14 October 2019

Banyak Pertanyaan Tersisa: Polemik Rio Tinto di Tambang Freeport dan Ini Sejarahnya

KONFRONTASI -   Banyak pertanyaan tersisa pasca-ditandatanganinya Head of Agreement (HoA) antara PT Inalum (Persero) dan Freeport McMoran, pekan lalu. Salah satunya adalah tentang kehadiran Rio Tinto yang dinilai tiba-tiba muncul dan mengapa harus membeli lewat hak partisipasinya?

Awal Munculnya Rio Tinto 
Direktur PT Inalum (Persero) Budi Gunadi Sadikin dalam pertemuan terbatas di kantornya, Selasa (17/7/2018), membeberkan panjang lebar asal muasal Rio Tinto terlibat dan bagaimana mengatasinya. 

Budi menjelaskan hadirnya Rio Tinto sudah lama di Freeport, meski tim negosiasi baru mengetahuinya belakangan ini. "Mulainya tahun 1995, Rio Tinto tanda tangan dengan Freeport McMoran (FCX) untuk pembiayaan investasi di Grasberg, lalu kemudian isitilah mudahnya ini diijon oleh Freeport," kata Budi. 
 


Tahun 1996, perjanjian antara Freeport McMoran dan Rio Tinto itu diubah menjadi perjanjian lokal. "Ini diminta oleh pemerintah Indonesia, yang saya lihat suratnya disetujui oleh Menteri ESDM dan Menteri Keuangan," jelasnya.

Berdasar penelusuran CNBC Indonesia, dokumen tersebut saat itu diteken oleh Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana dan Direktur Jenderal Pertambangan Umum, Kuntoro Mangkusubroto. 

Di laporan keuangan PTFI disebut Rio Tinto menyuntik investasi US$ 75 juta untuk menggarap tambang Grasberg. Untuk investasi itu, Rio Tinto kemudian mendapat hak partisipasi 40%. Hingga 2017, total investasi yang telah dikucurkan Rio Tinto mencapai US$ 166 juta.
 

Tapi benarkah hanya sebesar itu, sampai-sampai Freeport rela ijon dengan Rio Tinto?
PT Freeport Indonesia pernah menyebut bahwa untuk investasi tambang bawah tanah hingga 2041, diperlukan investasi sebanyak US$ 20 miliar. "Kalau 20 tahun saja butuh Rp 20 miliar, tampaknya investasi Rio Tinto di Freeport bisa kisaran segitu atau lebih," jelas Budi. 

Lalu, mengapa RI wajib beli saham Rio Tinto?
Budi menjelaksan di PT Freeport Indonesia (PTFI), ada yang namanya Equity Interest dan ada Economic Interest.

Untuk equity interest, komposisinya adalah: 
a. 9,36% pemerintah Indonesia
b. 90,64% Freeport McMoran (induk dari PTFI, di dalamnya termasuk saham Indocopper Investama yang sudah dibeli oleh Freeport)

Sementara untuk economic interest, karena ada perjanjian antara Freeport dan Rio Tinto, di mana setiap produksi yang dihasilkan dari tambang Grasberg harus dipotong terlebih dulu sebesar 40% untuk Rio Tinto. Jadi komposisinya sebagai berikut:

Rio Tinto 40%, sementara sisa 60%nya dibagi untuk PTFI dan Pemerintah Indonesia. Jadi, porsi 9,36% yang dimiliki Indonesia sebenarnya adalah 9,36% dari 60% hasil produksi. 

Baca:
Blok Mahakam Bisa Gratis, Kenapa RI Harus Bayar di Freeport?

Sehingga komposisi economic interest menjadi sebagai berikut:
a. Rio Tinto 40%
b. PT Freeport Indonesia 54,6%
c. Pemerintah Indonesia 5,4%

Nah, PT Freeport Indonesia membuat perjanjian di mana hak partisipasi Rio Tinto 40% ini setelah 2022 akan dikonversi menjadi saham. Sehingga makin kompleks-lah hubungan segitiga antara Freeport, Rio Tinto, dan Indonesia. 

Kerumitan ini pun diakui oleh Direktur PT Inalum (Persero) Budi Gunadi Sadikin. "Ada saham, ada participating interest. Ada dua periode, 2018-2022, terus 2022-2041, jadi banyak," jelasnya.

Menurut Budi, ketimbang didiamkan dan nanti begitu Indonesia jadi pemegang saham mayoritas tanpa akuisisi Rio Tinto, risikonya begitu dapat hasil tambang tidak langsung jatuh ke Indonesia terlebih dulu, tapi dipotong 40% untuk Rio Tinto. "Kalau langsung masuk dari PT Freeport Indonesia dapatnya cuma 31%," tambahnya.

Baca:
Kesepakatan Awal RI-Freeport Dinilai Ganjil, Benarkah?

Terakhir adalah, bagaimana mekanisme transaksi hak partisipasi Rio Tinto ini oleh Inalum?
Dalam Head of Agreement yang diteken antara PT Inalum (Persero) dan Freeport , setidaknya tiga langkah dibutuhkan sampai RI pegang 51% saham tambang. 

Tiga langkah ini nantinya dieksekusi oleh PT Inalum (Persero), selaku induk perusahaan tambang BUMN. 

1. Langkah pertama adalah RI harus membeli hak partisipasi PT Rio Tinto Indonesia (RTI) sebesar 40% yang ada di tambang Grasberg milik PTFI. Pembelian saham dilakukan secara tunai oleh pemerintah kepada Rio Tinto.

2. Setelah Inalum membeli hak partisipasi Rio Tinto, nantinya dikonversi menjadi saham di PT Freeport Indonesia. Agar besaran sahamnya terukur, PT Freeport Indonesia akan melakukan rights issue.

Akibat dari transaksi ini akan terjadi dilusi saham, kepemilikan Indonesia yang semula sebesar 9,36% menjadi 5,6%. Sementara Rio Tinto jadinya memiliki saham sebesar 40%, yang kemudian menjadi saham milik pemerintah RI.

Baca:
Akuisisi Saham Freeport Disebut Hanya Pencitraan, Benarkah?

Totalnya, dari dua transaksi ini RI memiliki saham di PTFI sebesar 45,6%. Sementara untuk divestasi saham yang diperlukan agar jadi mayoritas adalah 51%. Artinya, RI tinggal butuh 5,4% saham. Di sinilah masuk ke transaksi ketiga.

3. Inalum membeli saham Freeport McMoran sebesar 5,4% supaya menjadi 51%. Transaksi ini dilakukan dengan cash atau pembayaran tunai. Di sinilah RI bakal membeli saham Indocopper yang ada di Freeport dengan harga US$ 350 juta. 

Total uang yang dibutuhkan untuk transaksi ini senilai US$ 3,85 miliar. "US$ 3,5 miliar itu ke Rio Tinto. Yang ke Freeport-nya US$ 350 juta. Ini deal-nya, ada Freeport, Rio Tinto, dan kita," terang Budi.

Head of Agreement ini merupakan langkah awal, sejak ditekennya HoA ini diberikan jangka waktu maksimal 60 hari untuk setiap pihak menyelesaikan transaksi yang disepakati.
Baca:
Kesepakatan Diteken, Nilai Akuisisi Freeport Rp 53 T.(KONF/CNBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...