagai politik.
Maka sebagaimana pejuang politik, resiko skala tinggi pun juga dirasakan Rasulullah dan para sahabat.
 
Kita ketahui, boikot ekonomi selama tiga tahun dan penyiksaan para sahabat Nabi pun segera menghadang mereka. Di sini, Abu Bakar pun melangkah menolong Bilal. 
 
Sebuah langkah yang buat para penganjur gerakan ekonomi modern terasa sangat lugu dan wagu: memberi ikan, bukan memberi pancing. Karena fokus Abu Bakar memang bukan gerakan ekonomi, tetapi menggunakan kekuatan ekonominya untuk menopang para pendukung Rasulullah yang fokus dalam dakwah dan politik.
 
 
Ilustrasi
 
 
Yang penting kita catat di sini, sikap para sahabat secara umum adalah mengikuti gerak dakwah Rasulullah itu. Jika mereka punya kelebihan, mereka ngrewangi dengan kelebihan itu, bukan ngrecoki, untuk menggeser gerak dakwah Rasul menuju bidang yang mereka tekuni.
 
Tak beda dengan Abu Bakar, Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf juga bersikap sama. Mendermakan hartanya yang jika sekarang bisa bernilai puluhan miliyar rupiah untuk membantu Rasulullah. Bayangkan aja, ribuan unta dengan segala dagangannya.
 
Jika Abu Bakar, Utsman, dan Abdurrahman, menggunakan kekuatan ekonominya untuk menopang gerak dakwah dan politik Rasulullah, bagaimana dengan Sayidina Umar bin Khaththab?
 
Berbeda dengan beliau bertiga yang pendekar ekonomi, Sayidina Umar adalah pendekar kebijakan, jaringan, dan diplomasi. Maka begitu beliau masuk Islam, beliau segera menunjukkan sikap. 
 
Menegaskan bahwa saat itu beliau beriman kepada Islam dan siap membela dakwah Rasulullah, mengajak kabilahnya (Bani Makhzum, juga kabilahnya Abu Jahal) untuk beramai-ramai masuk Islam, dan langsung “bergaya Vladimir Putin terhadap Eropa” kepada para tokoh Quraisy: tunjukkan dulu kekuatan sebelum diplomasi. “Ini Umar bin Khaththab. Sekarang aku Islam !!!” begitulah saat beliau berhadapan dengan Abu Jahal, paman beliau.
 
Beliau menggunakan kapasitas beliau dalam kebijakan, jaringan, dan diplomasi untuk gerak dakwah dan politik Rasulullah. Bukan sebaliknya, membelokkan gerakan dakwah ke aktivitas yang bertumpu pada kebijakan, jaringan, dan diplomasi. 
 
Umar tidak berbelok untuk fokus ke gerak sosial, sebagaimana langkah-langkah LSM sekarang. Tetapi menggunakan kekuatannya dalam urusan sosial untuk dakwah Rasulullah.
 
Tak jauh berbeda dengan beberapa kasus di atas, adalah apa yang dilakukan Abu Dzar Al-Ghifari. Begitu beliau masuk Islam, maka dengan kekeilmuwannya yang masih sangat minim akan Islam itu beliau segera masuk ke tengah-tengah kaumnya.
 
Beliau tidak merecoki Rasulullah, misal dengan berkata, “Sukuku begitu banyak, lalu bagaimana bisa mereka semua masuk Islam, jika saya tidak diberi bantuan seorang aktivis dakwah yang sangat kompeten.” Namun, baliau segera sibuk mendakwahi mereka. Sampai suatu ketika Rasulullah berpapasan dengan Abu Dzar dengan banyak sekali orang dari sukunya. Mereka telah memeluk Islam.
 
Dengan kebiasaannya yang spontan, gamblang, terus-terang, dan los-losan dalam komunikasi, Abu Dzar menggunakan kemampuannya untuk dakwah Islam.
 
Pada akhirnya, jika kita membiasakan hal ini (menjadikan dakwah dan politik sebagai poros), hal ini akan menjadikan kita punya kebiasaan “memuliakan” aktivitas dakwah dan politik. Kita menggunakan segala hal yang kita punya untuk menunjang keduanya, bukan untuk membelokkan keduanya menuju aktivitas yang menjadi kebiasaan kita.
 
Islam tidak melarang aktivitas ekonomi dan upaya penyelamatan masyarakat melalui jalur ekonomi, tapi kalau dioptimalkan untuk mendukung dakwah dan politik, mengapa tidak?. Islam tidak melarang para aktivisnya kaya raya, tapi sebaiknya kekayaan, jaringan, dan sumber daya yang kita miliki, bisa kita siapkan sebagai daya dukung dakwah dan politik. Itulah kiranya bentuk sikap “memuliakan” itu.
 
Ilustrasi
 
 
Sebagai orang yang banyak membahas “utak-utik peradaban” kadang saya mendapat pertanyaan, mengapa saya justru banyak bicara hal itu, apa hal itu tidak mengganggu atau mengalihkan dakwah dan politik?
 
Ingin saya tegaskan di sini, bahwa saya ingin mempersembahkan apa yang saya biasa menjalani ini untuk dakwah dan politik juga. Tak beda dengan Abu bakar dan Utsman dengan hartanya, Umar dengan powernya di tengah masyarakat, Abu Dzar dengan kesigapan, ketanggapan, dan kecepatannya.
 
Mengapa saya menyampaikan bahwa ada tiga suku besar di Indonesia (bukan suku jawa –suku saya) yang sangat poitensial menjadi penyangga imaratul mukminin.
 
Mengapa ada satu angkatan (dari empat angkatan bersenjata dan kepolisian) yang paling siap menjadi tameng tegaknya imaratul mukminin, mengapa orang-orang yang biasa bersahaja hidupnya lebih poitensial menjadi penyangga dakwah.
 
Mengapa ada tiga provinsi di Indonesia yang sangat potensial menjadi pengkalan ilmu sekaligus jihad, mengapa bekas kerajaan Jenggala selalu menghasilkan orang-orang yang menjadi inspirator dan komunikator dakwah sebagaimana Mekah di masa lalu? 
 
Mengapa bekas kerajaan Kediri selalu menghasilkan orang-orang yang penuh perhitungan dan organisator handal sebagaimana Thaif di masa lalu? Semua itu bukan penghalang aktivitas dakwah dan politik, tetapi justru untuk mengoptimalkannya.
 
Itu ibarat hisab sebagai alat bantu rukyat. Bukan sebagai pengganti rukyat.
 
Atau itu ibarat pengatahuan tentang tanah, yang tentu bukan menghalangi pengetahuan tentang benih pohon. Jika kita ingin menanam pohon kebangkitan Islam, maka dakwah dan politik ibarat menanam pohon. Sementara utak-utik peradaban ibarat memahami tanah. Pohon yang bagus perlu ditanam di tempat yang sangat cocok dengan pohon itu. 
 
Perkara nanti setelah pohon itu besar akan kita kembangkan ke berbagai tempat, dan tempatnya tidak harus ideal, itu urusan lain. Pohon kebangkitan Islam itu harus segera tumbuh, sehingga tanah yang paling cocok untuk pohon itu harus benar-benar kita pikirkan dan dapatkan.
 
Jadi, belajar dari bidangnya Prof. Fahmi Amhar, pemahaman tentang utak-utik peradaban ini bisa kita katakan sebagai “geospatial” versi bidang kemasyarakatan. Geospatial perlu untuk jadi landasan berbagai program. Maka geospatial kemasyarakatan perlu untuk jadi pegangan dalam program kebangkitan Islam.
 
Betul bahwa kebangkitan islam bertumpu pada orang-orang yang terdakwahi, tercerahkan secara pemikiran. Tapi.., apa kita akan utamaklan dakwah pada orang yang suka hura-hura, kepada suku-suku yang begitu bangga dengan peradaban lama, kepada kekuatan yang terbiasa menikmati kucuran dana penjajah, dikomunikasikan orang yang tidak biasa bicara, diorganisir orang orang yang tidak biasa kolektif? Apa kita ingin menanam pohon mangga justru di daerah dingin dan tinggi? Inilah sebenarnya maksud “geospatial” versi kemasyarakatan (istilah gado-gado versi untuk kalangan sendiri.
 
Semua tetap bertumpu pada dakwah dan politik sebagai poros. Karena itulah sesungguhnya realitas menanam pohon kebangkitan Islam yang sebenar-benarnya. Dan itulah yang dicontohkan Rasulullah yang mulia dan para sahabat beliau. [KONF/MO]
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...