16 June 2019

Termehek-mehek Boleh, Asal Jangan Kalap: Refleksi Paska Pilgub DKI

Saya bersimpati terhadap para pendukung paslon yang kalah pada pilgub DKI baru-baru ini; meskipun agak terheran-heran menyaksikan betapa termehek-meheknya bak diselingkuhi dan ditinggal pergi pacar, sehingga saya tak mampu berempati. Akan tetapi, saya terhenyak manakala ketermehekan itu beralih rupa menjadi kekalapan sehingga mulai menebar fitnah, dan bahkan menjelek-jelekkan negara dan bangsanya sendiri. Akan lebih baik berlaku ksatria bila tak mampu legawa. Bagaikan samurai Jepang yang melakukan harakiri karena tak mampu menahan malu atas kekalahan.

Salah satu fitnah yang saya saksikan sendiri adalah tuduhan timses Anies-Sandi mabuk-mabukan di LEON. Hanya karena sebuah foto yang memperlihatkan segerombolan orang berbaju putih sedang menenggak air kata-kata. Mengapa saya bilang fitnah? Lha wong saya ada disana karena ada teman yang mengundang dengan alasan ada live music bagus, karena tahu saya penggemar live music. Itu acara Pertamina Arden yang merayakan Sean Gelael menjadi pengendara uji coba di Toro Roso (berita lengkapnya disini: http://www.pertamina.com/news-room/siaran-pers/pertamina-dukung-tim-pert...). Nah, karena kekalapan nan membabi buta, jadilah foto ini tersebar luas kemana-mana dilengkapi dengan embel-embel fitnah nan luar biasa. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, bukan fitness. Itulah mengapa lebih baik bunuh diri daripada memfitnah.

Kemudian ada pula yang menjelek-jelekkan bangsa dan negaranya sendiri dengan mengatakan kemenangan Anies-Sandiaga itu adalah kemenangan Islam Garis Keras atau Islam Radikal, senada dengan framing dan stigma yang dilontarkan oleh media-media barat yang sedang menggandrungi islamophobia saat ini. Akan menjadi aneh sekali bilamana negara yang 87% lebih penduduknya beragama Islam, malah mengalami Islamophobia. Lucunya para pendukung Ahok-Djarot, yang bahkan berpendidikan tinggi, yang sedang kalap ini mencoba menggunakan NU sebagai tameng untuk menstigmakan hampir 60% penduduk Jakarta yang memilih Anies sebagai Islam Radikal. Sayangnya bahkan putri biologis dan ideologis Gus Dur, Yenny Wahid, membantah keras bahwa pemilih Anies-Sandi adalah Islam Radikal di hadapan wakil presiden AS. Bahkan menurutnya pemilih Anies-Sandiaga Salahuddin Uno​ banyak Kristen yang taat (lebih lengkapnya: https://m.tempo.co/read/news/2017/04/20/078868028/yenny-wahid-pilkada-ja... ). 

Coba anda bayangkan, kalaulah 60% dari 87% umat Islam di Jakarta yang mencerminkan wajah Indonesia, atau 69% umat Islam Indonesia adalah Islam Radikal, wah bisa dibayangkan sudah seperti apa situasi Indonesia saat ini? Mungkin melebihi Yahudi Israel yang memenjara massal penduduk Palestina atau Buddha Myanmar yang membantai Rohingya. Toh, kenyataannya tidak seperti itu bukan? Oleh karena itu, janganlah kekalapan anda karena pilkada-pilkadaan malah membuat anda menjadi penista negara bangsa dan bersikap tidak rasional.

Lalu baru-baru ini muncul gerakan ribuan karangan bunga untuk paslon yang kalah. Tidak ada yang salah dengan ini, meskipun aneh, karena karangan bunga biasanya untuk perayaan atau pemakaman. Namun, juga tidak ada yang salah dan bahkan lebih baik bilamana uang yang dihamburkan untuk karangan bunga tersebut dipergunakan untuk menolong para korban penggusuran di Kampung Aquarium yang masih tinggal di tenda-tenda. Atau, bila karena anda anggap mereka lebih baik mati menderita dan kelaparan karena menentang Ahok daripada dibantu, minimal, bantulah para nenek renta yang tidur beralaskan kardus daripada menghamburkan uang untuk bebungaan yang kan melayu dalam hitungan hari dan mengotori lingkungan. Itu namanya rasional dan manusia yang paham bagaimana mengejewantahkan kasih yang bertahta di sanubari. 

Terlepas dari program-program pelayanan masyarakat gubernur petahana terkalahkan saat ini yang dianggap berhasil, bagi saya keberhasilan itu hanya pada tingkat dinamika, bukan esensi. Esensi keberhasilan seorang pemimpin atau pelayan masyarakat terletak pada terwujudnya masyarakat yang berkeadilan sosial, sebagaimana yang dicita-citakan para pendiri bangsa. Keadilan sosial itu ditinjau dari tingkat distribusi pendapatan dan kekayaan, yang diukur berdasarkan koefisien GINI. Nilai koefisinen GINI 0 artinya sangat merata, sedangkan 1 adalah sangat tidak merata atau timpang. Ketimpangan pendapatan dan kekayaan Indonesia di tingkat 0.41 pada tahun 2014 berhasil ditekan menjadi 0.4 pada tahun 2016, meskipun ini masih di tingkat yang kurang memuaskan. Celakanya, untuk DKI Jakarta, koefisien GINI justru meningkat! Dari 0.36 pada tahun 2013, menjadi 0.43 tahun 2014 dan 0.46 pada tahun 2015 (lengkapnya di sini: http://www.thejakartapost.com/news/2015/01/29/jakarta-sees-rising-povert... dan disini: https://www.pressreader.com/indonesia/the-jakarta-post/20160512/28157805... ). Artinya pemerintahan provinsi DKI Jakarta dari tahun 2013 hingga 2016 gagal besar dalam mewujudkan esensi dan tujuan hidup utama berbangsa dan bernegara dengan semakin meningkatnya jurang kejenjangan pendapatan dan kekayaan di Jakarta. 

Nah, apabila ditambah lagi bila proyek properti hasil reklamasi yang hanya mampu dibeli oleh kalangan menengah dan menengah atas itu terealisir, tentu dapat dibayangkan semakin melebarnya ketimpangan di DKI Jakarta dan antar daerah, yang berlawanan dengan tujuan negara yang berkeadilan sosial. Ditambah lagi dengan rusaknya lingkungan teluk Jakarta yang direklamasi dan tempat mengambil urukan tanah untuk reklamasi. Tahukah anda bahwa dari 17.504 pulau di Indonesia, hanya 2.342 yang dihuni? Lalu apa urgensinya membuat pulau-pulau baru yang merusak alam dan memperlebar jurang ketimpangan? Hanya satu kata motifnya, yaitu FULUS. Ada di belakang siapakah 9 Naga? Tentunya di belakang mereka yang mempertahankan proyek reklamasi. Ini juga jawaban terhadap fitnah-fitnah yang hanya sekedar lebih kejam dari fitness terhadap dukungan 9 Naga di belakang salah satu paslon; yang tentunya dapat anda simpulkan sendiri selama akalnya masih sehat dan dipakai untuk berpikir, bukan untuk baper.

The Bottom Line, kurangi energi terbuang karena termehek-mehek, apalagi sampai kalap hingga menebarluaskan fitnah dan menista negara bangsanya sendiri. Gunakan akal sehat dibandingkan sentimen atau terlalu baper. Bila tidak mampu, maka berhara kirilah bila seorang ksatria. Namun, yang utama itu adalah orang yang berani hidup, bukan yang berani mati. Maka berani hiduplah untuk mengawal program Anies-Sandi. Beri kritik membangun untuk kebaikan Jakarta dan Indonesia bila menyimpang. Lawan bilamana proyek semacam reklamasi teluk Jakarta ternyata malah mereka teruskan!

Ini adalah pandanga dari seseorang yang tidak menggunakan hak pilihnya karena tidak percaya dengan politik negara yang menganut sistem demokrasi liberal saat ini. Yang memilih berpolitik di luar sistem demi bumi, bangsa dan negara tanpa pamrih jabatan. Yang paham bhinneka tunggal ika bukan sebatas slogan, namun sejarah dan esensinya dari Kakawin Sutasoma oleh Mpu Tantular untuk mempersatukan Hindu Siwa dan Budha di jaman Majapahit, yang esensi terpentingnya, yaitu Tan Hanna Dharma Mangrwa dipotong oleh Bung Karno dan Sultan Hamid II dalam lambang negara.

Salam Nusantara IV,
M. Iqbal 
http://tirtaamarta.com

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...