16 December 2017

Terlalu Sedikit Puisi, Terlalu Banyak Politik

Oleh: Denny JA

Sudah lama saya membaca dua kutipan terkenal John F Kennedy. "Jika politik mengotorinya jiwa kita, puisi membersihkannya." Satu lagi: "Jika saja lebih banyak politisi membaca puisi, dan lebih banyak penyair peduli politik, dunia akan lebih nyaman untuk kita semua."

Respon cepat saya, di Indonesia masa kini, ruang publiknya terlalu banyak politik praktis. Namun di ruang publik itu terlalu sedikit puisi. Sehingga puisi terlalu lemah untuk membersihkan politik. Dan politik terlalu perkasa untuk menggali mutiara puisi.

Tentu saja dosis politik praktis tak perlu dikurangi. Dosis puisinya yang perlu ditambah. Saya mulai menerapkannya untuk keseimbangan hidup saya pribadi.

Politik adalah life calling saya. Sejak mahasiswa saya sudah kecanduan gagasan besar dalam filsafat politik dan ideologi. Pendidikan tertinggipun, Ph. D, saya kejar hingga ke Amerika Serikat soal ilmu politik.

Ketika demokrasi mengubah Indonesia, sayapun di sana berdiri di titiknya yang paling sentrum: pemilu dan pilkada pergantian kekuasaan. Saya dirikan profesi konsultan politik pertama di Indonesia yang berbasiskan survei. Sudah ikut saya menangkan tiga kali pemilu presiden, 30 pilkada  gubernur dan 80 pilkada bupati/walikota dari Aceh hingga Papua.

Dosis puisi ingin saya tambahkan dalam kehidupan pribadi saya.  Ruang  publik ingin ikut saya warnai dengan puisi, sekecil apapun.  Akan ideal jika ruang publik Indonesia  suatu ketika : "Cukup politik dan cukup puisi. Demikian saya berikhtiar.

-000-

Sekitar bulan Febuari 2017, penggiat teater dan kawan yang saya kenal sejak tahun 80an, 35 tahun lalu, berkunjung. Isti Nugroho namanya. Kami kadang berjumpa sambil main catur dan bicara politik hingga puisi.

Isti pernah menjadi sutradara dari puisi saya yang dijadikan teater: Sapu Tangan Fang Yin.  Kali ini ia membawa gagasan ingin membuat lomba monolog. Yaitu puisi yang kemas menjadi naskah teater monolog.

Awalnya, ia mengusulkan mengambil pentas Taman Ismail Marzuki. Pesertanya diutamakan anak SMA dan mahasiswa. Saatnya puisi dan teater digerakkan kembali dalam event lomba, ujarnya.

Isti pula yang menyarankan sebaiknya puisi saya saja yang dikemas menjadi naskah monolog. Isti dan pekerja seni lainnya pernah  membuat naskah monolog serupa untuk lima  puisi saya dalam buku Atas Nama Cinta. Satu dari naskah itu sudah ia pentaskan bersama Indra Trenggana, dan pekerja seni Jogjakarta: Sapu Tangan Fang Yin.

Menurut Isti, corak puisi saya kental isu sosial dan renungan falsafahnya. Puisi itu juga naratif, ada plot seperti cerpen. Asyik jika divisualkan dalam teater monolog.

Namun puisi esai saya itu terlalu panjang. Jika dipentaskan bahkan membutuhkan waktu dua jam. Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachry, Niniek L Karim, Sujiwo Tedjo, Fatin Hamama, pernah membacakan murni hanya puisi esai saya saja.  Satu puisi perlu waktu 30-40 menit.

Isti Nugroho melihat buku puisi saya yang lain: Cintai Manusia Saja. Ini buku puisi saya yang ke 24, dan di dalamnya umumnya puisi "normal," yang pendek saja. Idealnya monolog puisi itu jangan lebih dari 10-20 menit.

Seperti biasa setiap kali saya ditawarkan sebuah program, saya ikut menajamkannya. Respon saya: bagaimana jika pentasnya tak usah di TIM. Dimana, tanya Isti? Jawab saya: di media sosial? Dunia sudah berubah. Kini tersedia panggung virtual, yang bisa ditonton kapan saja, dimana saja.

Lomba monolog puisi kita buat di media sosial saja. Lombanya juga jangan nanggung tapi nasional sekalian? Saya menantangnya.

-000-

Kita hidup di zaman yang sedang berubah. Sejarah kembali ditulis ulang. Dunia virtual menjadi panggung yang semakin lama semakin dominan. Panggung virtual ini kini meminta disentuh oleh seni.

Giliran berikutnya, Isti Nugroho mengajak kawannya dari Jogja Ons Untoro. Mereka berdua menjadi editor buku baru kumpulan 5  monolog puisi saya, yang semuanya diambil dari buku puisi saya ke 24: Cintai Manusia Saja.

Rencana pun disusun. Dibuat dulu lima naskah monolognya. Akan dibuat pula contoh lima video  monolog yang dipentaskan di media sosial melalui Youtube.

Gagasan ini segera saya setujui, terutama karena teringat kutipan John F Kennedy. Ruang publik kita terlalu banyak politik, terlalu sedikit puisi. Mari berikhtiar agar ruang publik, cukup politik, dan cukup puisi!


(Epilog untuk buku Puisi Kaum Minoritas: Lima Monolog Puisi Denny JA)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...