26 May 2019

Trik-Cara Derrida Membunuh Kebenaran

Oleh: Ujang Ti Bandung

 

Apa itu 'kebenaran' ? ... itu akan jelas serta terang benderang kalau itu dinyatakan oleh satu Tuhan-dalam dunia agama,oleh akal-hukum logika, dalam dunia filsafat,oleh metode empirisme dalam dunia sains.tapi coba kalau peran Tuhan-hukum logika-metode empirisme dikesampingkan dan narasi kebenaran diserahkan sepenuhnya pada sudut pandang-pemikiran orang per orang alias 'di demokratisasi' maka essensi kebenaran justru akan lenyap,mana benar-mana salah alias struktur biner akan menjadi abu abu dan ambigu karena tiap orang cenderung mengungkap pandangan yang berbeda beda. kebenaran akan jatuh ke lubang relativisme

Dengan kata lain perlu penguasa tunggal untuk menegakkan narasi besar 'kebenaran' dan menjauhkannya dari kubangan relativisme.dan sebagai konsekuensinya narasi kebenaran akan bercorak tunggal.dalam dunia agama penguasa tunggal itu adalah Tuhan, dalam dunia filsafat adalah akal dan dalam dunia sains adalah metode empirisme.dengan cara menyerahkannya pada kekuasaan tunggal itu maka benar-salah akan menjadi jelas karena diback up oleh konsep ilmu pengetahuan yang memang memiliki karakter menopang kebenaran yang bersifat mutlak dan tunggal dalam arti lain, rel ilmu pengetahuan tidak pernah berjalan menuju ranah relativisme

Atau dengan kata lain,dalam pandangan Tuhan-filsafat logosentris kebenaran adalah sebuah system yang karenanya memiliki konstruksi maupun hierarki-susunan.ini perlu difahami untuk membandingkannya dengan pandangan Derrida yang melihat wujud kebenaran lebih secara acak sehingga kebenaran dalam bingkai filsafat dekonstruksi nampak seperti Aceh pasca tsunami-tak ada wujud berkonstruksi yang masih dapat berdiri diatasnya

Atau secara psikologis apa kesan mendalam anda ketika mendengar kata 'kebenaran' ? .. mungkin melihat atau memahaminya sebagai suatu yang dapat ditangkap serta difahami oleh indera-akal maupun hati-nurani atau sesuatu yang berkaitan dengan fungsi semuanya itu.itu benar,karena semua itu adalah peralatan penangkap serta pengelola kebenaran.terlepas dari apakah kebenaran itu ada di dunia sain atau dunia filsafat atau dunia agama sebagai tiga institusi besar yang sama sama berbicara masalah kebenaran

Tetapi tahukah anda bahwa konsep kebenaran itu sendiri dapat berdiri karena ia ditopang oleh unsur unsur pembentuknya.unsur unsur pembentuknya yang terpenting diantaranya; konsep Ada,oposisi biner (konsep dualisme),konsep definisi,konsep hakikat,konsep hierarki,logika dan bahasa.bisa disebut konsep kebenaran itu memiliki infrastruktur yang kompleks tapi terstruktur-tidak acak.dan diantara semua itu bahasa adalah salah satu unsur paling mendasar yang membentuknya.karena dengan bahasa itulah manusia menangkap serta lalu mengungkap persepsi persepsi-intuisi maupun pengalamannya.bila unsur unsur yang membangun narasi kebenaran itu diibaratkan aneka material bangunan maka bahasa diibaratkan semen yang memiliki sifat menyatukan beragam material bangunan itu.sehingga apabila sifat-karakter semen itu dirubah maka bangunan menjadi tidak bisa berdiri karena semua material pembentuknya tidak bisa disatu padukan

Itu sebab Derrida memulai pembongkarannya (dekonstruksi) pertamakali dengan memusatkan perhatian pada unsur bahasa.pertama adalah meletakkan bahasa lebih sebagai teks-bukan bahasa lisan-ujaran yang substansinya adalah 'pengertian pengertian'.menurutnya 'tak ada apapun diluar teks'.ia mengesampingkan unsur 'pengertian-pemahaman mainstream' dibalik terbentuknya bahasa. setelah itu ia mempertanyakan makna tunggal dari sebuah teks yang cenderung bersifat baku atau dibaku kan lalu membawanya ke ranah 'kebaruan kebaruan' dengan berdasar prinsip kebebasan individu menafsir karena menurutnya bahasa adalah permainan kata dan tanda tanda

Dan harus difahami bahwa narasi narasi besar utamanya konsep 'kebenaran' baik itu dalam filsafat maupun agama dibangun oleh pemaknaan terhadap bahasa yang bersifat tunggal,dan itu diantaranya yang membuat kebenaran selalu mencirikan berkarakter tunggal.tanpa pemaknaan yang bersifat tunggal sulit menyusun narasi besar kebenaran.contoh,makna-pengertian 'akal' dalam filsafat logosentris serta dalam agama itu ditunggalkan sehingga mudah digunakan ketika mendeskripsikan kebenaran yang berkaitan dengan akal baik fungsi maupun karakternya.bayangkan kalau makna 'akal' itu variatif-beda makna antara satu dengan lainya maka sulit bagi kita mempersepsi kebenaran yang berkaitan dengan fungsi serta karakter akal

Penunggalan makna terhadap bahasa dibongkar Derrida dengan memunculkan kembali dimensi dimensi metaforis dan figuratif dari bahasa dan membiarkan bahasa berjalan kearah karakter yang bersipat polisemi,ambigu dan paradoks pada dirinya sendiri.dan bila sifat sifat demikian yang dimunculkan maka filsafat menjadi tidak memiliki jalan untuk membangun narasi kebenaran, filsafat menjadi tidak lagi memiliki otoritas memproklamirkan kebenaran. karena unsur unsur pembangun narasi kebenaran itu dibuat 'abu abu'-tidak jelas benar salahnya-tidak jelas makna pengertiannya,juga tidak ber posisi tunggal karena tiap orang seolah dapat memposisikan nya secara bebas sesuai tafsirannya masing masing.struktur makna-pemahaman yang dibangun oleh bahasa menjadi berantakan dibalik euforia kebebasan menafsir

Lebih jauh,penolakannya terhadap tanda-kata dan konsep yang merepresentasikan Ada-being dalam filsafat logosentris menyiratkan kalau landasan cara pandang Derrida cenderung materialist.sebagai contoh perbandingan,dalam agama sendiri,yang abstrak-gaib mewakilkan kepada ilmu pengetahuan untuk merepresentasikan-melukiskan-menggambarkan diri nya.jadi Ada tidaklah hadir secara langsung secara 'telanjang' melainkan berbaju ilmu pengetahuan,ilmu pengetahuan tentang itu mewujud melalui kata-tanda-konsep

Implikasi dahsyat dari dekonstruksi filsafat adalah memudarnya batas batas antara kebenaran dengan ilusi-fiksi,antara ilmu pengetahuan dengan puisi antara keseriusan dan permainan.dan secara struktural antara benar-salah

Dalam logosentrisme-filsafat yang mengagungkan narasi kebenaran rasional dan idem termasuk juga dalam dunia agama benar-salah,baik-buruk harus dibuat hitam putih,harus dibuat jelas mana benar mana salah sehingga dengan cara demikian narasi kebenaran mutlak-tunggal dapat dideskripsikan.ciri kebenaran rasionalitas maupun agama adalah tidak bisa dibangun oleh anasir anasir yang abu abu serta ambigu-tidak jelas baik posisi maupun derajat kedudukan nya dalam ranah ilmu pengetahuan.semua harus serba jelas-tegas-terang benderang barulah kebenaran tunggal dapat diproklamirkan.dan jalan untuk membuat semuanya  menjadi demikian adalah dengan membangun konstruksi ilmu pengetahuan,dalam filsafat disebut epistemologi.dalam ranah agama struktur ilmu bersifat hierarkis-tidak datar dengan menempatkan Tuhan sebagai sentral-muara fungsi ilmu pengetahuan adalah mengsntar kebenaran setapak demi setapak menuju muaranya yang terakhir,jadi struktur demikian vital dalam agama.

Jadi efek dekonstruksi filsafat ala Derrida tidak saja menimpa filsafat logosentris yang mengagungkan akal tetapi juga menimpa agama yang bentuk kebenarannya bersifat mutlak dan tunggal-bukan kebenaran 'demokratif' hasil penafsiran bebas-walaupun ada penafsiran yg berbeda maka itu harus tunduk pada kebenaran dasar yang bersifat tunggal

Tapi Derrida mengutak atik unsur unsur pembentuk rel ilmu pengetahuan sehingga kereta ilmu pengetahuan tidak lagi bisa melaju diatasnya untuk mengantar bahan bahan bagi terbangunnya narasi besar 'kebenaran'

................

Saya buat analogi : disebuah kerajaan ada seorang raja yang kekuasaannya bersifat tunggal - tak ada yang menyandingi dan apalagi melebihi kekuasaannya, segala suatu ialah yang mutlak memutuskan. tapi ada fihak yang tidak menyukai kondisi demikian lalu mereka merekayasa cara cara sedemikian rupa agar kekuasaan raja tak lagi mutlak dan kekuasaan di negara itu tidak lagi bersifat tunggal - ada ditangan sang raja.lalu mereka membentuk dewan rakyat-menggalang kekuatan bersama rakyat-melakukan demo demo mengatas namakan demokrasi.lama kelamaan kekuatan sang raja perlahan runtuh.kerajaannya berubah menjadi negara demokrasi.kekuasaan mutlak nya hilang.dan berbagai kelompok masyarakat membuat partai partai politik dengan ideologi ideologi yang berbeda beda.demokrasi kini adalah cara jitu untuk mengakhiri kekuasaan yang bersifat tunggal atau 'otoriter' menurut bahasa demokrasi

Itulah Derrida memberi karakter 'demokrasi' yang liberal bahkan pada bahasa dimana kelak bahkan tiap individu berhak untuk menafsir ulang serta memaknai secara baru tiap kosakata yang lahir dari ranah bahasa.bahkan bentuk terstruktur yang terbangun dalam bahasa semisal oposisi biner pun di otak atik (melalui rekayasa dekonstruksi bahasa) agar tak mengarah pada memiliki kekuatan untuk melegitimasi hal hal yang kelak kebenarannya dianggap bersifat mutlak-tunggal.analogi nya, tiap trick yang digunakan para abdi raja untuk agar sang raja itu bisa memiliki kekuasaan kembali akan selalu dihadang oleh para pejuang demokrasi

Secara ideologis para pejuang demokrasi memproklamirkan demokrasi sebagai 'kebenaran mutlak' dan bentuk kekuasaan otoriter yang ada ditangan penguasa tunggal adalah 'ketidakbenaran'.demikian pula Derrida memproklamirkan dekonstruksi utamanya untuk menghentikan dominasi logosentrisme dalam dunia filsafat yang memprolamirkan bentuk kebenaran tunggal yang dianggap tidak memberi ruang bagi 'demokrasi' berfikir

Itulah,narasi besar yang bernama 'kebenaran' yang dideskripsikan baik oleh sains-filsafat maupun agama pada dasarnya akan diposisikan sebagai penguasa tunggal,karena dengan cara demikian maka mana benar serta mana salah akan jelas,dapat dihakimi, kalau dalam dunia agama : dapat diadili. sebaliknya tanpa ada satu bentuk kebenaran tunggal maka benar salah-baik-buruk akan menjadi tidak jelas.karena apa-siapa yang memiliki kewenangan untuk melegitimasi nya menjadi tidak jelas.dalam filsafat Derrida secara liberal persoalan benar-salah seperti lebih diserahkan pada pandangan individu masing masing.ini salah satu sebab utama yang membunuh narasi besar 'kebenaran'.karena kebenaran lalu menjadi relatif-bergantung pada sudut pandang orang per orang.kebenaran mati dalam 'demokratisasi pemikiran' ala Derrida

Bandingkan,dalam filsafat logosentrisme yang memiliki kewenangan mengkonstruk persoalan benar-salah adalah epistemologi-hukum logika yang merupakan perangkat ilmu pengetahuan.dan demikian pula dalam agama, benar salah dikonstruk oleh ilmu pengetahuan dengan Tuhan berada di posisi paling tinggi sebagai pemegang legitimasi utama,dalam logosentrisme posisi Tuhan digantikan oleh akal,sebagaimana dalam sains posisi Tuhan digantikan oleh metode empirik

Menurut Derrida ; 'tidak ada yang eksis diluar teks,realitas sesungguhnya tidak ada sebab semua realitas dikonstruksi secara budaya,linguistik atau historis. oleh sebab itu realitas terdiri dari berbagai teks dengan kebenaran yang plural.tidak ada kebenaran universal' (Gadis Arrivia 2004).pandangan yang tentunya berlawanan baik dengan konsep agama Ilahiah maupun filsafat logosentris.dalam konsep agama Ilahi yang abstrak mendahului atau melatar belakangi kehadiran teks,keberadaan teks hanya pembungkus, dan kebenarannya tidak plural karena bertumpu pada satu penguasa tunggal.(Jft/kompasiana)

 

 

 

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...