21 October 2018

Belum Ada Prestasi Berarti, IPK Pemerintahan Jokowi-JK Masuk Kategori 'Nasakom'

KONFRONTASI-Pemerintahan presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla masih belum menorehkan prestasi selama enam bulan memimpin negeri ini, terutama bagi kelompok kelas terbesar Indonesia, yaitu buruh dan petani.

"Jika penilaian kinerja dan prestasi Jokowi dibaratkan seperti penilaian prestasi belajar mahasiswa di universitas maka nilai Indeks Prestasi Kumulatif (Standar 4) Jokowi  masuk katagori Nasakom (Nasib Satu Koma) atau tidak memenuhi standar," ujar Wakil Ketua Umum, Partai Gerindra Arief Poyuono di Jakarta, Jumat (17/4).

Dikatakannya, prestasi minim tersebut tergambar dengan Daya beli buruh tani turun akibat inflasi di perdesaan yang tinggi akibat kenaikan harga BBM, Gas 3 KG dan harga Beras serta barang barang komsumsi yang dihasilkan dari impor akibat ambrolnya nilai kurs rupiah terhadap US Dollar

"Sekalipun gaji atau pendapatan buruh dan petani mengalami kenaikan secara angka-angka tetapi secara riil upah kelompok masyarakat itu turun," jelasnya.

Menurutnya, selama semester pertama pemerintahan Jokowi telah berhasil menurunkan tingkat kesejahteraan buruh dan tani, menaikkan angka kemiskinan bagi kelompok Masyarakat yang berpenghasilan di bawah penghasilan Buruh dan Tani.

"Akibat dana APBN yang dialokasikan untuk subsidi BBM dialihkan ke Penyertaan Modal Negara (PMN) BUMN dan Rencana Pembangunan Infrastruktur yang tidak jelas tersebut telah meyebabkan penurunan upah buruh tani. Pada Maret 2015 secara nominal upah buruh naik 0,26% dari bulan sebelumnya menjadi Rp46.180 per hari. Namun secara riil, upah turun 0,21% menjadi Rp38.522 per hari," ungkapnya.

Dalam menstabilkan harga bahan pokok di pedesaan akibat kenaikan biaya transportasi telah meyebabkan Peningkatan nilai Inflasi perdesaan 0.48 persen. Hal ini berakibat cost of living di pedesaan menjadi mahal dan bisa memicu pengangguran. Akibatnya banyak UKM tutup serta berdampak pada urbanisasi. Pasalnya, relative cost of living di perkotaan lebih rendah yaitu 0,17 persen.

Sementara itu, untuk upah harian buruh konstruksi secara nominal dan riil masing-masing mengalami kenaikan sebesar 0,73 persen dan 0,56 persen.

"Rata-rata upah nominal buruh seluruh industri pada triwulan IV-2014 meningkat sebesar 1,11 persen dibanding triwulan III-2014 yaitu Rp2.153.400 menjadi Rp2.177.400. tidak berpengaruh pada peningkatan kesejahteran buruh serta tidak dapat meningkat daya beli akibat inflasi yang tidak dapat ditekan oleh pemerinthaan Jokowi," tambahnya

Justru dengan nilai Nasakom yang didapat oleh Jokowi dalam mensejahterakan Buruh telah berdampak ketidakmampuan buruh Untuk menyisihkan penghasilanya untuk ditabung, justru yang terjadi Buruh Banyak yang terlilit hutang oleh pinjaman komsumtif dari bank dengan bunga rata rata hingga 30 persen pertahun akibat melalui pihak kedua.

"Jokowi harus mengevaluasi tim ekonominya yang bisa diterima dan percaya pasar, mampu memberantas mafia impor migas untuk menurunkan biaya transportasi yang menjadi Salah satu penyebab tingginya inflasi," pungkasnya. [mr/akt]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...