21 November 2018

Tak Mau Tunduk Pada Ekspansi Mongolia, Kertanagara Dan Misteri Pendharmaan

Oleh: AJ Susmana

 

 

Kertanagara adalah tokoh Jawa Kuno yang populer.  Sampai sekarang perwujudan dirinya, masih berdiri kokoh di Taman Apsari, Surabaya, dalam rupa Arca Buddha Mahaksobhya, dan juga dikenal atau dipopulerkan (?) sebagai Joko Dolog alias Joko Gendut.  Begitulah Papan Penunjuk yang dibangunkan pemerintah Surabaya. (Entah mengapa?  Suatu kemunduran literasi dan sejarah pengetahuan Jawa atau suatu kesengajaan sistematis sebagaimana juga Patung Durga di Prambanan, Klaten yang lebih dikenal sebagai Si Gadis Langsing Rara Jonggrang? Juga di kemudian hari hingga hari ini bagaimana suatu peristiwa sejarah dan organisasi menjadi hantu yang tak menyejarah dan menjadi kode bagi segala yang negatif seperti PKI?)

Di samping dikenal sebagai raja besar  dan terakhir Singhasari, Kertanagara adalah tokoh yang paling jelas sikapnya dalam menghadapi ekspansi Kubilai Khan. Dia pun mengirimkan tentara ekspedisi Pamelayu sebagai strategi membendung ekspansi Kubilai Khan ke Nusantara. Walau tampak berhasil di bekas kuasa Sriwijaya itu sepertinya Kertanagara tidak berhasil di Sumatera bagian utara yang sebagian sudah memeluk Islam. Marcopolo yang tiba di Sumatra dan sempat tinggal lima bulan di Kerajaan Samodra melaporkan bila wilayah sumatera bagian utara ini yang kini dikenal sebagai Aceh sudah menyatakan dukungannya kepada Kubilai Khan.

Atas keberanian melawan Kubilai Khan, mau tak mau menempatkan Kertanagara sebagai salah satu tokoh dunia, yang tak tunduk pada penaklukan Mongol yang waktu itu  menjadi imperium terkuat di dunia. Sikap beraninya menolak duta-duta Mongol yang meminta tunduk, bisa disejajarkan dengan Hojo Tokimune, Kaisar Jepang. Hanya bedanya Hojo Tokimune, merasakan amukan bala tentara Mongol sementara Kertanagara tak sempat membuktikan keberanian dan strateginya dalam menghadapi serbuan bala tentara Mongol. Sebagaimana kita ketahui, Kertanagara terbunuh karena pemberontakan yang dilakukan oleh raja bawahannya dari Gelang-Gelang: Jayakatwang. Tetapi semua itu tidak mengurangi kepopuleran Kertanagara sebagai raja besar dan terakhir Singhasari.

Walau dikenal dan cukup populer sebagai tokoh dunia, Kertanagara yang telah membuktikan dirinya sebagai seorang patriotik dari masa yang lalu sampai kini belum ditulis secara komprehensif oleh generasi-generasi sesudahnya. Justru Kertanagara yang kontroversial yang sampai pada kita hari ini yang sering tanpa kedalaman dan sinis dikatakan gagal menahan serbuan Jayakatwang karena kesenangannya pada minuman keras dan pesta orgy. Sikap kontroversial itu tentunya berbasiskan dua naskah yang saling bertentangan  dalam menilai dan menyikapi Kertanagara yaitu Negarakertagama dan Pararaton. Negarakertagama begitu menghormati Kertanagara sementara Pararaton sangat merendahkan Kertanagara.

Seharusnya, di masa ini kita bisa meletakkan ketokohan Kertanagara secara wajar, obyektif dan peran sumbangsihnya dalam pembentukan mental cinta pada tanah air. Tapi kekurangan pengetahuan tentang Kertanagara belum disikapi dengan penelitian yang mendalam terhadap Kertanagara. Karena itu sungguh baik dan perlu disambut gembira terbitnya buku-buku mengenai Kertanagara  dan Singhasari atau periode abad ke-13 yang mengantarkan lahirnya tokoh Kertanagara yang kemudian menjadi basis tumbuhnya Majapahit yang jaya.

Buku Suwardono yaitu Kertanagara & Misteri Candi Jawi tentunya juga bisa kita letakkan dalam rangka semangat memperkenalkan tokoh Kertanagara kepada rakyat Indonesia yang kini membutuhkan figur-figur patriotik yang wajar, yang mengalami jatuh bangun dalam membela tanah air. Sebelumnya, Suwardono menulis Tafsir Baru Kesejarahan Ken Angrok, diterbitkan Ombak, 2013, yaitu tokoh leluhur Kertanagara. Suwardono juga memberitakan dirinya kini sedang melakukan penelitian dan pengkajian tentang gaya ornamentasi masa Singasari, terutama ragam hias pada bentuk kain yang dipakai oleh arca-arca masa Singhasari sebagai bahan dasar pengembangan motif batik khas Malang.

Sampul buku “Kertanegara dan Misteri Candi Jawi”

 

Penulis                         : Suwardono
Penerbit                      : Narasi, Yogyakarta.
Tahun Terbit              : Cetakan Pertama, 2017
Jumlah Halaman        : viii +228; 14,5 x 21 cm

Dalam buku ini, Kertanagara & Misteri Candi Jawi, Suwardono yang juga mendasarkan bacaan utamanya pada Nagarakertagama dan Pararaton tampak menghindari sikap kontroversial dari kedua buku tersebut mengenai Kertanagara. Dengan begitu kita belum bisa menemukan tokoh utuh Kertanagara. Fokus Suwardono dalam buku ini adalah membongkar kemisteriusan Candi Jawi dalam arti menjelaskan keanehan Candi Jawi yang bersifat Siwa-Buddha dari segi bentuk dan tujuan sebenarnya dari pembangunan  Candi Jawi ini dihubungkan dengan keyakinan tantrik Kertanagara. Suwardono pun menyimpulkan:”..secara khusus menurut kepercayaan Siwa Buddha Tantra, keberadaan bangunan Candi Jawi lebih dimaksudkan sebagai gambaran sebuah bangunan/istana Kristal (Sphatikagreha) yang berada di tengah telaga sebagai tempat tinggal dari Sang Jina tertinggi (dalam hal ini diwujudkan sebagai Wairoca)  beserta permaisurinya Locana. Dengan demikian masuk akal apabila Raja Kertanagara sendiri yang membangunnya. (h.214-215)

Tetapi pertanyaannya, berkenaan dengan Candi Jawi yang menurut Prapanca (Nagarakertagama) adalah tempat pendharmaan Raja Kertanagara, adalah bagaimana mayat Raja Kertanagara diperlakukan? Bukankah penyerangan Jayakatwang telah memporak-porandakan Singhasari? Dyah Wijaya memerlukan hampir satu tahun untuk mengembalikan “Singhasari”. Apakah pendharmaan di Candi Jawi itu dilakukan segera oleh sang penyerang, Jayakatwang atau pihak Singhasari yang kalah? Atau hanya sebagai simbol oleh Dinasti Rajasa pasca kemenangan Wijaya karena mayat Raja Kertanagara sendiri tak ditemukan? Sebagaimana juga Candi Singhasari yang dianggap sebagai tempat pendharmaan Raja Kertanagara menurut Prasasti Gajah Mada, tahun 1351 M?

Semoga pertanyaan-pertanyaan ini membawa kita untuk mengungkap Kertanagara secara utuh.  Buku Kertanagara & Misteri Candi Jawi tentu layak dibaca untuk memulai memahami tokoh kontroversial Kertanagara yang hingga hari ini dalam sejarah kehidupan berbangsa pun masih banyak tokoh kontroversial yang disembunyikan dari panggung kebenaran sejarah.

AJ SusmanaWakil Ketua Umum Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...