21 November 2017

Setyo Novanto Lebih Sakti dari Pangeran Alwaleed bin Talal dan Paul Manafort

Oleh: Haris Rusly
Eksponen Aktivis Mahasiswa 1998, Yogyakarta

Di Kerajaan Saudi Arabia, pangeran Walleed bin Talal ditangkap oleh Komite Anti Korupsi setempat yang dipimpin oleh Putra Mahkota, Muhammed bin Salman.

Pangeran Talal bukan sembarangan Pengeran. Pangeran Talal dikenal sebagai “ngarso luar” dari Kerajaan Saudi. Kekayaan Pangeran Talal bahkan jauh lebih besar dari Raja Salman sebagai “ngarso dalem” Kerajaan Saudi.

Pangeran Talal adalah pemilik dari King Holding, yang menaungi ratusan perusahaan yang bergerak di berbagai bidang investasi. Sejumlah media international merilis kekayaan Pangeran Talal yang mencapai Rp. 2.080 triliun.

Namun, orang kuat yang sangat berkuasa itu tak sakti lagi. Salah satu raja kartel minyak dan penguasa kartel keuangan global itu kini telah mendekam di penjara. Kita tinggal menunggu hukum syariat Islam yang berlaku di Saudi memvonis hukum potong tangan terhadap para koruptor yang terdiri dari para pangeran tersebut.

Di Amerika, bekas manager kampanye Donnald Trump, Paul Manafort, juga ditetapkan sebagai tersangka pencucian uang oleh FBI. Manafort dituding menyembunyikan pembayaran sebesar $ 750.000 (lebih dari Rp. 10 miliar) dari sebuah kelompok pro Rusia, pada tahun 2009.

Paul Manafort orang penting yang sangat berjasa mengantarkan Donnald Trump terpilih jadi Presiden, kini tak sakti lagi. Kekayaan yang melimpah, disertai jaringan intelijen dan koneksi kartel global yang sangat luas itu tak mampu menolong dirinya. Kita tinggal menunggu vonis pengadilan setempat, Manafort masuk penjara.

Pangeran Waleed dan Manafort dianggap sebagai “kanker” yang membahayakan negaranya masing-masing. Lebih jauh lagi, kedua pemain global tersebut dianggap sebagai “kanker” bagi rezim baru global, harus diamputasi.

Dollar tak laku, jaringan yang luas tak berfungsi, back up kekuasaan terkunci. Sekalipun ada “drama sakit” dan infus yang salah colokan, tak akan menolong. Alawaleed dan Manafort adalah korban “patahan sejarah”, akibat gesekan antar lempeng kapital.

Alwaleed dan Manafort adalah contoh dari tumbangnya oligarki tua global, digulung oleh oligarki baru global yang menghendaki perubahan bentuk baru dan cara baru dalam penghisapan.  

Novanto Sakti Mandraguna

Di Indonesia, Setya Novanto, bukan siapa-siapa. Novanto bukan sang pangeran seperti Alwaleed bin Talal. Novanto bukan Paul Manfort, salah satu aktor non-state, yang sangat kuat pengaruhnya, luas jaringan internationalnya.

Novanto bukan pejuang revolusi kemerdekaan 1945 yang memerdekan bangsa Indonesia dari penjajahan asing. Novanto tak tercatat terlibat mendirikan Sekber Golongan Karya yang kemudian menjadi Partai Golkar di era reformasi.

Novanto juga bukan prajurit TNI yang pernah mempertaruhkan jiwa dan raganya dalam berbagai operasi militer membela kepentingan rakyat, bangsa dan negara.

Novanto tak pernah bernah berjasa dalam berbagai episode sejarah gerakan mahasiswa yang sangat beresiko. Novanto tak tercatat sebagai aktivis gerakan mahasiswa tahun 1966 yang menggusur Soekarno dan PKI.

Novanto tak pernah tercatat dalam gerakan mahasiswa 1974, Malari, yang dipimpin oleh Hariman Siregar melawan modal asing. Hariman pernah mendekam di penjara karena keberanian dan pengorbanannya. Novanto juga tak terlibat dalam gerakan mahasiswa tahun 1998 menumbangkan Presiden Soeharto yang berkuasa selama 30 tahun.

Novanto juga bukan intelektual ulama seperti Prof Din Syamsuddin yang mempunyai kapasitas dan integritas hingga dipercaya memimpin Pengurus Pusat Muhammadiyah dua periode.

Novanto juga bukan budayawan kaliber seperti Emha Ainun Nadjib yang mempunyai pengaruh luas dan terus berkarya dan bekerja menyemai kesadaran berbangsa di kalangan akar rumput, dari zaman Orba hingga zaman reformasi. Cak Nun tetap berjuang dengan caranya, tak pernah berhenti.

Novanto juga bukan rohaniawan seperti Romo Sandiyawan yang senantiasa bekerja secara “diam” di pelosok-pelosok yang kumuh bersama orang-orang yang tidak diuntungkan oleh sistem, dirugikan oleh penguasa dan pemodal serakah yang tak berperikemanusian.

Dalam dunia bisnis, sepak terjang Novanto tidak sehebat pemilik group Indofood, bisnisnya menggurita, memperkerjakan puluhan, bahkan ratusan ribu pekerja. Banyak orang menggantungkan nasibnya di sana.

Lalu jasa Novanto itu apa hingga dia menjadi orang yang begitu penting? Kenapa Setya Novanto sangat penting di mata beberapa orang pejabat di istana, sangat penting bagi pimpinan dan anggota DPR-RI?

Tak kurang dari Jenderal Luhut Panjaitan yang menjadi tangan kanan Presiden Joko Widodo menyempatkan diri datang menjenguk Setya Novanto dalam “drama sakit” di sebuah rumah sakit swasta. Kehadiran Pak LBP itu dianggap sebagai “kode” back up politik dan hukum dari istana kepada Novanto.

Bukankah Setya Novanto pernah “mendiskreditkan” dan “menjual" nama Presiden Joko Widodo dalam episode rekaman papa minta saham. Kenapa Pak Presiden Joko Widodo tak merasa tersinggung atas penghinaan itu?

Kami menduga kekebalan dan kesaktian Setya Novanto karena konon kabarnya beliau orang yang baik hati dan sangat dermawan. Pak Nov katanya sangat hobi “nyawer” kepada para politisi, pejabat negara, penegak hukum, dan parasit politik lainnya. Sekali lagi, ini hanya dugaan semata.

Ada juga bisik-bisik yang lain beredar, katanya Pak Nov sakti karena diduga selalu dilindungi oleh istana negara. Konon katanya Pak Nov memegang kunci-kunci rahasia yang jika terbongkar, dapat membahayakan kelangsungan kekuasaan sang raja.

Sebagai catatan penutup, kami sangat setuju jika koreksi dan kritik dilakukan terhadap jalannya penegakan hukum oleh KPK. Kritik, pengawasan dan koreksi terhadap KPK adalah hak konstitusional kita sebagai warga negara, hak konstitusional DPR.

KPK bukan Tuhan pemilik kebenaran dan kebijaksanaan. Aneh jika ada yang menentang kritik dan pengawasan kepada KPK. Namun jangan sampai tujuan mengoreksi KPK ditumpangi dan dibelokan untuk membebaskan Setya Novanto dan sejumlah koruptor dari jeratan hukum.*

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...