6 April 2020

Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2404 of /home/webuzoadmin/public_html/includes/menu.inc).

Stop Menjadikan Ibadah sebagai Obyek Pencitraan

Oleh: Iramawati Oemar

Kalau saya ditanya apa kesan saya melihat orang sholat, jawabnya : “biasa saja! Sama dengan melihat orang makan atau mandi” Lho kok begitu?! Ya iyalah, sebab kalau yang sholat itu seorang Muslim, baligh, berakal (tidak gila) itu sama sekali bukan perbuatan yang harus mengundang decak kagum.

Sebab selama ketiga syarat itu dipenuhi, maka sholat adalah kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang Muslim, fardhu kifayah, kewajiban individu, bukan kolektif. Dilihat orang atau tidak, ya tetap harus dilaksanakan. Sama dengan manusia makan 3 kali sehari, mandi setidaknya 2 kali sehari, nothing special! Saya sering melihat orang sholat di atas kereta api, bis antar kota, pesawat terbang, dimana pun. Tidak harus berdiri, sambil duduk di kursi kendaraan yang ditumpangi pun jadilah.

Apakah kita perlu memamerkan setiap kali kita makan rutin 3 kali sehari atau mandi pagi dan sore? Rasanya tidak.

Se-narsis-narsisnya seseorang sekali pun, dia tak akan memamerkan aktivitas rutin seperti itu. Lalu kenapa belakangan ini aktivitas ibadah, kepatuhan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, seakan jadi obyek perbuatan yang perlu dipamerkan agar seisi jagad tahu?

Sejak kapan sholat menjadi sesuatu yang harus diviralkan? Kenapa ketika seseorang sholat lalu ada sekelompok orang yang bangga karena orang tersebut sholat? Bukankah sholat itu urusan pribadinya dengan Tuhannya?

Dulu kita pernah punya tokoh nasional, Ketua Umum partai politik, Ketua MPR, namanya Amien Rais. Beliau Sering memimpin sholat, bahkan sholat Ied (idul Fitri maupun Idul Adha) pun beliau sudah biasa jadi imamnya. Tapi toh tak pernah bikin heboh dan tak pernah “dibikin” heboh. Kalau pun ada media massa yang memberitakan, itupun tak lebih sekedar liputan berita sekilas saja, tak beda dengan liputan sholat Ied di berbagai daerah lainnya. Jadi apa istimewanya jika ada tokoh politik memimpin sholat?

Begitu pula dengan ibadah lainnya. Mau umroh kek, mau berhaji kek, mau hijrah dari kebiasaan tidak menutup aurat menjadi menutup aurat (bagi perempuan), semua itu hendaknya dilakukan semata karena Allah saja, liLlahi ta’ala.

Janganlah semua itu dilakukan hanya ketika menjelang moment tertentu, semisal mendekati ajang pemilihan umum. Kalau sudah begitu, niatnya jadi “li-suara ummat Islam”, bukan liLlahi ta’ala.

Sejak kapan pameran sholat dan memakai busana Muslim jadi salah satu sarana kampanye?

Saya tak bisa menyebut pastinya kapan, tapi setahu saya Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, dll  tidak pernah melakukan itu.

Bahkan sebelum tahun 2014, rasanya juga belum ada fenomena mempertontonkan ibadah, bahkan memviralkannya agar publik tahu. Apalagi sampai ada yang sengaja mengenakan jilbab dan busana muslimah hanya sepanjang masa kampanye, tapi segera dilepas kembali ketika kampanye usai.

Sungguh ini fenomena menyedihkan di negeri dengan mayoritas penduduk Muslim.

Bahkan, taktik mempertontonkan "kesalehan ritual" itu kemudian diduplikasi oleh politisi lainnya.

Sebuah partai politik baru yang mengklaim diisi orang-orang muda yang idealis, berpemikiran progresif, anti membawa issu agama dalam kampanye, eeeh..., ternyata baru memasuki tahun 2018 saja, salah satu calegnya mendadak pakai kerudung dan busana Muslimah ketika berfoto untuk dijadikan spanduk. Saya pikir partai itu akan berbeda dalam strategi kampanyenya. Saya pikir mereka akan benar-benar steril dari politisasi agama. Ah..., ternyata sama saja.
Tokohnya yang diusung jadi caleg ternyata tak cukup percaya diri maju mengandalkan gagasan, konsep, pemikiran cemerlang. Dia lebih percaya memajang fotonya memakai kerudung di pohon-pohon, di jalanan, merusak keindahan kota, sama saja, tak beda dengan yang sudah dilakukan banyak caleg lainnya.

* * *

Terakhir yang jadi heboh di media sosial adalah foto Presiden Jokowi menjadi imam sholat di Afghanistan, sekaligus foto beliau menjadi makmum sholat di tempat yang sama, dengan urutan makmum (di shaf pertama) yang sama persis. Bedanya hanya terjadi pertukaran imam dan makmum. Nettizen pun jadi ramai membincangkannya.

Belakangan, Kompas merilis berita klarifikasi tentang kedua foto itu, yang satu bersumber dari keterangan Pramono Anung, Sekretaris Kabinet yang ikut serta dalam kunjungan kerja Presiden ke Afghanistan, sedang berita yang satu lagi merujuk pada keterangan Presiden Jokowi sendiri.

Pramono Anung menjelaskan bahwa benar Pak Jokowi menjadi imam sholat Dhuhur, setelah itu dilanjutkan dengan sholat sunnah dimana Pak Jokowi tidak lagi menjadi imam, melainkan ikut jadi makmum. Hal itu dimuat di Kompas tanggal 31 Januari 2018 jam 09.53 WIB. Sedangkan cerita versi Pak Jokowi lain lagi, beliau mengatakan justru sholat Dhuhur dipimpin oleh imam masjid setempat.

Setelah itu, karena berstatus musafir, maka Pak Jokowi dan rombongan sholat jamak taqdim Ashar. Saat sholat jamak taqdim inilah Pak Jokowi menjadi imam. Berita ini dirilis Kompas di hari dan tanggal yang sama, pada jam 11.47 WIB. Bagaimana bisa hanya berselang 2 jam saja, ada keterangan dari 2 orang yang berbeda, keduanya sama hadir di tempat tersebut (Afghanistan), namun keterangannya justru BERTOLAK BELAKANG?

Pramono mengatakan Pak Jokowi memimpin sholat Dhuhur, Pak Jokowi malah mengaku sholat Dhuhurnya dipimpin imam masjid disana, sedangkan dia mengimami sholat Ashar (jamak taqdim).

Katakanlah keterangan Pak Jokowi yang benar, semestinya warga lokal Afghanistan, termasuk Presiden Ashraf Ghani, TIDAK IKUT sholat jamak taqdim Ashar. Sebab mereka BUKAN MUSHAFIR. Tidak ada dalih syar’ie bagi mereka untuk menjamak sholatnya.

Jika makmum di belakang Pak Jokowi hanya terdiri dari rombongan peserta kunjungan kerja asal Indonesia saja, itu wajar. Namun jika dilihat dari foto maupun video tatkala Pak Jokowi menjadi imam, makmumnya termasuk Presiden Ashraf Ghani dan beberapa tokoh setempat. Jadi, mereka sedang makmum sholat apa?! Yang bukan mushafir menjadi makmum mushafir yang menjamak sholatnya?! Aneh bukan??

Inilah dampak negatif dari menjadikan ibadah sebagai salah satu ajang untuk dipertontonkan kepada publik lewat media sosial. Sebelumnya sempat ada kontroversi sholat Maghrib yang konon kata sebagian nettizen jam dindingnya menunjukkan jam 1.

Saya tidak ingin larut dalam kontroversi macam itu. Yang jadi concern keprihatinan saya : kenapa sholat lagi-lagi jadi perdebatan?! Seandainya tak ada yang mengunggah foto sedang sholat, tentu kontroversi yang tak perlu itu tak akan terjadi.

Sebagai seorang Muslim, dimana pun kita berada, ketika masuk waktu sholat, ya wajar jika mencari tempat sholat. Saat di mall, di gedung bioskop, di stasiun kereta api, di bandara, di rest area toll. Jadi, apa istimewanya sholat di tempat-tempat seperti itu?! Apakah perlu dibanggakan?! Apakah perlu difoto dan dibagikan ke media sosial?

Rasanya, kalau seorang Muslim terbiasa melaksanakan sholat minimal 5 waktu, dimana pun dia berada, maka sholat di tempat-tempat seperti itu tidaklah aneh dan tak perlu pula dipertontonkan. Musholla di ruang tunggu bandara, di ruang boarding, di mall, di bioskop, selalu terlihat ramai setiap saat tiba waktu sholat. Dan tak ada yang memanfaatkannya untuk selfie atau meminta orang lain memotretnya, untuk kemudian diunggah ke media sosial.

Satu hal lagi, menjadi imam sholat itu tidak main-main. Seorang “ahlul bait” (tuan rumah) lebih berhak jadi imam atas tamunya.

Seorang yang lebih baik/lebih tinggi ilmu agamanya, lebih berhak jadi imam dibanding orang yang ilmu agamanya masih sedikit.

Seorang yang fasih bacaan Qur’annya, tepat tajwid dan makhroj-nya, lebih berhak jadi imam dibanding yang bacaannya masih kurang fasih.

Dan hal ini tidak berlaku hanya di saat sholat jamaah fardhu yang mengharuskan imam mengeraskan suara saja. Sehingga kemudian ada yang memanfaatkan jadi imam “spesialis” sholat Dhuhur dan Ashar saja, yang tidak dilafadzkan keras bacaannya.

Sebagai Muslim, saya hanya prihatin saja, jika kemudian sholat, memakai hijab, pergi umroh, dll dijadikan alat penarik simpati publik. Karena, pihak yang tak bersimpati tentu akan bereaksi menunjukkan foto lain yang bertentangan dengan itu.

Maka, akhirnya yang jadi kontroversi adalah ibadahnya. Lalu apa yang didapat pelaku?! Ridho Allah belum tentu bisa digapai, tapi riya’ sudah pasti. Apalagi kalau kemudian semua itu dilakukan bukan karena ketaatan kepada Allah semata, bukan karena “sami’na wa ‘atho’na”. Misalnya memakai hijab hanya di musim kampanye, selepas musim kampanye dilepas pula hijabnya.

Kepada siapakah gerangan niat “patuh” itu ditujukan? Ingatlah, sangat besar murka Allah jika niatan ibadah kita bukan ditujukan kepadaNYA. Firman Allah : “Wa maa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun”, artinya “Dan tidaklah AKU ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-KU” (Adz-Dzriyat, 51 : 56).

Wahai para politisi, tolong luruskan kembali niat ibadahmu, agar Allah tak murka. Hentikan menjadikan ibadah, apalagi sholat, sebagai alat kampanye. Allahu ‘a’lam.

Allah tahu segala yang tampak diluar maupun yang disembunyikan dalam hati sekalipun.[***]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...