11 December 2019

Radikalisme: Gorengan yang tak Kunjung Matang

Oleh : Eriga Agustiningsasi, S.KM
Kota Pasuruan

Radikal radikal radikal!! Kata yang tak asing terdengar di telinga kita. Hampir tiap hari kita melihat berita dengan tayangan yang sama. Radikal yang terkadang disebut radikalisme ini menjadi tema yang hangat bahkan terasa panasnya hingga sekarang. Sebenarnya apa itu radikal dan radikalisme? Seolah dua kata ini menjadi momok yang sangat menakutkan seakan akan dinarasikan menjadi musuh bersama karaena mengancam negara. Bahkan PresidenJokowi serta beberapa menteri yangbarudlantikpun sepertiKementrian Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN-RB), bersama sejumlah kementerian dan lembaga terkait diantaranya Kemenko Polhukam, Kemendagri, Kemenag, Kemenkominfo, Kemendikbud, Kemenkumham, BIN, BNPT, BIPP, BKN, KASKN (CNNIndonesia.com 15/11/2019)

Radikal berasal dari bahasa latin yang memiliki arti akar. Sedangkan menurut KBBI, radikal memiliki arti secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip). Sedangkan radikalisme ialah paham atau aliran yang radikal dalam politik. Artinya radikal masih bermakna netral, tidak cenderung keagamaatau kelompok tertentu. Jika radikalnya ialah hal yang baik, tentu hal tersebut tak masalah. Misalnya radikaldalam berperilaku baik artinya menjunjung tinggi norma ketimuran hingga tak terpengaruh dengan budaya barat. Hal tersebut juga perkara mendasar, yaitu berpegang teguh pada nilai ketimuran yang menjunjung tinggi sopan santun. Atau bagi seorang muslim, berpegang teguh pada prinsip Islam secara mendasar adalah suatu kewajiban sebagai seorang muslim yang tugasnya menghamba kepada Allah.Seperti yang tertera dalam Al Qur’an Surah Adz Dzariat ayat 56, Allah berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Namun berbahaya jika radikal yang dipakai ialah selain dari nilai nilai Islam. Misalkan radikal dalam berperilaku tidak terpuji atau hal-hal yang merugikan lainnya.

Namun sayang sungguh sayang tuduhan radikal atau yang dimaksud selama ini ialah mengarah kepada Islam yang berkonotasi negatif. Bagaimana tidak. Simbol-simbol seperti jenggot, cadar, buku Islam, syurga, bahasa arab hingga Al Qur’an pun menjadi barang bukti yang selalu dikaitkan dengan terorisme atau yang sering mereka tuduhkan ialah radikalisme. Disebut-sebut gerakan yang sangat membahayakan negara karena hendak mengganti ideologi negara dengan Islam melalui aksi kekerasan seperti pengeboman yang sering terjadi di Indonesia.

Tuduhan keji ini telah dialamatkan kepada Islam sejak dahulu. Diawali dengan narasi terorisme yang dilekatkan kepada ajaran Islam yang kata mereka ‘keras’. Dunia menjadi takut dengan Islam. Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang penasaran untuk mengkajinya hingga mereka tersadar bahwa kegiatan teror seperti pengeboman sama sekali tidak diajarkan oleh Islam. Lalu apakah narasi keji ini terhenti begitu saja? Tentu tidak. Mereka (pihak yang tidak suka dengan Islam) akan mencari banyak cara untuk menjadikan Islam kehilangan kepercayaan di tengah-tengah kaumnya sendiri.

Munculah narasi radikalisme yang dirasa mudah untuk diterima masyarakat dan menjadikan radikalkisme versi mereka sebagai musuh bersama. Namun bak definisi karet, radikalisme menjadi memiliki definisi lebar yang bisa menggaet siapapun yang bertentangan dengan kehendak penguasa. Pengamat terorisme dari Comunity ofIdeologicalIslamic Analyst (CIIA) Harist Abu Ulya menilai jika tidak ada definisi yang jelas tentang radikalisme dia menganggap bakal berefek bias ke berbagai aspek.Terlebih radikalisme ini selama ini kerap diidentikkan dengan agama tertentu (CNNIndonesia.com 15/11/2019).

Wajar narasi yang digoreng terus menerus ini hingga saat ini sudah menyangkut ranah simbolis bahkan perkara individu terkait ajaran Islam. Misal terkait dengan pakaian, penampilan berjenggot, interaksi lawan jenis yang dipisah sesuai syariat Islam, bahkan buku-buku pelajaran tentang jihad di masa Rosulullah dihapus atas dasar toleransi. Padahal masalah di negeri ini sungguh kompleks, bukan karena radikalisme yang terus digembor-gemborkan hinggga saat ini. Kemiskinan, hutang semakin banyak, korupsi tiada henti, keamanan semakin terancam, harga kebutuhan semakin merangkak naik dan lain sebagainya. Kemudian timbul pertanyaan. Untuk apa narasi ini digoreng terus menerus? Untuk menjauhkan kaum muslim dengan ajaran Islam yang sesungguhnya? Ajaran Islam yang kaffah? Demi menutupi masalah yang sebenarnya saat ini?

Padahal jelas Allah telah mengabarkan bahwa berIslam harus Kaffah (menyeluruh). Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu” (QS. Al Baqarah: 208).

Jika tujuannya demikian, maka selamanya narasi radikalisme tak akan berhasil menjauhkan kaum muslimin dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Narasi radikalisme yang digoreng terus menerus selamanya tak akan kunjung matang bahkan menjadi basi atau bahkan gosong, pahit bagi ‘penjual gorengan’ ini. Karena kebangkitan Islam adalah suatu kepastian, telah menjadi janji Allah dan RosulNya. Sesungguhnya Allah adalah maha pembalas makar. Allah berfirman,

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS Al Imran: 54)

Jadi jangan termakan isu media dengan narasi radikalisme yang tidak bertanggung jawab. Sebagai seorang muslim, sepatutnya kita bersabar dengan menyampaikan kebenaran Islam di tengah-tengah umat, hingga hari itu tiba. Hari di mana janji Allah terwujud, sesuai dengan firmanNya,

“Dan Allah Telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana dia Telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang Telah diridhai-Nya untuk mereka, dan dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa...” (QS. An Nur: 55)

Sesungguhnya Islam bukanlah ancaman melainkan solusi atas semua permalahan karena datangnya bukan dari manusia, melainkan dari Pencipta manusia. Dialah Allah SWT.

Semoga kita termasuk orang-orang yang istiqomah dan bersabar dalam menyampaikan kebenaran Islam. Amiin.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...