17 October 2019

Bukti Pemilu 2019 Kembali ke Orde Baru: Masyarakat Takut Bicara Politik

Konfrontasi - Hasil survei yang drilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan, sebagaian besar masyarakat mengaku takut bicara politik pasca kerusuhan 21-22 Mei.

Demikian disampaikan dalam rilis bertajuk ‘Kondisi Demokrasi dan Ekonomi Politik Nasional Pasca-Kerusuhan 21-22 Mei’ di kantornya di kawasan Cikini, Menteng, Jakarta, Minggu (16/6/2019).

Dalam surveinya tersebut, sekitar 43 persen responden menyatakan takut berbicara politik pasca kerusuhan 21-22 Mei 2019.

Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan dengan periode awal Joko Widodo (Jokowi) memimpin pada 2014 lalu yang hanya sebesar 17 persen.

“Saat ini ada peningkatan, itu menyebabkan publik takut untuk berbicara politik,” kata Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas.

Tren tersebut juga lebih jauh meningkat daripada periode kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2009 lalu.

Abbas mengatakan, pada era SBY hanya sebesar 16 persen masyarakat yang takut berbicara politik.

“Ini perlu kita catat bahwa saat ini ada tren kenaikan perasaan takut di masyarakat untuk berbicara politik. Ada penurunan kualitas,” katanya.

Kendati demikian, Ia mengatakan saat ini ada pula masyarakat Indonesia yang masih mau berbicara politik.

Dalam temuannya, sebesar 35 persen masyarakat Indonesia masih sering bicara politik.

Sedangkan, yang mengaku jarang bicara politik sebesar 25 persen, tidak pernah bicara politik sebesar 26 persen, selalu bicara politik 8 persen, dan tidak menjawab tujuh persen.

“Sebagian besar jarang bicara politik,” pungkasnya.

Di sisi lain, hasil survei juga menunjukkan bahwa sekitar 59 dari 1220 responden mengaku cukup puas dengan jalannya demokrasi selama ini dan tujuh persen yang mengaku sangat puas.

Di sisi lain, ada sekitar 26 persen responden yang menyatakan kurang puas, 4 persen mengaku tidak puas sama sekali dan 4 persen sisanya tidak menjawab.

Untuk diketahui, survei SMRC ini digelar dengan responden warga yang berusia 17 tahun atau lebih atau yang sudah menikah dalam rentang waktu 20 Mei-1 Juni 2019.

Metode survei yang digunakan adalah multistage random sampling dengan 1220 responden dengan 107 atau 88 persen diantaranya dapat diwawancarai secara valid.

Sedangkan margin of error kurang lebih 3,05 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. (pjk1/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...