19 December 2018

Belajar Tau Diri Dari Bang Ali - Sketsa Ringan Akhir Pekan

KONFRONTASI -

Oleh Arief Gunawan, Wartawan Senior


SEKARANG ada satir dan olok-olok di masyarakat, katanya jalan by pass untuk jadi menteri adalah dengan jadi terdakwa penista agama seperti Ahok.
Integritas moral tidak penting. Walaupun sudah jadi common enemy dan tersangkut kasus hukum tapi kalau pencitraan di media bagus, ada hopeng, dan ada fulus demi kepentingan para taipan, maka bisa lolos ke kabinet.

Bang Ali waktu pensiun dari jabatan gubernur usianya baru 51.
Amir Machmud yang urang Sunda yang waktu itu jadi Menteri Dalam Negeri bertanya:
‘’Pak Ali bade ka mana?...’’.
Maksudnya Ali Sadikin mau jabatan apa.
Bang Ali menjawab:
‘’Saya mau ke masyarakat’’.
‘’Lho leres?’’
‘’Iya.’’ kata Bang Ali.

Waktu ketemu (menghadap) Soeharto di Bina Graha setelah serah terima jabatan gubernur 11 Juli 1977, Bang Ali tidak minta apa-apa, meskipun sangat memungkinkan untuk jadi pejabat lagi. Menurut cerita, Soeharto sudah dapat laporan dari Amir Machmud.
Waktu itu Bang Ali masih militer aktif dengan pangkat bintang tiga marinir. Sudah mencapai top, dengan dua jabatan sipil sangat penting yaitu menteri dan gubernur Jakarta dua periode. Waktu jadi Menko Maritim usia Bang Ali baru 37.

Setelah pensiun dari gubernur Bang Ali memilih jadi orang biasa. Hidup dari hasil sewa menyewa rumah.
Istri pertama Bang Ali, mendiang Nani Sadikin, seperti sering dibanggakan oleh Bang Ali sendiri, adalah anak orang kaya dengan banyak warisan antara lain berupa tanah dan berprofesi dokter gigi.
Ayah Bang Ali anak wedana, jabatannya kepala pertanian di Sumedang. Kakak tertua Bang Ali, dr Hasan Sadikin, namanya diabadikan jadi rumah sakit di Bandung. Walaupun berdarah menak Bang Ali tidak feodal malah waktu kecil suka berantem dengan anak bupati.
Bang Ali sangat menyayangi ibunya yang berdarah Banten.
‘’Face saya seperti ibu.’’ katanya.
Bang Ali masuk Angkatan Laut.
Waktu perang PRRI/Permesta Ali Sadikin jagoan tempur dikenal dengan gaya Holywood-nya, yaitu mimpin pendaratan pasukan sambil pegang stan-gun, lari menyerbu sambil menembak.
Tapi Bang Ali juga orang yang romantik. Waktu jadi gubernur dia memikirkan tempat supaya muda mudi Jakarta bisa berpacaran atau ber-rendezvous secara sehat. Makanya Bang Ali bikin Taman Monas dan Taman Ria Senayan.
‘’Saya melarang orang yang lagi pacaran diganggu. Kalau you masuk kampung; satu kamar berjejal dari kakek, nenek, sampai cucu, dimana mau pacaran? Halaman tidak ada, yang ada gang satu meter. Ini saya hayati, berikan tempat untuk berhibur. Bagaimana sengsaranya hidup rakyat jelata di Jakarta,’’ kata Bang Ali.

Suatu ketika Bang Ali ditanya wartawan bagaimana dia tampil di depan umum setelah tidak jadi pejabat, katanya nikmat dan plong. Kemana saja pergi orang masih menyambut dengan baik. Sopir-sopir masih suka lari-lari jadi penunjuk parkir. Biarpun sudah tidak pakai safari, tidak pakai ajudan, tapi orang masih menghormati.

Kenapa itu bisa terjadi? Tanya wartawan. Kata Bang Ali karena waktu menjabat dia memegang amanat rakyat, tidak macam-macam, anak-anak dan keluarganya tidak memanfaatkan fasilitas. Bang Ali merasa hidupnya ringan dan bebas, dan punya kemampuan untuk mengatakan putih adalah putih, hitam adalah hitam.

Bang Ali didorong-dorong masuk ke sistem, diopinikan sebagai calon presiden dan masuk partai politik. ‘’Percuma saja saya masuk, sistemnya sudah rusak. Kalau di dalam, pasti saya terbawa banjir,’’ tandas Bang Ali. ***(TweetLonger)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...