25 August 2019

BNP2TKI Disorot KPK, Nusron Wahid Layak Diganti

KONFRONTASI - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyoroti kinerja Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI).

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan membeberkan, banyak kasus korupsi dalam penempatan TKI di luar negeri. Kasus-kasus yang berhubungan dengan korupsi itu khususnya dalam pelaksanaan, mulai dari rekrutmen, pembuatan dokumen, penempatan, sampai penyeberangan kembali. Ada penyuapan, pemerasan, hingga gratifikasi.

"Tahun 2015, KPK dan Bareskrim sudah lakukan semacam sidak (inspeksi mendadak). Apakah pemerasan sudah habis? Sampai sekarang kok rasanya belum," katanya kepada wartawan beberapa waktu lalu, Jumat (9/9).

Basaria menambahkan, pemerasan, suap dan gratifikasi menjerat TKI hingga tidak dapat menikmati hasil kerja kerasnya. Pendapatan paling banyak justru diperoleh orang-orang yang bermain dalam penempatan, daripada TKI itu sendiri.

Menanggapi temuan KPK tersebut, pengamat perburuhan dari FEB Universitas Padjajaran dan Universitas Porto di Portugal AK Supriyanto berpendapat memang selayaknya Presiden Joko Widodo segera mencopot Kepala BNP2TKI Nusron Wahid.

Menurutnya, selain alasan yang diungkapkan KPK, Nusron juga sekarang tim sukses Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok untuk Pilkada DKI Jakarta 2017.

"Urusan TKI memerlukan orang yang jiwa dan badannya memang di situ. Ia harus memiliki keakraban dengan isu perlindungan tenaga kerja Indonesia atau perburuhan," ujarnya.

Supriyanto mengingatkan, ada 27 TKI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal di Malaysia selama Agustus 2016. Belum lagi persoalan rental TKI di Saudi Arabia yang disebabkan penutupan pengiriman TKI informal sehingga terjadi kelangkaan pekerja dalam sektor tertentu.

"Hal-hal tersebut nyaris tidak direspon dengan sigap oleh BNP2TKI. Karena itu, jabatan kepala BNP2TKI lebih baik diisi figur non partai sehingga lebih fokus," kritiknya.

Supriyanto pun mengusulkan sembilan nama yang cocok menjabat kepala BNP2TKI, yaitu Anis Hidayah (pegiat, Migrant Care), Wahyu Susilo (pegiat, Migrant Care), Nuryati Solapari (akademisi Untirta), Maizidah Salas (pegiat, SBMI), Berti Sarova (pegiat SBMI), Nurul Qoiriyah (profesional, IOM), Ulin Niam Yusron (relawan dua jari), Hendrik Dikson Sirait (relawan Almisbat), dan Wibowo Arif (relawan sosmed).[ian/rm]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...