20 April 2019

Surat Terbuka untuk Gandjar Pranowo

Foto: Dokumentasi Yuktiasih Proborini

Foto oleh Adam Muda

Oleh: Yuktiasih Proborini

Dear Pak Gandjar,

Saya adalah salah satu warga Semarang, Jawa Tengah dan kebetulan sekali menyandang disabilitas sehingga untuk melakukan aktivitas harus menggunakan alat bantu, baik kursi roda maupun walker atau tongkat, tergantung saya naik kendaraan apa. Jika bermobil, maka saya bawa kursi roda, jika bersepedamotor, maka saya bawa tongkat.

Saya merasa beruntung masih bisa menikmati Kota Semarang atau pun kota-kota lain, dengan berkendara.

Namun, jika memandangi jalanan atau taman-taman di kota-kota yang saya datangi, saya hanya bisa mengelus dada. Atau pun fasilitas umum, seperti stasiun, terminal, pasar, mall.

Bagaimana tidak?

Trotoar yang memadai hampir tidak ada. Kalau pun ada, hanya sedikit. Hanya di sekitar pertokoan, itu pun kadang sudah diisi oleh motor atau mobil yang parkir.

Taman, juga demikian. Buat pengguna kursi roda, tentu akan kesulitan jika taman penuh undakan. Begitu juga untuk saudara-saudara penyandang buta atau tuna netra atau low vision.

Halte busway? Lebih parah lagi. Hanya undakan yang tingginya tidak bakal bisa saya jangkau. Belum lagi bus yang berhenti sangat berjarak dari haltenya.

Bagaimana dengan pasar? Sekali waktu, saya ke pasar tradisional dengan memakai tongkat. Alhasil, pasar menjadi macet dan saya merasa sangat malu karena banyak yang berteriak meminta agar saya mempercepat langkah.

Demikian juga stasiun kereta dan terminal bus. Untuk penyandang tuli, mereka membutuhkan papan pengumuman yang bisa mereka baca. Sedangkan untuk penyandang buta, mereka membutuhkan pengumuman berupa suara.

Apakah hal-hal demikian menjadi bahan pemikiran Anda sebagai pemimpin warga Jawa Tengah?

Untuk saudara-saudara yang mempunyai fisik sempurna atau normal, tentu bukan masalah. Padahal kita semua punya hak yang sama, sebagai warga.

Kami juga ingin bisa bepergian dengan nyaman, ingin berjalan-jalan, ingin menikmati kota di sore hari. Ingin bermain dengan anak-anak kami di taman. Ingin ke toko buku, ingin menawar sayuran di pasar.

Pak Gandjar yang bijaksana, mohon kami diperhatikan juga. Kami ingin bersuara, ingin menyampaikan keinginan. Ingin diakomodasi. Bukan karena kami manja, namun hanya karena kami ingin dimengerti bahwa kami mempunyai kebutuhan khusus, yang berbeda dari saudara-saudara yang tidak mengalami seperti kami.

Berharap sekali, Pak Gandjar lebih memperhatikan kami.

Salaaam...

(Oh ya..., kita pernah berfoto bersama seusai Car Free Day, di Jalan Pahlawan, Pak... )

(WS/ Knfr)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...