19 June 2019

Ahok dan Arus modal RRC serta Isu China di Indonesia

KONFRONTASI- Kasus Ahok telah membelah masyarakat kita ke dalam dikotomi pri dan nonpri, Cina dan bumiputra karena relasi politik dan agama sangatlah sensitif, berdampak multiplikasi dan rentan-riskan di Indonesia. Apalagi derasnya arus investasi yang masuk dari China (RRC) ke Indonesia menimbulkan kekhawatiran bagi banyak kalangan. Karena kedaulatan negara bisa terancama kalau sampai banyak proyek strategis dibangun oleh negara komunis Tirai Bambu yang sangat kapitalis tersebut.

Dalam diskusi "Ancaman Komunisme China Raya dan Bahaya Politik Kartel Keturunan, Fakta atau Ilusi" yang digelar Qomando Masyarakat Tertindas (Qomat) di Kampus Sekolah Tinggi Ekonomi dan Perbankan Islam (Stebank) Islam Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Jalan Kramat Pulo, Johor Baru, Jakarta Pusat, (Kamis, 5/1/16),  saya, Muslim Arbi, menekankan bahaya komunisme China yang sangat kapitalis dan ekspansionis itu..

Hadir sebagai pembicara pakar politik internasional, DR. Muchtar Efendi Harahap; dua pengamat politik Muslim Arbi dan Suaib Didu, Jubir Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI), Munarman dan Ketua Qomat Faedurrohman.

Di antara beberapa proyek yang akan dikerjakan China di Indonesia adalah membangun 24 pelabuhan, 15 bandara, dan 8.700 Km jalur kereta listrik. Saat ini Indonesia lebih real kerja sama dengan negara China. China akan memperoleh hak pelabuhan laut dan udara. Negara akan tergadaikan martabat NKRI di mata dunia tidak dihargai.

Celakanya, derasnya arus investasi yang masuk disertai dengan membanjirnya tenaga kerja asing asal China ke Indonesia. Bahkan, banyak yang sudah ditangkap karena ternyata ilegal. Hal ini merupakan persoalan yang serius.

Kondisi bahwa tenaga kerja asing (TKA) asal China semakin memantapkan fakta bahwa China benar-benar menjadi ancaman serius bagi bangsa Indonesia.

Kita mengingatkan Pemerintah jangan sampai tergiur dengan berbagai tawaran yang ujung-ujungnya akan merugikan bangsa Indonesia. Karena itu Pemerintah harus tegas berani untuk memutus hubungan kerja dengan pihak China. "Kalau tidak, akan merongrong dan meruntuhkan NKRI," tegasnya.

Apalagi, ekonomi Indonesia sendiri saat ini dikuasai oleh kalangan Cina keturunan. Saat ini banyak proyek yang digarap oleh warga keturunan Cina.

Salah satunya proyek reklamasi teluk Jakarta. Oleh pengamat dan ahli, proyek tersebut tidak ada beneifit sedikit pun bagi bangsa Indonesia. Yang ada justru proyek tersebut untuk menampung jutaan orang  China.

Dalam diskusi itu, saya ingat, para pembicara mengkhawatirkan besarnya investasi dan banyaknya TKA asal negara tersebut di Indonesia menjadi celah untuk mengembangkan komunisme, ideologi terlarang di Tanah Air.

Hal ini menegaskan negara sudah dibawah kekuasaan aseng/RRC.  Kita khawatir, mereka kirim virus tanaman (proxy war). Dan tidak dimungkinkan mengirimkan Tentara Merah (tentara Cina). Saat ini Pemimpin tidak membela bangsa dan Negara. Bisa jadi adanya kerjasama dengan China, kebangkitan komunis akan kembali di tanah air, dari sisi ekonomi, ideologi dan politik.
 
Catatan Muslim Arbi, pengamat politik, anggota KAHMI dan  mantan aktivis HMI  jebolan Masjid Salman ITB
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...