26 April 2018

Abraham Samad Usul Parpol Miliki Keseragaman Kode Etik

Konfrontasi - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad menilai partai politik perlu memiliki keseragaman kode etik dan menerapkan akuntabilitas agar terhindar dari perilaku menyimpang oknum-oknum anggotanya.

“Pertama saya tetap concern bahwa saya ingin mendorong partai politik ya untuk membuat secara baku code of conduct (kode etik), dan kedua harus ada akuntabilitas pengelolaan di lingkungan partai,” kata Abraham saat diskusi di Jakarta Pusat, Sabtu (17/3/2018).

Kenapa dua hal itu dianggap penting oleh Abraham? “Kalau kita punya code of conduct yang baku maka proses rekrutmen, proses seleksi itu bisa berjalan sebagaimana mestinya,” ujar dia.

Menurut Abraham, proses seleksi rekrutmen beberapa parpol, terutama dalam Pilkada 2018, menimbulkan permasalahan. Terbukti, banyak calon kepala daerah peserta Pilkada 2018 tersangkut kasus korupsi.

“Kenapa proses seleksi rekrutmen seperti sekarang ini orang bermasalah bisa lolos begitu saja dicalonkan oleh partai politik? Karena partai politik tidak punya code of conduct. Kalau sudah terjadi sesuatu baru diadakan sanksi oleh aturan-aturan yang tertera. Tapi dia harus punya code of conduct kalau kita ingin membuat suatu proses rekrutmen dengan seleksi yang baik,” imbuhnya.

Abraham mengungkap, berdasarkan hasil survei sewaktu ia menjabat Ketua KPK, 90 persen pelaksanaan Pilkada tidak berlangsung bersih. Kondisi itu karena dikotori praktek money politic yang bahkan sudah permisif saat Pilkada.

“Kalau Pilkada kita berlangsung tidak fair maka yang terpilih adalah orang-orang yang bermasalah. Kalau terpilih orang orang bermasalah bagaimana kita bisa berharap pemimpin ini bisa melakukan hal yang begitu baik, bisa menciptakan pemerintahan yang bersih di daerahnya,” ucapnya.

Ata situ, ia berpesan kepada masyarakat agar memilih calon kepala daerah yang dinilai bersih dari kasus korupsi. “Kepada seluruh masyarakat Indonesia pilihlah pemimpin yang betul-betul bersih, integritasnya tinggi,” ujarnya.

“Bagaimana melihat pemimpin yang bersih dan integritasnya terdidik jangan lihat hari ininya, mungkin dua atau tiga hari kemarin dia sudah bisa berubah karena dalam rangka Pilkada, tapi bagaimana mentracking pemimpin itu? Kita harus melihat masa lalunya. Itulah yang disebut track record. Dengan track record itulah kita ada panduan, ada rujukan untuk memilih pemimpin yang betul-betul bisa diharapkan sebagai pemimpin. Pemimpin yang benar itu adalah pemimpin yang memimpin dengan hati bukan dengan tangan kekuasaan,” tuntasnya. (pskota/mg)

Category: 
loading...

Related Terms