31 March 2020

Alex Usman, Ahok dan UPS yang Meletup: Polda Metro Jaya Sita Duit Rp.1,5 milyar

KONFRONTASI-Usai memeriksa dua saksi, yaitu mantan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman dan salah satu direktur perusahaan pemenang tender pengadaan UPS, yaitu CV Sinar Bunbunan, Yunus Manalu. penyidik dari Polda Metro Jaya menyita uang sebesar Rp.1,5 milyar. Uang tersebut diduga terkait dengan kasus dugaan korupsi pengadaan alat uninterruptible power supply (UPS) di sekolah-sekolah di DKI Jakarta. Kasus ini sudah ditingkatkan dari penyelidikan menjadi penyidikan.

Siapa Alex Usman?

Nama Alex Usman mencuat seiring perkembangan pemberitaan kasus alat UPS untuk sekolah-sekolah di DKI. Dia diduga memiliki peranan besar dalam pengadaan UPS untuk sekolah di wilayah Jakarta Barat pada tahun 2014.  Jakarta Barat menjadi wilayah yang sekolahnya mendapat UPS terbanyak. Proyek ini bernilai hampir Rp 152 miliar dan dikerjakan oleh 26 perusahaan, yang masing-masing perusahaan rata-rata mengerjakan pengadaan tersebut dengan nilai kontrak lebih dari Rp 5 miliar. Sebanyak 25 sekolah baik SMA maupun SMK memperolah alat tersebut. Alex pada saat itu berperan sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) yang mengetahui jelas soal pengadaan UPS di tiap-tiap sekolah.

Awal tahun 2015, tepatnya tanggal 2 Januari 2015, bersamaan dengan lelang jabatan Pemerintah Provinsi DKI, Alex yang dianggap berhasil di Jakarta Barat, dipindah menjadi Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Pendidikan 2 Jakarta Selatan. Baru dua bulan Alex  menjabat, dalam APBD tahun 2015 ditemukan pula penambahan anggaran pada Sudin Pendidikan II Jakarta Selatan. Penambahan itu adalah pengadaan UPS untuk SMPN 37 senilai Rp 6 miliar, pengadaan UPS SMPN 41 senilai Rp 6 miliar, alat peraga elektronika mikro-kontrol untuk SMA senilai Rp 3 miliar, professional outdoor audio system (IPM) senilai Rp 4,5 miliar, pengadaan laboratorium multifungsi untuk SMAN Kecamatan Ciracas senilai Rp 4,44 miliar, dan pengadaan laboratorium multifungsi untuk SMAN Kecamatan Kramat Jati senilai Rp 4,44 miliar.

Keluarga Alex Usman dikenal memiliki banyak perusahaan. Salah satu anak Alex, Rina Aditya Sartika adalah pengusaha sukses. Perusahaan yang sudah dibangun Rina setidaknya ada tiga, yakni PT Four A dan PT Quatek yang bergerak di bidang alat teknologi serta alat peraga pendidikan yang berbasis pada teknologi terbaru. Sementara, satu perusahaan lainnya ada PT Asri Cahaya Gemilang. Selain itu, Rina juga dikabarkan pemegang saham pada Harian Terbit. Putri Alex ini juga menjadi anggota DPRD DKI dari Fraksi Partai Gerindra, partai tempat Ahok dulu bernaung dan partai utama yang mengusungnya berpasangan dengan Jokowi menjadi calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakara.

Jejak Rina di buku Trilogi Ahok

Penulis dua buku trilogi Ahok, Djono W Oesman, mengunggah salah satu sampul buku yang ia tulis di akun Facebook-nya. Di sampul buku itu jelas tertulis, yang menerbitkan buku tersebut adalah Harian Terbit. Sementara itu, seperti yang tertera dalam boks pengasuh harian tersebut, pemegam saham media itu adalah Rina Aditya Sartika,

Di edisi online media itu juga masih ada semacam iklan/banner tentang Ahok, yang bila diklik berisi kumpulan tulisan tentang Ahok yang dimuat media tersebut. Unuk dua buku yang ditulis, seperti diinformasikan temannya, Djono W Oesman hanya menerima kurang dari Rp 250 juta. Itu pun baru dibayar uang mukanya.

Buku trilogi Ahok tersebut ternyata muncul pula pada APBD 2015 di pos anggaran Dinas Pendidikan DKI Jakarta dengan nilai yang fantastis yakni Rp 30 miliar. Ketiga buku itu berjudul Nekad Demi Rakyat dengan pagu anggaran Rp 10 miliar, Dari Belitung Menuju Istana senilai Rp 10 miliar, dan Tionghoa Keturunanku, Indonesia Negaraku dengan nilai Rp 10 miliar. Ahok sendiri mengaku terkejut ada namanya dalam proyek APBD 2015 dan menganggapnya fitnah.

Benarkah Ahok tidak mengetahui akan diterbitkannya buku-buku itu?. Bukankah sebagai sosok yang perjalanan hidupnya akan dituangkan ke dalam sebuah buku harusnya ia diwawancarai berkali-kali, mengingat Ahok masih hidup?.

Ketua DPRD DKI Jakarta, Muhammad Taufik berpendapat lain. Ketua DPD DKI Partai Gerindra ini tidak percaya Ahok tidak tahu.

“Kalau soal buku sederhana, misalnya saya mau buat buku, logikanya kan Anda mesti lapor ke saya, karena datanya kan ada di saya. Itu aja kira-kira itu analoginya.”

Taufik juga menepis kemungkinan penulisan buku dari sumber lain.

“Nggak mungkin dong. Kalau saya digituin, saya sue orangnya. Gimana Anda bikin buku saya, tanpa ada data dari saya. Pasti, waktu saya mau kampanye orang mau nulis buku tentang saya, datang dulu bahwa dia mau nyari data dari teman saya apa itu, silakan, itu urusan dia. Tetapi, dia mesti ngomong dulu. Izin soalnya itu menyangkut diri kita”.

“Kalau mau nulis buku biografi orang itu, ya atau apa, izin dulu, nanya dulu, ‘pak saya mau bikin buku tentang bapak ya’. ‘Tentang apa?’. ‘Tentang ini, tentang ini’ “, imbuh Taufik.

Taufik meyakini bahwa dibalik skandal buku ini, tersimpan obsesi seorang Ahok.

“”Mau jadi Presiden kali, saya enggak tahu ya. Ya, buktinya buku itu judulnya dari Belitung ke Istana. Saya sih bacanya seperti itu”.

Apa boleh buat, ribut-ribut APBD ternyata menyeret orang dekat dan keluarga pengagum  Ahok sendiri.(R Amri, Kompasioner/KCM)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...