19 October 2019

Siapa Bermain Dengan Papua?

Oleh: Desi Dian Sari
Pegiat Literasi

Mengungkap bahwa rusuh papua, bukan rusuh biasa. Terkait gerakan papua merdeka yg menunggu momentumnya.

Kamis (15/8) tepat pukul 9.00 ramai beredar  di grup-grup whatsapp video bentrok antara sekelompok warga dengan mahasiswa asal Papua di kawasan Rajabali, Kota Malang, Jawa Timur. Bentok fisik tak terhndarkan, darah bercucuran dari kedua belah pihak sebab saling lempar batu yang dilakukan.

Tak selang lama,esok harinya  terjadi insiden bentrokan antara ormas dan mahasiswa Papua di Jalan Kalasan, Surabaya, Jawa Timur pada Jumat (16/8/2019) terjadi. Peristiwa itu diduga terjadi karena adanya penistaan simbol negara yang diduga dilakukan oleh mahasiswa Papua. Namun  saat terjadi pengepungan yang dilakukan Ormas pada asrama mahasiswa papua, yang disayangkan adalah munculnya teriakan rassisme yang dilayangkan pada mahasiswa papua “ mahasiswa papua monyet”

Dua peristiwa yang dialami oleh mahasiswa papua ini akhirnya memberi dampak pada keadaan sosial di Papua. Munculah aksi protes yang terjadi di sejumlah daerah di Papua dan Papua Barat sejak Senin (19/8). Mereka tidak terima ketika mahasiswa asal Papua mendapat perlakuan kurang mengenakkan di Surabaya dan Malang, Jawa Timur pada Jumat lalu, (CNN, 22/08/2019)

Aksi turun ke jalan lalu dilakukan. Masyarakat Manokwari, Sorong, dan Jayapura melancarkan aksi protes. Aksi yang terjadi mengakibatkan sejumlah mobil dan bangunan rusak.Gelombang aksi protes belum sepenuhnya berhenti. Masyarakat Mimika dan Fakfak masih berunjuk rasa pada Rabu (21/8).Rusuh yang telah diterjadi di wilayah jawa, telah dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mengakibatkan gelombang kerusuhan semakin meluas.

Kondisi Papua yang memanas kini dipeparah dengan terjadinya pemblokiran internet di papua dan papua barat (21/8). Menangapi hal ini Kabag Penum Divisi Humas Kombes Asep Saputra di Mabes Polri, Kamis (22/8). mengatakan, keputusan Pemblokiran internet diklaim merupakan bagian dari upaya tata kelola untuk menciptakan situasi kondusif di sana.  Agar berita hoax tidak memperparah keadaan. Hal tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan situasi keamanan dan ketertiban di wilayah tersebut.

Aksi bentuk exspresi tidak puas

Akar masalah konflik di papua : penerapan sistem kapitalis yg berbuah ketidakadilan “Papua tanah surga dengan emas melimpah, namun ketimpangan ekonomi juga tak bisa dipandang sebelah mata.”

Jelas saja rakyat papua menuntut merdeka, tanah emas yang mereka duduki tidak mampu memberikan kesejahteraan hidup. Menurut Sandiaga Uno  wajar memang jika masyarakat Papua marah karena ketimpangan ekonomi yang ada tergolong memprihatinkan. Sandi menyebut tingkat kemiskinan masyarakat Papua 8 kali lipat dibanding warga Jakarta.Sandi merujuk kepada Badan Pusat Statistik (BPS). Dia mengatakan angka kemiskinan di Papua meningkat hampir 60 ribu orang sejak tahun 2014 hingga 2018. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk miskin di Jakarta yang hanya 3,5 persen, jumlah penduduk miskin di Papua mencapai 28 persen. Sementara Papua Barat hampir 23 persen.

Sedangkan infrastruktur yang kini masiv dibangun di papua belum menunjukan kemerdekaan ekonomi dan kemandirian masyarakat papua. Seperti inilah neoliberal yang menjerat negeri kita, indonesia.

Ada udang dibalik batu

Peristiwa yang terjadi dipapua bukanlah natural fenomena. Hal ini terlihat dari aksi yang bersaut-sautan  peristiwa aksi di beberapa titik berbeda disinyalit by setting dengan dibungkus ketidakadilan yang menimpa papua dan perbedaan ras yang dimiliki Papua dengan masyarakat kebanyakan di wilayah indonesia.

Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Komarudin Hidayat menyebut ada pihak-pihak yang merasa senang apabila melihat Papua dan Papua Barat terlepas dan memisahkan diri dari Indonesia. (CNN, 24/08/2019)

Hal itu ia katakan untuk merespon menyusul terjadinya kerusuhan akibat pernyataan rasis yang terjadi di provinsi Papua dan Papua Barat belakangan ini.Komarudin menjelaskan bahwa orang-orang Papua saat ini tergolong dalam kategori Ras Melanesia. Ia menjelaskan bahwa ras Melanesia dalam ilmu Antropologi merupakan ras yang tertua di muka bumi ini.

Bisa jadi isu rassisme digulirkan agar masyarakat papua merasa dianak tirikan oleh negerinya sendiri. Sehingga masyarakat papua menuntut referendum. Padahal  apabila papua memang melaksanakan referendum bukan berarti kehidupan masyarakat papua mengalami peningkatan kesejahteraan. Lebih parah, papua bisa menjadi rebutan dari negara lain sebab kekayaan alam yang dimilikinya.

Solusi yang haqiqi

Hanya islamlah yang bisa menuntaskan problem di Papua. Dengan menghentikan exploitasi kekayaan alam yang dilakukan dengan dalih investasi, maka papua bisa lepas dari jerat kemiskinan. Kekayaan di tanah papua harus didistribusikan secara merata pada rakyat

Bagaimana tidak, bumi papua yang subur dengan mineral terpaksa diserahkan pengeloaannya pada asing padahal dalam islam seharusnya pengelolaan air api dan tanah adalah negara untuk kemaslahatan rakyatnya. Apabila negara tidak mampu, maka bisa mendatangkan pakar untuk membantu tata kelola bukan malah menyerakannya begitu saja pada asing atau aseng.

Islam hadir tentu tidak hanya sebagai agama ritual dan moral belaka. Islam juga merupakan sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problem kehidupan, termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam. Allah SWT berfirman:

Kami telah menurunkan kepada kamu (Muhammad) al-Quran sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk, rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (TQS an-Nahl [16]: 89).

Menurut aturan Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing. (Walahu'alam bi sawab)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...