19 October 2018

Setya Novanto Tak Sendiri dan Ada Apa dengan JK?

Kegaduhan politik kembali terjadi setelah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said yang kemarin pagi resmi melaporkan anggota DPR kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) terkait pencatutan nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden, Jusuf Kalla terkait perpanjangan kontrak karya PT. Freeport Indonesia.

Kegaduhan muncul dari tiga pimpinan DPR, Setya Novanto, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah yang kompak untuk menyerang Sudirman Said dengan berbagai dalih dan alasan yang mencerminkan ada apa dengan ketiga pimpinan DPR ini?

Dimulai dari Statement Ketua DPR, Setya Novanto, yang baru saja pulang dari lawatannya ke Jepang, dan pulang ke tanah air, tiba-tiba mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang menimbulkan tanda tanya besar terhadap pernyataan Novanto yang menyebut bahwa tidak ada sama sekali anggota DPR yang mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Terkait perpanjangan kontrak karya Freeport.

Pernyataan Novanto tersebut mengundang kecurigaan yang mendalam dari publik luas dan sesuai dengan pernyataan Sudirman Said yang menyebut Novanto adalah makelar dari Freeport. Yang membuat publik makin percaya Novanto adalah orang dibalik Freeport adalah persoalan  Mengapa Novanto yang baru saja pulang dari lawatannya dari Jepang, Langsung berbicara seperti itu, dan ini semakin menimbulkan titik terang, Siapa sebenarnya yang dimaksud oleh Menteri ESDM, Sudirman Said yang sebelumnya menyebut bahwa ada seorang anggota DPR, yang disebutnya sebagai ‘’orang kuat DPR’’ menjadi makelar maupun calo dalam perpanjangan kontrak karya Freeport. Dan kini terjawab sudah, Setya Novanto adalah pencatutu nama Jokowi dalam perpanjangan kontrak Freeport.

Setelah Novanto, Fadli Zon pun tak ketinggalan untuk bersuara. Ibarat tak mau ketinggalan kereta, Fadli Zon pun dengan cepatnya menyebut, Menteri ESDM sebagai menteri yang tidak berprestasi. Fadli Zon juga menyebut bahwa apa yang dilakukan oleh Sudirman Said jelas hanya membuat kegaduhan politik saja. Bagi Fadli Zon, Tindakhan Sudirman Said yang melaporkan anggota DPR, yang juga sebagai ‘’orang kuat di Senayan’’ ini hanya ingin mengalihkan isu saja. Begitulah pernyataan Fadli Zon setelah mendengar Sudirman Said melaporkan ‘’orang kuat Senayan’’ tersebut ke Mahkamah Kehormatan Dewan, kemarin pagi pukul: 09:45 Wib.

Bahkan menurut Fadli Zon, Sebenarnya tidak ada masalahnya jika ada anggota DPR dan pengusaha bertemu, Karena belum tentu juga membahas persoalan perpanjangan kontrak karya Freeport yang baru berakhir pada 2021 mendatang, dan baru dapat diperpanjang dua tahun sebelum berakhirnya masa kontrak, yakni tahun 2019

Pernyataan Fadli Zon tersebut sesungguhnya jika dimaknai lebih dalam , Maka jawabannya lebih kepada kekhawatiran yang luar baisa dari pimpinan DPR, khususnya Setya Novanto, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah yang cepat-cepat mengeluarkan pernyataan yang seolah-olah menimbulkan kesan di publik, Ada apa dengan tiga pimpinan DPR-RI ini?.

Apa Pula yang mereka sembunyikan sehingga pernyataan yang dikeluarkan tersebut terkesan ada yang disembunyikan dan menggambarkan ekspresi ketakutan dan kepanikan dari ketiga pimpinan DPR tersebut. Tak pula ingin ketinggalan kereta, Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah pun bersuara dengan lantang. Menurut Fahri justru Sudirman Said yang ingin memperpanjang kontrak karya Freeport tersebut. Dan masih menurut Fahri, Kebijakan Sudirman Said justru mempermudah pemberian izin perpanjangan kontrak Freeport. Bahkan dua pmpinan DPR lainnya, Fadli Zon dan Fahri Hamzah juga perlu diperiksa oleh MKD, untuk memastikan betul, apakah keduanya tidak ikut dalam permainan tersebut.

Bahkan pertemuan mendadak Novanto yang ingin bertemu dengan JK juga seharusnya ditolak oleh JK. Novanto sangat aneh dan terlihat sangat panik, Karena pertemuannya dengan JK ingin membantah soal namanya yang diduga sebagai calo atau makelar Freeport . Sangat disayangkan JK yang menerima permintaan pertemuan Novanto yang terkesan panik tersebut. Mengapa JK tidak sadar? dan mengapa JK menerima permintaan Novanto?. Terkesan keduanya memang sedang menutupi sesuatu.

Diketahui sebelumnya JK sempat marah besar setelah tahu inisial SN tersebut muncul, Tetapi yang sangat janggal mengapa JK menjadi polos dan menerima permintaan khusus dari Novanto untuk bertemu dengannya. Pertemuan itu membahas persoalan klarifikasi Novanto kepada JK, bahwa tidak benar dirinya yang jadi makelar Freeport. Sungguh mengherankan, disaat inisialnya beredar luas, dan JK sempat marah besar, Namun kini JK seolah polos. Usai pertemuan JK pun bersilat lidah, dengan menyatakan pasti dalam pertemuan tersebut, Novanto tidak seagai pimpinan DPR. Ada Apa dengan JK?

Mencermati lebih jauh dari kekompakan tiga pimpinan DPR tersebut semakin mengundang kecurigaan oleh publik, bahwa sangat terlihat jelas mereka sedang panik dan khawatir akan terbongkarnya rahasia gelap yang sudah mereka tutup-tutupi selama ini. Jika memang ketiganya tidak merasa menjadi bagian dari makelar maupun calo yang dimaksud oleh Sudirman Said, Ketiganya tidak perlu kompak membantah dan menyerang Sudirman Said dengan dalih-dalih yang yang aneh terkesan menunjukkan ekspresi ketakutan yang luar biasa dari tiga pimpinan DPR tersebut. Sebelumnya diketahui bahwa, Menteri ESDM dalam wawancara langsungnya dengan Kompas TV beberapa waktu yang lalu menyebut bahwa ada ‘’politisi kuat’’ di Senayan sekaligus sebagai ’politisi populer’’ yang mencatut nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam kunjungannya ke Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu. Namun yang menjadi salah satu alasan mengapa Novanto berani menjual nama Jokowi-JK adalah disebabkan oleh kepolosan, kesabaran, ramah, bersahaja,  jarang marah, yang lalu kemudian menarik Novanto untuk menjual nama keduanya.

Sudirman Said menjelaskan bahwa politisi kuat di Senayan itu bersama seorang pengusaha sudah melakukan beberapa kali pertemuan dengan petinggi Freeport. Bahkan Sudirman dalam keterangannya saat melaporkan politisi kuat Senayan yang mencatut nama Jokowi dan JK tersebut menyebut bahwa , dalam pertemuan ketiga, yang dilakukan di salah satu hotel dikawasan Pasific Place SCBD, Jakarta Pusat, ‘’Politisi kuat Senayan’’ dan seorang pengusaha minyak tersebut meminta 49% saham Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Urumuka di Timika, Papua yang akan dibangun oleh Freeport.

Masih dalam kesempatan yang sama, Sudirman Said juga menyebutkan bahwa ‘’politisi kuat Senayan’’ dan seorang pengusaha minyak tersebut meminta 20% saham yang akan diberikan kepada Jokowi-JK atas permintaan keduanya terkait perpanjangan kontrak Freeport. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah persoalan isi dari rekaman yang sudah diungkapkan oleh salah satu pimpinan Mahkamah Kehormatan Dewan, Junimart Girsang yang menyebut pengusaha tersebut adalah pengusaha terkenal.

Dalam rekaman yang sudah diputar tersebut, Terdengar adanya percakapan pengusaha terkenal tersebut yang menyatakakan bahwa jika semua urusan Freeport selesai, Maka akan happy-happy,  main golf, hingga membeli jet pribadi. Sungguh menggejutkan, Karena ini seolah gunung es yang baru terungkap sekaranf, Padahal permainan makelar maupun calo seperti ini sudah lama dipraktekkan.  Saham yang diminta 11% (Jokowi) dan 9% (JK) Selain itu, Sudirman juga menyebut bahwa ‘’politisi kuat Senayan’’ ini juga meminta jatah proyek untuk pembangunan proyek listrik  yang akan dibangun di Timika, Papua, dan juga meminta agar Freeport menjadi pembeli tenaga listrik yang dihasilkan dari proyek tesebut.

Sudirman juga menyebut bahwa ‘’politisi kuat di Senayan’’ ini juga menjanjikan suatu cara penyelesaian tentang kelanjutan dari kontrak Freeport di Indonesia. Dan meminta agar Freeport memberikan saham yang disebut akan diberikan kepada Jokowi dan JK. Dan jika sudah demikian, Jokowi harus segera mengambil langkah tegas untuk menyingkirkan Novanto yang diakui oleh Sudirman Said sebagai makelar Freeport yang menjual namanya dalam perpanjangan kontrak karya Freeport. Jokowi juga tidak perlu ragu-ragu untuk menyingkirkan Novanto dari kursi Ketua DPR, Karena apa yang dilakukan Novanto dengan mencatutut nama Jokowi, Jelas ini merusak nama bangsa dan negara. Dan untuk menghindari permainan lebih lanjut oleh Novanto, Maka Jokowi harus sesegera mungkin menindak tegas Novanto dengan menendangnya dari kursi Pimpinan DPR-RI!

Langkah Menteri ESDM, Sudirman Said yang melaporkan adanya politisi kuat sekaligus populer di Senayan ini patut diapresiasi dan angkat topi setinggi-tingginya, Karena ini adalah bagian dari langkah tegas Kementrian ESDM, dibawah komando langsung Sudirman Said untuk membongkar habis mereka-meraka yang menjadi bagian dari mafia migas, Termasuk rente pemburu keuntungan dirinya, kelompoknya, serta memberikan beban kerugian yang sangat besar bagi Indonesia.

Namun, Yang herannya justru tiga pimpinan DPR, Setya Novanto, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah justru seolah tidak terima dengan keputusan Sudirman Said yang melaporkan ‘’politisi kuat Senayan’’ kepada Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) atas pencatutan nama Jokowi dan JK dalam proses perpanjangan kontrak Freeport di Papua.

Ketiganya seharusnya mendukung keputusan Sudirman yang melaporkan ‘’orang kuat di Senayan’’ itu ke Mahkamah Kehormatan Dewan, yang tujuannya tak lain adalah agar semuanya clear, Bukan justru menyerang Sudirman dengan berbagai dalih yang mencurigakan seperti itu, Dengan terkesan menyerang Sudirman yang telah bijak membawa masalah ini ke MKD, Justru yang terlihat ketiganya panik dan galau.

Dan tentunya keputusan Sudirman Said yang melaporkan ‘’orang kuat Senayan’’ kepada Mahkamah Kehormatan Dewan diyakini sudah mendapat persetujuan langsung dari  Presiden Jokowi. Karena Sudirman adalah salah satu menteri yang patuh pada perintah atasannya, ini mengacu pada perintah Jokowi yang memerintahkan Sudirman Said membubarkan Petral, Karena dianggap sudah menjadi sarang tawon.

Dan terakhir, Yang menjadi harapan publik tentunya agar Mahkamah Kehormatan Dewan ini mampu menjaga kredibiltasnya, menyelesaikan dan mengusut tuntas kasus ini, MKD tidak perlu takut terhadap politisi kuat atau siapapun itu, Karena inilah saatnya MKD menjalankan fungsinya, setelah beberapa kali fungsi dan kewenangannya tidak terlihat sama sekali. MKD harus menjatuhkan sanksi yang berat terhadap ''orang kuat di Senayan'' tersebut, karena semua bukti.

Dari dokumen hingga bukti rekaman sudah diserahkan oleh Menteri ESDM, Sudirman Said saat melaporkan ''politisi pencatut nama Jokowi-JK'' tersebut tadi pagi di Mahkamah Kehormatan Dewan. Bahkan Freeport pun mengakui bahwa ada beberapa kali pertemuan dengan Novanto. Itu artinya, Setya Novanto adalah makelar atau calo dari Freeport yang berhasil terkuak karena kecerdasan Sudirman Said.

(Ricky Vinando, Analisis Politik-Hukum Kompasiana | Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Jayabaya/KCM)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...