19 April 2018

Voters Behaviour di Era Erotisme

Oleh: Ziyad Falahi
Pusat kajian survei opini publik

“Dulu wanita menginginkan cinta dan pria menginginkan seks. Kini pria menginginkan cinta dan wanita menginginkan seks.”

Kutipan diatas mencuat saat Anthony giddens mengawali bukunya berjudul “transformation of intimacy” sebagai respon atas buku revolusi seksual Foucault. Giddens memproblematisasi novel “before she met me” yang berkisah tentang kegelisahan seorang pria saat mengetahui bahwa sang wanita yang dicintainya telah melakukan sex dengan beberapa pria sebelum dia.

Yang menarik, Giddens menyatakan bahwa novel tersebut tidak mungkin muncul katakanlah seratus tahun sebelumnya. Dengan kata lain, agresifitas sex kaum wanita merupakan gerbang lahirnya sebuah epos historis yang berbeda, sebuah transformasi seksualitas.

Lalu Apa hubunganya dengan politik? giddens agaknya tidak secara komplit membedah politik praktis, namun satu hal yang penting dalam era kekinian adalah kemunculan wanita dalam ruang publik. Alhasil, sistem patriarki tereduksi secara gradual.

Dalam pemilu langsung presiden Indonesia yang telah dilalui, sosok ibu negara yang lebih tegas dari presiden menjadi feature yang menandai, bahwa kehormatan pria bukan lagi determinan. Kini voters lebih menyukai sosok
tokoh pria yang anggaplah “sedikit lemah gemulai” sebagai corak yang paling kentara dari pergeseran erotisisme.

Tidak menutup kemungkinan, seiring dengan akselerasi libido kaum hawa, tokoh pria beberapa tahun yang akan datang adalah “anak mami yang manja”. Puncaknya “the rise of women” layaknya the rise of the planet of the apes, sebagai era punahnya kaum adam. Lalu bagaimana nasib tokoh militer?, masihkah kewibawanya menjual?.[***]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...