14 November 2019

Rindu Pemimpin Sejati, Bukan Sekedar Bisa Ngaji

Oleh: Yuyun Rumiwati*

Akhir-akhir ini sedang ramai perbincangan terkait test bacaan Al-Qur'an Capres. Bermula dari undangan Ikatan Dai Aceh untuk kepada kedua kandidat Capres untuk diuji bacaan Qur'annya, (Tribunnews.com 30/12/2018).

Tantangan uji baca qur'an tersebut, disenyalir berasal dari Koalisi Indonesia pro Jokowi-Ma'ruf.

Layak jika sambutan hangat disambut oleh pasangan Jokowi ma'ruf. Termasuk oleh Ridwan Habib (Peneliti Radikalisme dan Gerakan Islam), dengan dalih untuk mengetahui kualitas calonnya.

Lalu ada apa dibalik tantangan uji baca Al-Qur'an tersebut? Dan bagaimana seharusnya masyarakat menyikapinya?

/Demokrasi Menghalalkan Segala Cara Demi Suara/

Tabiat Sistem Demokrasi adalah menjadi kekuasaan sebagai tujuan. Karena jumlah suara sebagai penentu kemenangan, maka segala cara digunakan untuk mendulang suara. Termasuk tantangan untuk mengetest bacaan Al-Qur'an pun tidak lepas dari alat pendulang suara. Khususnya menarik simpati rakyat Aceh yang syu'ir Islamnya menonjol.

Hal di atas menunjukkan bahwa tantangan tersebut sebagai alat mempolitisasi agama untuk meraih kekuasaan. Bukan semata keseriusan untuk menampilkan kelayakan calon pemimpin

/Al-Qur'an Petunjuk dan Solusi Hidup Manusia/

Allah berfirman dalam Qs. Al-Baqoroh : 185, " ..Al-Qur'an Hudalinnas (Al-Qur'an adalah petunjuk manusia). Disamping sebagai petunjuk juga berfungsi sebagai Al-Furqon (Pembeda antara yang benar dan salah).

Dari penjelasan ayat di atas, tentu tidak cukup untuk mengetahui kualitas kepemimpinan capres sebatas uji bacaan Qur'annya. Lebih dari itu, bagaimana visi misi kepemimpinannya. Pemimpin sejati adalah pemimpin yang faham masalah dan solusi hakiki. Karenanya keberadaan Al-Qur'an sebagai petunjuk dan solusi kepemimpinan dalam penyelenggaraan negara lebih dibutuhkan dalam mengemban amanahnya.

Bukan berarti membaca Qur'an tidak penting. Tapi terlalu kulit bahkan bisa membawa meremehkan al-qur'an jika sekedar dibaca saja. Tanpa komitmen untuk menerapkan aturan yang dikandungnya.

Posisi kepemimpinan memiliki kesempatan besar untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai solusi atas problematika bangsa. Terlebih di tengah carut marutnya politik, ekonomi, sosial da budaya akibat sistem kapitalisme yang diberlakukan di negeri ini.

Dan kesempurnaan Islam yang terkandung di dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist sudah menjamin bisa mengeluarkan dari kesempitan hidup di dunia maupun akhirat (Qs. At-Thaha: 124). Adakah keseriusan dari capres untuk mengeluarkan negeri ini dari kesengsaraan ini dengan aturan Allah? Atau masih bersikokoh hanya menjadikan Islam dan umat Islam sebagai alat mempertahankan kekuasaan?

Memang bukan hal yang mudah menjadikan Al-Qur'an sebagai sumber solusi di sistem kapitalis-demokrasi. Para kapital dan pihak-pihak yang teruntungkan dengan menguasai aset-aset negeri tidak akan rela dan tinggal diam. Tudingan intoleran, diskriminasi dan lainnya akan mereka tuduhkan.

Kondisi tersebut adalah jebakan kapitalisme-demokrasi yang tidak memberikan peluang keadilan aturan Allah terterapkan secara sempurna. Sudah saatnya selamatkan negeri dari cengkraman kapitalisme-demokrasi dengan kembali pada aturan ilahi yang diberkahi.

---------

* Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...