21 June 2019

Yang Kami Pilih Bukan Imam Masjid Ataupun Artis Beken

Oleh: Ainul Mizan*

Menjelang Pilpres 2019, kedua pasangan Capres – Cawapres berlomba – lomba menggaet simpatik rakyat. Bahkan tim sukses masing – masing pasangan Capres Cawapres begitu agresif mengenalkan paslon yang dijagokan. Mereka saling menggoreng isu. Cacat celah kubu lawan akan menjadi santapan empuk buzzer – buzzer tidak berperasaan. Dari isu Sontoloyo dan Genderuwo yang terlontar dari kubu petahana. Akan tetapi alangkah mirisnya, justru politik ala sontoloyo dan ala genderuwo dipertontonkan dengan vulgar. Di antaranya ketika rakyat mengadu ada cacing di dalam kemasan sarden. Menteri Kesehatan menyatakan bahwa cacing banyak mengandung protein. Persekusi kepada ulama yang kian vulgar dilakukan. Kran terbuka bagi serbuan tenaga kerja asing ke Indonesia, terutama dari China. Padahal angka pengangguran relative masih tinggi. Tentunya, tidak akan terhitung fakta – fakta kebijakan di lapangan yang makin mengarahkan aura sontoloyo dan genderuwo itu dilakukan oleh kubu mana. Ibarat menepuk air di dulang, terpercik muka sendiri.

Memang akan banyak kritikan dan masukan yang diarahkan kepada kubu petahana, daripada yang diarahkan kepada kubu penantangnya. Bapak Jokowi, selaku presiden tentunya kebijakan – kebijakannya akan langsung berpengaruh kepada rakyat. Baik pengaruh menyenangkan maupun pahit. Di sini bukan dalam kapasitas untuk membicarakan siapa yang teruji dan yang belum teruji. Hanya saja wacana yang santer dan cukup menggelitik adalah adanya tantangan untuk uji membaca al Qur’an di antara pasangan capres dan cawapres. Kami berasumsi tantangan ini muncul, tatkala terlihat begitu elegannya Pak Jokowi pada beberapa kesempatan menjadi imam dalam sholat berjama’ah. Di sisi yang lain, Pak Prabowo dengan lugunya mengatakan tidak bisa menjadi imam sholat. Pertanyaan yang mengusik akal waras tentunya, apakah dengan bisa membaca Al Qur’an dengan fasih dan indah menjadi jaminan terwujudnya kepemimpinan yang baik? Apakah syarat menjadi pemimpin salah satunya adalah harus bisa membaca al Qur’an? Bukankah akan dilaknat ketika membaca al Qur’an sedangkan pada saat yang sama menginjak – injak ajaran Al- Qur’an?! Sungguh anda bukanlah kandidat untuk dinobatkan sebagai Imam Masjid ataupun Marbot masjid.

Bukan pula anda sebagai kandidat pemilihan artis beken dan ternama, hingga dalam setiap momen anda harus dishoot dengan sudut kamera yang pas sehingga booming. Kami sudah capek menghapus foto – foto anda yang hanya membuat HP kami menjadi lemot. Pasca bencana Tsunami yang menimpa Banten dan Lampung, yang dibutuhkan dari rejim ini adalah kepedulian nyata. Presiden berbicara live melalui saluran TV nasional akan keprihatinan atas bencana yang terjadi dan segera memerintahkan aparat dan lembaga – lembaga terkait untuk segera mengirimkan bantuan dan pertolongan. Rehabilitasi mental dan kehidupan korban sebagaimana semula sebelum terjadi bencana. Bukan kepedulian untuk menjadikan area bencana sebagai destinasi wisata atau pula destinasi foto selfie.

Seorang Pemimpin itu Seharusnya….

Sederetan gelar, pangkat dan prestasi bukanlah penentu akan tangguhnya sebuah kepemimpinan. Yang paling mendasar bagi seorang pemimpin adalah dengan aturan apa dia akan mengendalikan kepemimpinannya. Otaknya diisi dengan aturan Sekulerisme ataukah sebaliknya diisi dengan aturan Islam yang berasal dari Tuhan Alam semesta.

Tentunya wajar bila kandidat pemimpin itu seorang muslim, maka kami pun menuntut mereka agar otaknya diisi dengan aturan Islam. Adalah anomali ketika seorang muslim tidak memilih pemimpin yang muslim. Apalagi Indonesia sebagai negeri muslim terbesar di dunia.

Bagaimana ia akan peduli dengan nasib umat Islam yang mayoritas di negeri ini?  Bagaimana ia akan tergerak atas sekumpulan kewajiban dan larangan Al-Qur’an dalam perkara kepemimpinan? Jawaban dari pertanyaan – pertanyaan tersebut semakin menegaskan keharusan aqidah seorang pemimpin itu linear dengan aqidah mayoritas rakyat negeri ini.

Selanjutnya, yang patut dicamkan bahwa kepemimpinan dalam Islam itu adalah amanah. Bagi yang tidak bisa menempatkan amanah kepemimpinan dengan baik tentu akan menjadi penyesalan baginya di hari kiamat. Hanya seorang pemimpin yang mantap kepribadiannya akan bisa mengemban amanah kepemimpinan. Sedangkan unsur dari kepribadian adalah pola berpikir dan pola sikap.

Seorang pemimpin yang mempunyai pola berpikir Islami yang kuat tidak akan mudah terombang – ambingkan oleh situasi apapun. Ia mempunyai pola pikir politik yang kuat. Ia tidak didominasi oleh pertimbangan kemiliteran dalam mengatur negara. Pemimpin memahami dengan baik kontelasi politik dunia. Bahwa kampanye Perang melawan Terorisme itu diarahkan kepada Islam. Dengan menjadikan Islam kerdil dalam peran politiknya, dengan sendirinya akan langgeng penjajahan bangsa dan negara kafir atas tanah – tanah kaum muslimin. Dengan memahami seperti ini, seorang pemimpin akan menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kesatuan wilayah negeri Indonesia. Tidak akan ada kebijakan untuk menyerahkan kekayaan Indonesia kepada korporasi asing. Seorang pemimpin akan dengan gagahnya menyatakan bahwa kelompok OPM (Organisasi Papua Merdeka) sebagai kelompok teroris dan separatis. Ia tidak pernah gentar menghadapi gertakan negara – negara kafir. Baginya, perang Mu’tah dan perang Yarmuk menjadi pelajaran yang sangat mahal. Betapa kekuatan militer tidak berdaya berhadapan dengan tekad untuk meraih kemuliaan syahid.

Adapun pola sikap dan kejiwaannya adalah pola kejiwaan seorang pemimpin. Ia menempatkan dirinya layaknya seorang pemimpin. Ia sadar bahwa nasib bangsa dan negaranya berada di dalam setiap ucapan dan tindakannya. Ia yakin dengan keputusan yang diambilnya. Di dalam jiwanya, tidak ada kerelaan untuk membiarkan rakyatnya menderita. Apatah lagi menyerahkan bangsa dan rakyatnya kepada musuh.

Seorang pemimpin itu menyadari bahwa akad kepemimpinan itu diserahkan kepadanya sebagai akad untuk menerapkan hukum – hukum dari al Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Adalah sebuah keutamaan ketika seorang pemimpin itu mahir dalam membaca al- Qur’an, lebih – lebih lagi hafal 30 juz Al – Qur’an. Akan tetapi jangan lupa, menerapkan hukum yang terkandung di dalam Al –Qur’an dan Hadits Nabi SAW adalah kewajiban. Maka challenge yang lebih tepat diberikan kepada kandidat calon pemimpin bangsa dan negeri adalah berani atau tidak untuk menerapkan hukum Al – Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Artinya dengan diberikannya challenge demikian, mengharuskan kandidat pemimpin untuk mempelajari hukum – hukum di dalam Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Ia akan mempelajari hukum – hukum Islam dalam pemerintahan, hukum ekonomi Islam, hukum peradilan Islam dan hukum – hukum Islam yang lainnya.

Adalah Kholifah Harun al Rasyid, selain seorang politikus dan negarawan, ia memahami dengan baik hukum – hukum Islam dalam penyelenggaraan pemerintahannya. Beliau begitu tawadhu dan tadhim kepada para Ulama yang lurus. Begitu pula, sosok Sultan Muhammad al Fatih, ditanamkan oleh gurunya pemahaman akan keislaman. Oleh Syaikh Aaq Syamsuddin, sejak kecil Muhammad al Fatih telah dipahamkan dengan hadits akan berita gembira masuknya Konstantinopel ke dalam pangkuan Islam, hingga keadilan pun merata ke segenap penjuru negeri.

Begitu pula apa yang terjadi di Andalusia. Ketika para pemimpin dan rakyatnya berpegang teguh dengan Islam, Kordova menjadi kota mercusuar ilmu di dunia. Akan tetapi ketika mengendor dalam berpegang teguh pada Islam, kejayaan itu akhirnya bisa lenyap dari Andalusia.

Tentunya kita semua tidak ingin nasib Indonesia di tangan orang lain. Kita yang memiliki Indonesia dan hanya kita yang berhak menentukan nasib Indonesia. Yang ingin Indonesia bebas dari segala bentuk penjajahan, maka hanya dengan memberikan challenge berupa keberanian untuk menerapkan hukum – hukum dari Al – Qur’an, tujuan itu bisa diwujudkan. Alasannya sederhana saja kok karena seorang pemimpin bukanlah seperti Imam masjid, apalagi seorang artis beken.

*Tinggal di Malang.

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...