15 November 2018

Stigma Buruk Islam di Balik Terorisme

Oleh: Moh. Ilyas
Pemerhati Sosial Politik

Pekan-pekan terakhir ini derai air mata membasahi langit negeri ini. Pemantiknya tidak lain adalah serangkaian bom yang meledakkan beberapa tempat dan membuat puluhan nyawa melayang sia-sia.

Diawali dari penyanderaan teroris terhadap aparat di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, kemudian berlanjut ke bom di tempat ibadah di Surabaya, kemudian berturut-turut di Rusun Sidoarjo lalu Polrestabes Surabaya. Keesokan harinya terjadi baku tembak di Surabaya kemudian sehari berikutnya berlanjut ke Polda Riau, dan entah kemana lagi hari-hari esok.

Tentu, ini selain membuat kita menangis, juga sangat meresahkan. Betapa nyawa seperti tak ada harganya, begitu mudah dihilangkan. Bahkan dalam sebagian tragedi itu terdapat anak-anak kecil yang tak berdosa. Ada pula seorang ibu yang sedang membawa anaknya. Sebegitu tegakah seorang ibu membunuh anaknya yang masih lucu-lucunya? Akal kemanusiaan kita benar-benar sulit mencernanya.

Ya, rasa kemanusiaan kita benar-benar dibuat tak berdaya melihat begitu banyak darah yang mengalir, baik dari mereka yang sudah dicap sebagai teroris atau aparat yang bertugas mengamankan negara. Sungguh rasa empati dan niat untuk mengutuk peristiwa itu tak lagi bisa dibendung karena kita sangat benci terorisme, kita benci pembunuhan dan penghilangan nyawa manusia.

Islam Jadi Tumbal

Peristiwa berdarah yang tak berperikemanusiaan itu menyisakan berbagai cerita haru. Dari sekian banyak, yang cukup mengundang perhatian kita adalah stigmatisasi yang begitu masif terhadap Islam.

Islam begitu kuat disandangkan dengan atribut teroris. Islam dituduh sebagai penyebar ajaran terorisme. Seolah-olah Islam melalui ayat-ayat Al-Qur’an memberikan legitimasi bahwa menghilangkan nyawa orang lain diperbolehkan; seakan-akan Islam sangat lekat dengan pembunuhan; seakan-akan Islam sama sekali jauh dari ajaran kasih sayang dan kedamaian yang menyejukkan. Islam benar-benar menjadi ‘kambing hitam’, bahkan tumbal dari rentetan kekerasan dan aksi-aksi teror.

Kini, stigma itu sudah melekat dan mulai benar-benar mendarah daging dalam jiwa masyarakat kita. Dengan selimut kepanikan yang luar biasa, masyarakat kita kemudian menunjukkan sikap alergi, phobia, dan bahkan benci terhadap identitas-identitas Islam.

Dampaknya kemudian muncullah praktik-praktik persekusi terhadap perempuan-perempuan yang mengenakan cadar yang kita saksikan dalam beberapa hari terakhir ini, mulai dari Bali dan di Terminal Tulungagung, Jawa Timur.

Di Bali, pada 14 Mei lalu, seorang wanita bercadar hitam yang sedang duduk bersama anaknya di dekat GOR Ngurah Rai, Denpasar, mendadak diperiksa polisi. Kepada polisi, perempuan itu mengaku sedang beristirahat sambil mengasuh anaknya di lokasi yang berjarak kurang lebih 100 meter dari markas kepolisian setempat. Setelah diperiksa, polisi tak menemukan tanda-tanda jika perempuan bercadar itu adalah teroris.

Di hari yang sama, juga terjadi persekusi terhadap seorang perempuan pengguna cadar, di Terminal Gayatri, Tulungagung. Perempuan tersebut bahkan diminta turun dari bus oleh petugas Dishub, karena dinilai mencurigakan. Belakangan diketahui jika perempuan berinisial SAN itu adalah santri Pondok Pesantren Darussalam, Kelurahan Kampungdalem, Tulungagung, yang ingin pulang ke rumahnya di Ponorogo.

Cadar yang merupakan cara berpakaian Islami akhirnya dipersepsikan dalam suasana ‘fearness’, ketakutan-ketakutan karena yang terbangun dalam benak mereka di balik cadar itu adalah teror, kekerasan, dan hilangnya kelembutan serta kasih sayang.

Pun juga identitas-identitas Islam lainnya seperti sarung, baju koko, dan sorban. Stempel buruk terhadap simbol-simbol yang diidentikkan dengan Islam ini seperti yang dialami salah seorang santri sepulang dari pesantren di Jawa Timur. Ia dipaksa aparat membongkar isi tas dan kardusnya karena pakaiannya yang Islami. Setelah diperiksa, ternyata kardus yang dibongkar berisi kitab kuning.

Maka, tak terelakkan, Islam benar-benar ada dalam cengkraman dan persepsi buruk yang identik dengan terorisme. Islam terus jadi tumbal dan stigma buruk di balik kasus terorisme.

Padahal sejatinya Islam jauh dari tuduhan-tuduhan itu. Dengan kata lain, jika dilihat dalam perspektif ajaran agama, terorisme, kekerasan sejatinya tidak memiliki agama: tidak dalam Islam, tidak pula dalam agama-agama lainnya, terlebih agama samawi. Islam mengajarkan kasih sayang, rahmatan lil ‘aalamin. Bahkan penghargaan Islam terhadap kehidupan manusia begitu tinggi. Secara tersurat Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Al Maidah: 32, “Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.”

Oleh karenanya, jika ada kelompok-kelompok yang menamakan Islam kemudian mempromosikan konsep Islam yang barbar, Islam yang menakut-nakuti, melakukan teror, sejatinya itu bukanlah ajaran islam. Itu adalah penodaan terhadap nilai-nilai Islam itu sendiri.

Terorisme Sarat Konspirasi?

‘War on Terror’ yang dikampanyekan Presiden George W. Bush pasca tragedi 11 September 2001, masih terus bergaung. Saat itu, dua pesawat menabrak menara kembar World Trade Center, New York, Amerika Serikat dan menewaskan hampir 2.792 orang di New York (Marco Sasoli, 2006). Sejak saat itu ‘war on terror’ dideklarasikan sebagai respon atas kejadian tersebut. AS juga menuduh Al-Qaeda dalang serangan itu dan pada Mei 2011 pasukan khusus AS membunuh pendiri Al-Qaeda, Osama bin Laden.

Kampanye ini sukses besar dan berhasil meninabobokkan masyarakat dunia dengan isu terorisme. Tidak hanya itu, dengan menjadikan Al-Qaeda sebagai sasaran tembak, peristiwa kelam itu juga serta merta menjadikan Islam sebagai ‘Global Enemy’, melalui isu terorisme global. Setelah peristiwa itu, Dunia Global didukung media-media mainstream, begitu massif dan satu suara melekatkan Islam dengan terorisme. Ketika menyebut teror, maka di situ ada Islam. Islam seolah-olah menjadi baju dari agama yang sangat kuat mengajarkan terorisme.

Benarkah tuduhan ini? Tentu banyak pihak mempertanyakan dan ini dianggap sebagai kampanye untuk menyudutkan Islam. Bahkan di sisi lain, tragedi 2001 sendiri diungkap sebagai tragedi yang sarat konspirasi.

Wartawan BBC Mike Rudin misalnya pada 7 September 2011 mengangkat sebuah tulisan bertajuk “Teori konspirasi 11 September”. Dalam tulisannya, ia mengungkapkan bahwa sejumlah laporan resmi diterbitkan sejak Menara Kembar ambruk namun ketika bukti-bukti yang ada meragukan teori itu kemudian fokusnya beralih ke “pertanyaan tak terjawab”. Ia mengulas beberapa kejanggalan yang tak terjawab di balik peristiwa itu dengan lima pertanyaan yang tak terjawab. Di antaranya adalah pertanyaan: Mengapa Menara Kembar ambruk begitu cepat di atas landasannya setelah kebakaran di beberapa lantai yang hanya satu atau dua jam?

Teori konspirasi mengatakan Menara Kembar dirubuhkan oleh penghancuran terkendali. Teori-teori ini terkait dengan cepatnya ambruk (sekitar 10 detik), kebakaran pendek (56 menit di WTC2 dan 102 menit di WTC1), laporan-laporan suara ledakan sesaat sebelum ambruk, dan tekanan yang dapat dilihat dari beberapa jendela di banyak lantai bawah. Ada pula pertanyaan, Mengapa tempat pesawat jatuh di Shanksville, Pennsylvania begitu kecil dan mengapa puing pesawat tidak terlihat.

Banyak pihak yang percaya dengan fakta konspiratif ini. Salah satunya Paul Salo, seorang miliarder Amerika Serikat (AS). Ia percaya bahwa serangan 9/11 terhadap menara kembar WTC adalah konspirasi. (Sindonews, 17 Mei 2016).

Di luar Tragedi 11 September 2001, yang juga mengemuka dalam beberapa tahun terakhir adalah fenomena munculnya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). ISIS berkali-kali disebut sebagai dalang kasus teror di berbagai belahan dunia.

Dunia pun mengamini bahwa ISIS adalah kelompok teroris. Hanya saja kepercayaan dunia mulai meragukan organisasi ini, terutama setelah Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton secara terang-terangan mengakui bahwa ISIS merupakan gerakan buatan Amerika Serikat.

Pengakuan tersebut termuat dalam buku terbaru HIllary Clinton “Hard Choice” dan menjadi pemberitaan luas media-media massa internasional akhir-akhir ini. Mantan Menlu di kabinet pertama Presiden Barack Obama itu mengaku, pemerintah AS dan negara-negara barat sengaja membentuk organisasi ISIS demi memecah belah Timur Tengah (Timteng). Hillary mengatakan gerakan ISIS sepakat dibentuk dan diumumkan pada 5 Juni 2013.

“Kami telah mengunjungi 112 negara sedunia. Lalu kami bersama-sama rekan-rekan bersepakat mengakui sebuah Negara Islam (Islamic State/IS) saat pengumuman tersebut,” tulis Hillary.

Dalam buku tersebut juga diuraikan bahwa “negara Islam” itu awalnya akan didirikan di Sinai, Mesir, sesuai revolusi yang bergolak di beberapa negara di Timur Tengah. Namun rencana itu berantakan setelah militer Mesir melakukan kudeta, Juli 2013.

Pengakuan Hillary sejatinya tidak terlalu mengagetkan. Sebab, jauh sebelumnya, Wikileaks, sebuah situs internet yang kerap membeberkan informasi rahasia, telah menerbitkan memo CIA yang membahas tentang AS yang disebut-sebut sebagai “eksportir terorisme”. (Lihat BBC, 26 Agustus 2010). Dalam sebuah temuan yang berbeda, bahkan Bos Wikileaks Snowden, sama sekali tidak setuju jika Islam disebut sebagai aktor di balik terorisme.

Oleh karenanya, di sinilah aparat negara tidak boleh berpikir tunggal bahkan hanya terus membangun stigma buruk terhadap Islam. Dalam kasus teror di Surabaya dan lainnya yang terjadi dalam pekan-pekan terakhir ini, aparat harus mulai berpikir tentang faktor non-ideologi dan faktor di luar banyaknya isu agama yang terus digulirkan. Misalnya faktor politik, faktor ekonomi, dan lainnya. Menggali faktor-faktor non-agama ini juga penting untuk diketahui, karena persoalan yang membelit bangsa ini begitu kompleks. Mulai dari kasus kesenjangan sosial yang begitu menganga yang mengakibatkan orang frustasi hingga kemiskinan yang melanda.

Bahkan ada pula yang mencoba membangun teori konspirasi dalam kasus teror di Surabaya. Entah benar atau salah, tetapi fakta itu ada dan kini banyak tersebar di dunia media sosial. Dalam teori ini disebutkan bahwa seorang ibu yang bersama anaknya itu bukan hendak bunuh diri, tetapi mereka diminta seseorang untuk mengantarkan paket tertentu ke dalam gereja dengan bayaran lumayan besar. Mereka tidak sadar jika paket yang mereka antarkan berisi bom dengan menggunakan remote kontrol.

Spekulasi seperti itu dibangun dengan dalil bahwa tidak mungkin seorang ibu ingin mengorbankan anaknya dalam peristiwa yang sangat tragis itu. Kasih sayang orang seorang ibu biasanya begitu dalam.

Terlepas dari ini benar-salahnya, tetapi perlu juga menjadi bahan renungan sehingga kita terkadang tidak harus berpikir lurus dan hanya menyandarkan pada satu temuan, satu cerita yang diciptakan oleh suatu kelompok tertentu. Sangat boleh jadi, ada pihak yang memanfaatkan isu tersebut.

Oleh karenanya, merujuk pada dunia jurnalistik misalnya kita mengenal istilah “cover both side”. Dalam konteks kejadian ini, kita tidak menemukan ‘cover both side’, kenapa? Karena sumber informasi hanya dari satu pihak, tidak ada dari pihak tertuduh. Sebab, pihak tertuduh semuanya meninggal.

Tentu, dalam hal ini kita tidak meragukan kerja-kerja kepolisian dalam menuntaskan tugas-tugas mereka. Ini hanya mencoba meluruskan persoalan dan mencari titik temu, sehingga hal seperti ini tidak terulang kembali, serta tidak selalu melekatkan Islam dengan kacamata terorisme.

Di sisi lain, kita juga konsisten, apapun dalih di balik aksi teror ini, apapun motifnya, kepentingan apapun yang melatari, dan siapapun otak dan pencipta skenario di belakangnya, ini adalah peristiwa dan kejahatan kemanusiaan dan tidak dibenarkan oleh ajaran agama manapun. Kita melawan terorisme, dalam segala rupa dan wujudnya. Wallahu a’lamu bi al-shawab.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...