21 August 2019

Pilgub Jabar, Medan Pertempuran Kedua Setelah DKI

Pilkada serentak 2018, akan berlangsung 14 bulan lagi, namun aura panas pertempuran sudah mulai terasa. Setelah Pilkada DKI 2017 usai, para “combatant” terutama di dunia maya (cyber army) sudah mulai bertempur kembali. Medan tempur kedua, second front yang dipilih adalah Jawa Barat.

Ada beberapa alasan mengapa Jabar menarik perhatian para combatant di dunia maya.

Pertama, faktor kedekatan geografis.

Kedua, wilayah terpenting setelah Jakarta.

Ketiga, wilayah swing voter.

Keempat, daerah pertaruhan bagi PDIP.


Kedekatan secara geografis

Jarak yang begitu dekat bahkan berbatasan dengan DKI Jakarta. Jadi apapun yang terjadi di Jakarta imbasnya langsung terasa di Jabar. Para combatant di Jabar banyak yang terlibat di Pilkada DKI baik yang langsung terjun di medan “pertempuran” nyata maupun maya.

Dalam berbagai Aksi Bela Islam (ABI) I-III, wilayah Jabar paling banyak menyumbang jumlah peserta di luar Jakarta. Yang paling membetot perhatian adalah hadirnya para mujahidin Ciamis  pada aksi long march Ciamis-Jakarta dalam Aksi 212. Walaupun tidak terlibat dalam perkubuan para kandidat, kehadiran mereka ikut mengubah peta pertarungan Pilkada DKI.

Di kubu Ahok-Djarot sejumlah kepala/wakil kepala daerah dan anggota DPRD di provinsi, kabupaten dan kota di Jawa Barat diketahui langsung terjun ke palagan DKI melaksanakan titah sang Ketua Umum PDIP Megawati. Sebaliknya di kubu Anies-Sandi kesediaan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menjadi juru kampanye, juga menjadi amunisi yang cukup mematikan.

Di dunia maya, para cyber army  sejumlah kota di Jabar juga terlibat aktif  dalam pertempuran. Gerilyawan dunia maya dari kedua kubu di kota-kota seperti Bandung, Bogor, Depok dan Bekasi membuat pertempuran dunia maya di Pilkada DKI menjadi sangat seru.

Wilayah terpenting setelah DKI Jakarta

Dalam konstelasi politik nasional, Jabar menjadi daerah terpenting setelah Jakarta. Jumlah penduduknya terbesar di Indonesia, 46 juta jiwa (2015) menjadi battleground yang selalu diperebutkan. Siapapun yang memenangkan pertempuran di Jabar akan memenangkan pemilu legislatif secara nasional.

Pada Pemilu 2004 Golkar memperoleh suara terbanyak di Jabar dan secara nasional menjadi pemenang. Demokrat mendapat giliran memperoleh suara tertinggi pada Pileg 2009 di Jabar dan secara nasional perolehan suaranya juga tertinggi. Tahun 2014 giliran PDIP yang memenangkan suara di Jabar, secara nasional juga menjadi pemenang.

Untuk pilgub dan pilpres konstelasinya berbeda. Dalam dua kali Pilgub 2008 dan 2013 PKS yang bukan partai pemenang, selalu  memenangkan pertempuran mengalahkan jagoan yang diusung oleh Golkar dan PDIP. Sementara pada Pilpres 2014 pasangan Prabowo-Hatta di Jabar mengalahkan Jokowi-JK, namun secara nasional mereka kalah.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...