13 November 2019

Surat Untuk Rakyat Jakarta: Pilkada Bukan Tentang Anies dan Ahok, Tapi Tentang Masa Depan Ibu Kota Negara

Oleh: Ferdinand Hutahaean*

Genderang Pilkada Jakarta putaran kedua sudah bergulir memasuki agenda politik kampanye. Para calon kembali melakukan teori klasik pemenangan seperti biasa. Rakyat kembali mendapat hiburan dalam demokrasi dapat bertemu tokoh-tokoh idolanya.

Ironi kemudian muncul ketika rakyat yang terhibur dengan demokrasi ini tampaknya masih belum memahami posisinya sebagai tuan dari demokrasi. Rakyat belum memahami bahwa sesungguhnya suara rakyatlah tuan dan raja dalam demokrasi ini. Pilkada ini bukanlah hanya tentang mendudukkan Anis Baswedan menjadi Gubernur, bukan juga tentang ngotot mendudukkan Ahok sebagai Gubernur, tapi Pilkada ini sesungguhnya tentang masa depan Jakarta, dimana masa depan Jakarta menjadi perahu besar masa depan penduduk Jakarta dan masa depan kehidupan Ibu Kota ini yang didalamnya hidup dan didiami puluhan juta jiwa.

Rakyat adalah pemilik demokrasi, rakyat adalah tuan dari demokrasi, rakyat adalah penentu masa depan demokrasi dan masa depan kehidupan di Jakarta. Maka itu sudah sepatutnya rakyat Jakarta melihat secara seksama perjalanan kehidupan Jakarta sebelum menentukan pilihan. Rakyat jangan terkecoh dengan opini yang diciptakan dan direkayasa media, rakyat jangan terkecoh dengan segala macam citra bentukan media yang memang telah menjadi partisan politik.

Pilkada ini akan menentukan nasib masa depan kehidupan Jakarta dan kehidupan masyarakatnya. Jika anda sebagai pemilih ingin hidup ditengah ancaman penggusuran? Maka silahkan pilih tukang gusur. Anda sebagai rakyat Jakarta ingin hidup dipimpin dengan caci maki? Maka silahkan pilih sang pencaci maki. Anda ingin hidup di Jakarta dengan kegaduhan tak berkesudahan karena agama mayoritas dinistakan? Silahkan pilih penista agama. Anda ingin hidup di Jakarta yang kemudian akan dijadikan kota baru bagi pendatang dari luar dan menyingkirkan kaum pribumi? Silahkan pilih gubernur  yang tidak menghormati keneradaan pribumi. Anda ingin hidup di Jakarta dipimpin dengan citra palsu? Silahkan pilih gubernur pembohong yang senang citra palsu seolah-olah.

Rekam jejak sejarah Jakarta telah mencatat bagaimana Ahok memimpin Jakarta selama menjadi Gubernur. Ahok tidak butuh waktu lama untuk menciptakan ketakutan digusur bagi rakyat Jakarta. Ahok tidak butuh waktu lama untuk menjadikan Jakarta kota gaduh karena penistaan agama, Ahok juga tidak butuh waktu lama untuk berpura-pura sebagai orang yang anti korupsi meski kasus Sumber Waras dan kasus pembelian lahan di cangkareng begitu kasat mata bermuatan korupsi.

Apakah rakyat Jakarta masih akan memilih meneruskan kondisi Jakarta yang menakutkan dan gaduh seperti sekarang? Jika jawabannya adalah YA, maka silahkan pilih Ahok. Anda yang akan menanggung dan menjalani kehidupan yang menakutkan dari ancaman penggusuran dan kegaduhan serta caci maki. Silahkan pilih Ahok jika anda ingin hidup dengan tidur yang tidak bisa nyenyak karena rumah anda bisa saja tiba-tiba jadi target penggusuran. Atau karena anda memilih sekantong sembako dan atau uang receh dan menukarnya dengan suara anda, silahkan memilih menderita lebih lama lagi dengan memilih gubernur yang sama.

Rakyat Jakarta mungkin akan lebih baik apabila mencoba sesuatu yang baru daripada mempertahankan dan meneruskan sesuatu yang jelas-jelas tidak bermamfaat bagi Jakarta. Memangnya Ahok bermamfaat bagi Jarta? Tidak sama sekali. Jakarta pasti lebih baik dan lebih damai tanpa Ahok. Kepemimpinan Ahok selama ini ternyata tidak membawa kebaikan dan kemakmuran serta kedamaian bagi rakyat Jakarta. Daripada meneruskan kepemimpinan yang menakutkan penuh amarah dan caci maki, akan lebih baik jika mencoba memilih dipimpin oleh yang lain. Dalam Pilkada ini tersisa hanya Anies Baswedan sebagai kompetitor Ahok karena pilkada putaran pertama telah mengirimkan Agus Yudhoyono lebih dulu menapaki panggung politik nasional. Sudah waktunya mencoba kepemimpinan Anies Baswedan untuk mendapat kehidupan Jakarta yang berbeda. Mungkin akan ada perubahan kehidupan di Jakarta, dari menakutkan menjadi menggembirakan, dari ketakutan digusur menjadi harapan punya rumah baru, dari caci maki dan amarah kepada sopan santun dan tata krama, dari kebohongan kepada apa adanya.

Dengan demikian, sekali lagi saya sampaikan bahwa Pilkada ini bukan tentang mendudukkan Anies Baswedan sebagai Gubernur atau ngotot memaksakan Ahok jadi Gubernur, tapi Pilkada ini adalah tentang menentukan masa depan kehidupan Jakarta, menentukan masa depan kehidupan rakyat Jakarta. Pilihlah pemimpin yang bisa lebih menjadikan masa depan Jakarta dan masa depan rakyat lebih berubah kepada kebaikan, masa depan Jakarta yang bebas dari caci maki dan kegaduhan oleh pemimpinnya.

Inilah pemahaman yang haris dimengerti, salah memilih pemimpin maka deritanya tidak singkat namun teramat panjang. Pilih pemimpin yang lebih memiliki nilai luhur budaya dan norma kehidupan. Masa depan Jakarta, sangat menentukan masa depan rakyat. Belajar dan bergurulah kepada sejarah, bukan memimpikan kebaikan  masa depan dari orang yang tidak baik. Jangan berharap kedamaian dari seorang pancaci maki yang penuh amarah dan jangan pernah berharap kejujuran dari orang yang penuh kepura-puraan.

*RUMAH AMANAH RAKYAT

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...