28 March 2020

Tugas Presiden dan Wapres Harus Dipisahkan jika Jokowi Jadi Presiden

KONFRONTASI-Ada yang menarik pernyataan Cawapres Jusuf Kalla (JK) saat berada di Surabaya, minggu (25/5/2014).. JK mengakui pernah mengatakan kalau Jokowi tidak layak jadi presiden RI karena hasilnya belum kelihatan. " Saya bilang satu setengah tahun lalu setelah dia dilantik dua bulan sebagai Gubernur DKI. Baru dua bulan kok jadi capres. Kan tidak pantas,"kilahnya. Namun, lanjut JK, setelah menjabat sebagai Gubernur DKI dua tahun dirinya mengakui kinerja Jokowi." Setelah dua tahun bekerja baru kelihatan hasilnya. Jadi setelah lihat hasilnya maka saya mau mendampinginya sebagai cawapres,"kilah pria kelahiran Makassar ini.

''Bagaimanapun juga Jokowi terkesan menjadi pihak yang dirugikan. Di samping itu pernyataan JK itu memberikan indikator bahwa seorang Jusuf Kalla bisa menjadi sandungan buat Jokowi,'' ungkap analis politik  Frans Aba MA yang juga loyalis Jokowi dan Megawati Soekarnoputri. Oleh sebab itu, kata Frans, tugas Jokowi selaku Presiden, jika terpilih, harus dipisahkan dengan JK selaku wapresnya. Agar JK tidak menelan atau mengalahkan Jokowi yang jujur dan lugas, agar JK tidak mendominasi Jokowi,

Menjadi menarik karena pernyataan JK di atas itu, bagai sejenis propaganda  dalam bentuk lain, dimana propaganda tersebut (pandangan subjektif) adalah fenomena terbaru dalam konstelasi perpolitikan di Indonesia dengan kata lain merupakankejadian pertama pada saat menjelang kampanye pemilihan umum (pemilu) presiden—bahkan bisa saja bertambah pada saat kampanye resmi nanti. Sebenarnya, jika mundur ke belakang, sekitar satu setengah bulan yang lalu, propaganda model seperti ini pernah menghantam Jokowi pada kampanye pemilu legislatif (pileg) lalu, di mana Jokowi disuguhkaniklan anonim berjudul “Kutunggu Janjimu”. Trik propaganda model seperti ini kurang lebih sama yang pernah diterapkan oleh Bill Clinton pada pemilu presiden Amerika Serikat 1992 sewaktu bertarung melawan George Herbert Walker Bush dan Rose Perot. Kala itu Clinton beserta tim kampanyenya menyebutnya sebagai hit back harder strategy, yaitu strategi serang dan balas—dengan memonitor semua statement atau pernyataan yang dikeluarkan oleh Bush maupun Perot yang ada di surat kabar, televisi bahkan radio yang kemudian ditanggapi dengan segera. (Cangara, 2009:35)

Ada dua hal penting menurut interpretasi saya yang akan menggoyang langkah Jokowi menuju pertarungan pilpres nantinya. Hal pertama adalah model propaganda seperti ini merupakan salah satu dari sekian faktor penyebab kemenangan Clinton pada pertarungan pilpres tersebut. Memang masih jauh untuk membuktikan seberapa besar dampaknya bagi Jokowi saat ini. Akan tetapi jika menilik iklan anonim berjudul “Kutunggu Janjimu” saya memiliki keyakinan efek iklan tersebut berpengaruh cukup besar akan gagalnya Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada pileg lalu dalam mencapai targetnya. Sebagai catatan, banyak lembaga survei di Indonesia menyatakan Jokowi memiliki tingkat popularitas yang tinggi tetapi jangan lupakan juga para swing voter yang juga mempunyai arti penting. Bahkan para simpatisan Jokowi pun bisa saja mengalihkan suaranya pada hari pemilihan—tidak ada yang bisa menjamin mereka akan loyal. Pembentukan opini umum menjadi sasaran utamanya.

Dalam beberapa kasus pemilu di Amerika Serikat, propaganda seperti ini berkontribusi terhadap kemenangan sang kandidat yang menggunakan propaganda tersebut dengan menyasar pembentukan opini umum. Hal tersebut jika dijelaskan secara rinci sebagai berikut: Otak kita memproses informasi baik secara sadar maupun non-sadar, ketika kita memberi perhatian pada sebuah pesan maka kita terlibat dalam pemrosesan pesan aktif. Untuk pengecualian, jika tidak memperhatikan mungkin tetap pasif dalam menerima informasi.

Ada beberapa bukti bahwa pesan-pesan negatif yang terkandung dalam propaganda tersebut memiliki pengaruh yang kuat terhadap pembentukan opini umum. Pertama, salah satu hal yang berkontribusi dan paling penting boleh jadi bias negatif hasil wawancara tersebut. Pengelolaan kesan negatif oleh khalayak terhadap informasi dari wawancara tersebut lebih mudah diingat daripada pengelolaan kesan positif. Kedua, pembentukan opini umum akan hal-hal negatif dalam wawancara tersebut sangat kompleks daripada yang positif.Jika saja wawancara Jusuf Kalla berisi pujian terhadap Jokowi akan kinerjanya, misalnya, merupakan hal yang biasa, sederhana dan tak menarik.

Setiap informasi yang negatif memiliki setidaknya perbandingan tersirat. Jika saja Jusuf Kalla pernah mengatakan “kalau Jokowi menjadi presiden bisa hancur negeri ini” lantas sekarang menjadi pasangan Jokowi menghadapi kontes pilpres 2014, maka terimplikasi pasangan ini tidak akan serasi nantinya. Kompleksitas seperti ini dapat menyebabkan anda untuk memproses informasi lebih lambat dan dengan agak lebih perhatian. Informasi negatif semakin berjalan lebih lambat saat kompleksitas ditingkatkan, dan pasti sebagian dari informasi negatif akan “bertahan” dalam pikiran anda, bahkan suka atau tidak suka, segera setelah mendengar dan melihat informasi negatif, anda mungkin menganggapnya sebagai “dia yang terzalimi”. Kemudian, biasanya beberapa minggu kemudian ketika anda membuat keputusan terhadap suara anda, sesuatu dalam pikiran anda akan mengingat kembali informasi negatif tersebut. Mungkin anda lupa kapan atau di mana atau dari siapa anda mendengar—tetapi konten negatif selamanya “bertahan” dalam pikiran anda.

Suka atau tidak suka, percaya atau tidak, opini umum yang terbentuk karena pengaruh rekaman wawancara Jusuf Kalla sekitar awal tahun 2013 akan membayangi langkah Jokowi menuju RI-1 bahkan mungkin saja berdampak pada kegagalan.

Hal berikutnya adalah bagaimana Jusuf Kalla dan Jokowi menyikapi propaganda ini. Berdasarkan wawancara Metro TV pada Jusuf Kalla pada hari Senin 26 Mei 2014, hal yang disampaikan hanya sebuah klarifikasi mengenai pembenaran akan rekaman wawancara tersebut dengan berbagai alasan sebagai pembelaannya. Menyimak jawaban Jusuf Kalla, saya menilainya cukup positif dan logis. Pun demikian saat Jokowi memberikan tanggapan mengenai propaganda tersebut tidak tergambarkan bentuk kekecewaannya akan pernyataan Jusuf Kalla. Secara implikasi belum ada keretakan terhadap pasangan ini. Tetapi cukup kah hanya sampai di situ?

Memberikan klarifikasi saja bagi Jokowi serta Jusuf Kalla memang tepat namun bagi saya tidak hanya berhenti pada tahap tersebut, ingat bahwa opini umum telah terbentuk sebagai pengaruh dari rekaman wawancara itu. Harus ada langkah-langkah substansial dan nyata—yang tentunya merupakan tanggung jawab dari tim kampanye—karena sebagaimana yang sudah menjadi rahasia umum, sebelumnya gencar beredar opini yang mengatakan akan adanya “matahari kembar” jika pasangan ini menjadi pemenang pilpres 2014 hingga label the real president untuk Jusuf Kalla berdasarkan rekam jejaknya saat menjabat wakil presiden era 2004-2009. Saya menilai Jusuf Kalla serta Jokowi sejauh ini terkesan menganggap sepele isu ini (tergambarkan dengan hanya memberi klarifikasi tanpa ada langkah substansial untuk menghalau isu) dan bisa saja mengakibatkan hasil yang fatal bagi mereka nantinya.

Sebagai gambaran faktual terhadap pengabaian trik-trik propaganda seperti itu sebagai akibat menganggap sepele adalah kampanye Barrack Obama pada tahun 2012 yang dikatakan sebagai kampanye paling negatif dalam sejarah politik Amerika Serikat modern. Obama dan para pendukungnya berhasil membangkitkan rasa takut dalam pikiran dan hati para konstituen. Mereka memberi label Mitt Romney sebagai orang yang tidak berperasaan, serakah, memanipulasi bisnis dan bersikap acuh tak acuh saat karyawannya meninggal akibat kanker. Di samping itu, Romney juga digambarkan sebagai seorang yang munafik dan menuduhnya sebagai penjahat karena tidak membayar pajak dalam sepuluh tahun serta menyalahkan Romney dan orang kaya lain sebagai kambing hitam atas segala macam masalah di negara ini. Singkatnya, kampanye Obama saat itu dimaksudkan untuk mengerdilkan Romney dan Partai Republik lainnya dengan terlibat dalam pembunuhan karakter setiap hari. Dalam kampanye presiden, ketika hal-hal negatif terhubung dengan karakter ditambah pesan-pesan negatif yang sangat efektif dalam pembentukan opini umum. Maka, mereka harus selalu dimentahkan dan dihalau segera. Mengabaikan mereka hanya mendorong orang untuk percaya mereka. Alih-alih membuat strategi untuk mementahkan berkembangnya opini umum, Romney mengabaikan serangan terhadap dirinya sebagai pribadi, lebih percaya akan prestasi dan resume-nya akan berbicara untuknya dalam setiap kesempatan. Dalam hal ini, dia tidak menyadari bagaimana pikiran bekerja; jika tidak, Romney akan memiliki strategi untuk melawan dampak dari kampanye negatif yang menghasilkan begitu banyak kritik yang salah terhadap karakternya.

Contoh konkret lainnya adalah pada saat kampanye George Herbert Walker Bush melawan Michael Dukakis pada tahun 1988. Dalam kampanye Partai Republik disajikan sebuah iklan yang memojokkan Dukakis sebagai seorang yang liberal yang terlalu percaya kepada kebaikan manusia sehingga melepaskan narapidana yang terlibat pembunuhan yakni Willie Horton di Massachusetts saat menjabat gubernur di negara bagian itu. Meskipun iklan itu faktual benar dalam hal ini, melampaui kekonyolan, kurangnya pengalaman, menekankan buruknya pengambilan keputusan dan kurangnya tanggung jawab, sambil menyatakan bahwa dia tidak bisa dipercaya serta tidak peduli tentang orang-orang. Yang terjadi kemudian adalah Dukakis memilih untuk mengabaikan gambar yang meremehkan dia dan menyerang karakternya. Akibatnya, foto-foto itu dan pesan yang terkait di dalamnya terjebak dalam pikiran banyak pemilih, dengan kata lain telah terbentuk opini yang negatif terhadap dirinya.

Bercermin dari contoh di atas, saya yakin bahwa pendapat umum terhadap karakter Jusuf Kalla telah berkembang semakin negatif karena sejauh ini sudah ada tiga isu negatif yang menerpanya. Jika tidak memberikan sensasi secara substansial untuk membuat persepsi menjadi positif malah hanya memberikan klarifikasi saja, niscaya seorang Jusuf Kalla lah yang akan menjadi subjek kegagalan Jokowi menjadi RI-1.

" Jadi, hati-hati jangan sampai di kandang banteng dilahirkan seekor macan tutul yang bisa menerkam banteng itu. Jangan sampai pengalaman SBY periode 2004-2009 itu terjadi lagi karena JK jadi cawapres Jokowi" kata tokoh GMNI  Nehemia Lawalata. 

"Jangan sampai ini terjadi. Di kandang Banteng lagi tidur kemudian diterkam Macan Tutul," ujarnya. Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata istilah macan tutul itu ditujukan pada mantan wakil Presiden Jusuf kalla (JK). JK dianggap sebagai macan tutul lantaran manuver-manuver politiknya yang lincah dan cekatan, namun juga dianggap membahayakan bagi Jokowi/PDIP Megawati. (KL/berbagai sumber)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...