22 September 2019

Propaganda Rusia, Kecerobohan Jokowi

Gaya calon presiden Joko Widodo belakangan berubah 180 derajat. Dari bertahan, balik menyerang. Sayang serangan Jokowi ceroboh. 
 
Serangan yang dilontarkan Jokowi tak terukur. Bukti paling terlihat adalah ketika Jokowi menggunakan diksi 'Propaganda Rusia' saat mengomentari hoaks. Pilihan kata Jokowi jelas ceroboh. Tak heran bila kedutaan besar Rusia di Indonesia langsung bereaksi dan menyatakan istilah 'Propaganda Rusia' tidak berdasarkan realitas. 
 
Rusia juga menyatakan tak ikut campur dalam pemilihan umum di Indonesia. 
 
Jokowi jelas tak memikirkan dampak ucapannya. Bahasa jawanya, maaf, asal njeplak. Kalau bahasa betawi-nya, Sekate-kate. 
 
Hubungan diplomatik Indonesia-Rusia bisa terganggu dengan ucapan Jokowi, yang hingga kini masih berstatus Kepala Negara.  
 
Tak hanya soal Propaganda Rusia, serangan dari Tim Jokowi-Ma'ruf juga blunder. Misalnya, Wali Kota Semarang Hendrar Priyadi yang melarang warga menggunakan jalan tol bila tak mendukung Jokowi, dan pernyataan Menkominfo Rudiantara yang mempertanyakan siapa yang menggaji Aparatur Sipil Negara. 
 
Serangan balik yang dilakukan Jokowi dan timnya, mengundang pertanyaan besar? Ada apa? 
 
Sebegitu paniknya kah Jokowi? 
 
Wajar bila dia jengkel dengan berita-berita bohong yang ditujukan kepadanya. Tapi, Jokowi juga harus kontrol dan tak ikut membabi buta menyerang lawan.  
 
Menyerang juga pakai ukuran. Ingat status Jokowi masih presiden, kepala negara dan kepala pemerintahan.  
 
Bila terus melanjutkan serangan secara brutal, rakyat akan menilai Jokowi sedang panik. Bukankah Jokowi sendiri yang bilang, berpolitik harus santun. 
 
Tapi, mengapa justru istilah sontoloyo, genderuwo, propaganda Rusia, justru terlontar dari mulutnya. Inikah wujud politik santun yang dimaksud Jokowi? 
 
Pemimpin harusnya memberi contoh dan teladan. Marah, jengkel, kesal sebaiknya simpan saja di kantong. Tak perlu ditunjukkan kepada rakyat. 
 
Semakin agresif, Jokowi justru akan rugi. Rakyat butuh pemimpin yang tenang, dan tak mudah terpancing dengan isu isu di medsos yang liar. (Rudi Budiman)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...