14 November 2019

Petahana Panik: Politisasi Jan Esthes, Pantaskah?

Jan Ethes pun dipolitisasi. Bocah lucu yang belum genap tiga tahun itu diseret-seret ke panggung politik demi menyokong elektablitas kakeknya yang merapuh, Joko Widodo.  
 
Andi Widjajanto, Ketua Tim Cakra 19 relawan Jokowi-Ma’ruf, dengan kalimat penuh percaya diri berkata Jan Ethes adalah salah satu senjata petahana bertarung di media sosial melawan Prabowo-Sandi. Menurutnya, kedekatan Jokowi dan Jan Ethes yang menarik dan humanis bisa menjadi alat menuai simpati publik. 
 
"Ini grafis-grafis yang kita unggul yang mereka nggak punya. Bener-bener mereka nggak punya. Pak Jokowi main bom-bom car sama Ethes aja viralnya luar biasa, ada Pak Jokowi naik motor, Pak Jokowi lawan Thanos," kata Andi. 
 
Strategi Andi memang cerdas. Baik Prabowo maupun Sandiaga memang tak bisa menyaingi Jokowi dalam hal pelibatan cucunya. Keduanya belum dikaruniai cucu yang mungil dan lugu.  
 
Tapi Islam selalu menyerukan umatnya untuk mendahului adab ketimbang ilmu. Sehingga, pertanyaan bagi kita semua adalah: Adab mana yang bisa merestui seseorang menyeret balita lugu ke panggung politik kekuasaan?  
 
Islam tak mengajarkan adab semiskin itu. Dan dengan dalih apapun, cara kubu petahana memanfaatkan Jan Ethes tak akan bisa menutupi cela bahwa cucu presiden yang tak tahu apa-apa itu adalah korban ambisi kekuasaan.  
 
Lantas apa yang bisa kita simpulkan dari permainan nir adab kubu petahana? Tak lain adalah KEPANIKAN. 
 
Petahana sedang PANIK.  
 
Jokowi-Ma’ruf panik karena tahu pembangunan infrastruktur secara massif gagal menyejahterakan rakyat. Jangankan sejahtera, mengendalikan kenaikan harga pangan pun tak mampu. Mereka juga panik karena selama berbulan-bulan elektabilitas Jokowi tak beranjak dari kisaran 50-52 persen. 
 
Dan mereka semakin panik karena Ma’ruf Amin tak mampu menyumbang banyak suara untuk Jokowi. Kata Yunarto Wijaya, direktur lembaga survei Charta Politika yang termasyhur itu, baru-baru ini, “hanya 0,2 persen pemilih Jokowi yang memilih karena suka Kiai Ma'ruf.” 
 
Ya, kepanikan telah membuat kubu petahana tega memanfaatkan Jan Ethes sebagai alat politik mendulang simpati. Andi benar. Publik mungkin akan bersimpati dengan pelibatan Jan Ethes. Para pemilih mungkin akan merasa gemas atau gregetan melihat polah lucu Jan Ethes bersama kakeknya.  
 
Tetapi benarkah sedemikian mudahnya orang-orang yang bersimpati itu bisa dirayu untuk memilih Jokowi-Ma’ruf? Tulisan ini jelas berkata TIDAK. Masyarakat semakin cerdas. Di bilik suara nanti, rakyat banyak akan memilih berdasarkan apa yang mereka rasakan sehari-hari, bukan atas apa yang mereka baca atau lihat di televisi.

(EWJ)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...