29 April 2017

Banjir Orang Tiongkok ke Indonesia: Efek Kerjasama China Sonangol Land, dan Media Group milik Surya Paloh?

KONFRONTASI- Tak cuma modal dan barang China yang kini membludak di Indonesia, tapi juga orangnya. Ini karena China sukses menggaet berbagai proyek infrastruktur, dan mengandalkan buruh yang dibawa sendiri dari negaranya. China Sonangol Land, yang bekerja sama dengan Media Group milik bos Nasdem, Surya Paloh, membangun proyek raksasa Gedung Bintang 5 alias Indonesia-1 untuk mereka.

Orang-orang China daratan, baik yang resmi atau pendatang gelap, kini bertebaran di kota-kota besar dan di sekitar proyek-proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh kontraktor China. Pekerjaan mereka macam-macam. Ada yang cuma jadi kuli bangunan, pedagang kaki-lima, pelacur, pembunuh bayaran, sampai bandar Narkoba.

Bisa dipastikan, jumlah pendatang baru dari China bakal makin mencolok mata bila rencana pemerintah China mengirim 10 juta tenaga kerja Indonesia menjadi kenyataan. Masalah baru pun bakal muncul karena sekarang saja angka pengangguran naik secara konsisten. Menurut catatan BPS, jumlah pengangguran pada Februari 2015 adalah 7,45 juta orang, tertinggi sejak Agustus 2012!

Tak berlebihan pula bila ada yang khawatir bila hal itu bisa membuat kecemburuan sosial terhadap suku Cina-Indonesia kian memuncak. Betapa tidak, menjamurnya komplek-komplek pemukiman, pusat perbelanjaan, dan mobil mewah membuat kesenjangan ekonomi antara pribumi dan non-pribumi kian kasatmata.

Salah satu kawasan pemukiman berkelas dunia yang didanai oleh China adalah BSD City. Taman hiburan, gedung pertunjukan, pusat perbelajaan, fasilitas olah raga, dan taman yang semuanya berkelas dunia. Proyek ini adalah buah kerjasama antara Sinar Mas Land dengan Hongkong Land Holdings Ltd. Sedangkan salah satu penyandang dana utamanya adalah dua bank BMUN hCina: Development Bank of China, dan ICBC.

Proyek prestius lain yang tampaknya didanai oleh bank BUMN China adalah Gedung Indonesia-1, yang akan menjadi bangunan tertinggi di Indonesia. Mei lalu, peletakan batu pertama pembangunan gedung Bintang 5 ini dilakukan oleh presiden Jokowi. Pemilik utama gedung setinggi 303 meter dan bernilai Rp 8 triliun ini adalah China Sonangol Land, yang bekerja sama dengan Media Group milik bos Nasdem, Surya Paloh. Di dalam pencakar langit ini terdapat pusat perkantoran, apartemen, pusat belanja, dan berbagai restoran yang hanya diperuntukkan masyarakat kelas atas.

Maka tak perlu seorang jenius untuk mengatakan bahwa proyek Sonangol dan Sinar Mas seperti di atas akan memperlebar jarak sosial dan ekonomi antara pribumi dan non-pribumi. Sejauh tak terjadi resesi ekonomi, yang menyebabkan PHK massal dan harga-harga barang naik berkali lipat, masalah jarak ini tak akan menjadi persoalan serius. Suatu saat kelak, bila tiba-tiba perekonomian Indonesia dihantam resesi dan super inflasi seperti tahun 1997 dan pertengahan tahun 1960-an, persoalannya tentu bisa sangat berbeda.

Dalam hal ini tak ada salahnya bila berkaca pada Malaysia untuk mencegah berulangnya kerusuhan anti Cina yang terjadi pada 1969. Bentrokan berdarah ini dipicu oleh kecemburuan sosial yang dilatarbelakangi oleh kemiskinan demikian meluas di kalangan bumiputra. Agar tak terulang, pada 1971, pemerintah Malaysia memberlakukan New Economic Policy (NEP).

Ketika NEP diumumkan, Malaysia diperintah oleh ketika itu pemerintah Malaysia dikuasai oleh koalisi Perikatan yang terdiri dari United Malay Nation Organization (UMNO) sebagai wakil kubu bumiputra, Malaysia Chinese Association (MCA) dan Malaysian Indian Congress (MIC). NEP memberi berbagai hak istimewa kepada kaum bumiputra untuk mengejar ketertinggalannya dari kaum Cina dan India. Hak tersebut antara lain pemerian jatah saham di perusahaan-perusahaan, bantuan keuangan dari pemerintah, pengelolaan BUMN, dan pengerjaan proyek-proyek pembangunan.

Sejak pemberlakuan NEP, meski masih tersisa berbagai masalah rasial dan agama, kerusuhan rasial seperti tahun 1969 tak pernah terjadi lagi di Malaysia. Hal ini jelas berbeda dengan Indonesia. Meski telah berulangkali mengalami kerusuhan rasial, sampai sekarang pemerataan ekonomi hanya tampak hebat di atas kertas. Maka tak sulit membayangkan, bila modal dan arus masuk orang Cina daratan kian tak terbendung. Hayo bayangkan sendiri! (konfrontasi/http://indonesianreview.com)

Category: 

loading...


News Feed

Berita Lainnya

loading...