22 July 2019

Pernikahan Muda, Bukan Pernikahan Biasa

Oleh: Ita Mumtaz
Pemerhati Remaja

Kembali pernikahan muda menuai sorotan, mengguncang publik di masyarakat nyata maupun di media sosial. Yang terbaru adalah pernikahan laki-laki berusia 14 tahun dan perempuan usia 15 tahun di Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Banyak yang menyayangkan pernikahan yang oleh masyarakat sering disebut pernikahan dibawah umur. Beberapa pihak juga merasa prihatin mendengar berita adanya pernikahan muda. Alasannya karena tidak lazim dan masih kanak-kanak, jauh di bawah batasan usia pernikahan yang ditetapkan dalam UU. Yaitu revisi UU nomer 1 tahun 1974 yang menetapkan minimal 20 tahun untuk perempuan dan 22 tahun untuk laki-laki. Dikatakan pula, terjadinya pernikahan dibawah umur adalah karena kurangnya pengetahuan tentang bahayanya (BANJARMASINPOST.CO.ID , 14/ Juli / 2018)

Dalam Islam, pernikahan adalah satu-satunya jalan untuk memenuhi gharizah nau' atau naluri melestarikan jenis manusia. Salah satu manifestasi dari naluri ini adalah ketertarikan laki-laki kepada perempuan dan sebaliknya. Allah telah menganugerahkan naluri kasih sayang diantara sesama manusia. Dengan menikah, hubungan mesra dalam kehidupan suami istri bahkan menuai pahala besar. Sebaliknya, kehidupan laki-laki dan perempuan dalam panggung kebebasan tanpa ikatan pernikahan, akan mendapatkan murka Allah.

Mirisnya, banyak generasi muda yang menempuh jalan terlarang untuk memenuhi naluri kasih sayangnya. Mereka bergaul bebas layaknya gaya hidup di Barat. Padahal mereka adalah generasi penerus perjuangan. Dipundak merekalah harapan generasi negeri ini diletakkan. Lalu seperti apa generasi berikutnya, ketika sang pembawa tongkat kebangkitan tak lagi memahami visi dan misinya?

Pemuda zaman sekarang, telah dipenuhi racun kapitalis dalam benaknya. Pertumbuhan fisiknya seiring dengan nafsu yang dipupuk syahwati hedonis sekuleris. Mulai dari anak-anak usia sekolah dasar, perbincangan mereka penuh dengan aspek kelaki-lakian dan kewanitaan yang bisa memicu dan menstimulus naluri kepada lawan jenisnya. Pantas saja jika sejak kecil, tema obrolan mereka adalah tentang pasangan. Beginilah produk generasi yang dihasilkan oleh sistem kehidupan kapitalis. Televisi dan media sosial berlomba menebar virus kemaksiatan berupa pergaulan bebas. Sekulerisme, yakni pemisahan agama dari kehidupan tengah menjangkiti anak negeri. Pesan yang disampaikan teramat lugas. Tak mengapa gaul bebas tiada terikat, asal tak lupa sholat. Tidak masalah meneladani artis, tapi prestasi di sekolah jangan ditepis. Sehingga, ibadah pun tak ada pengaruhnya dalam aktivitas keseharian. Meski rajin sholat dan puasa, maksiat boleh lanjut. Bertambahnya usia tidak bersinergi dengan meningkatnya ilmu dan kedewasaan. Mereka seolah anak kecil ketika menyikapi berbagai persoalan yang menimpa diri dan umat. Sebaliknya, semakin bertambah usia, kian besar pula hawa nafsu dan syahwat menggoda. Cepat matang dalam hal seksual namun lambat dalam kedewasaan dan kematangan berfikir.

Tentu saja, dalam suasana kapitalis saat ini, pernikahan di usia belia bukanlah sesuatu yang biasa. Karena bisa dipastikan akan menimbulkan berbagai masalah yang berkelanjutan. Secara mental mereka pasti belum siap mengarungi samudra kehidupan rumah tangga. Dikatakan pernikahan dini, karena dianggap usia yang cukup dini untuk sebuah pernikahan, hamil, tanggung jawab terhadap keluarga, mengurus suami dan anak. Layak jika pelakunya mendapatkan banyak kritikan di sana sini mengingat kondisi mereka saat ini belum dewasa secara pemikiran.

Ironi sekali ketika pembahasan adanya pergaulan bebas (baca= perzinahan) tak seheboh ketika ada yang menjalani pernikahan muda. Terlepas dari polemik pernikahan dini, Islam tidak menentukan usia tertentu dalam pernikahan. Karena dewasa itu pilihan. Seseorang bisa menjadi sosok yang dewasa, yakni kuat kepribadianya, manakala dia mau mengupayakan. Senantiasa berbenah menuju pribadi lebih baik. Bisa jadi, usia boleh muda namun banyak karya. Atau sebaliknya, usia telah menua, sayang sekali tergilas putaran roda akhir zaman. Banyak pasangan yang menikah di usia matang namun berujung pada perceraian. Tak sedikit pula pasangan yang menikah di usia muda tetapi pernikahannya langgeng hingga akhir hayat mereka.

Potret pemuda saat ini memang sangat jauh berbeda dengan karakter pemuda di zaman kejayaan Islam. Di usia muda sudah mumpuni dalam bidang keilmuan hingga straregi perang.

Adalah Imam Syafi'i yang pada usia 9 tahun sudah hafal Al-Qur'an dan ratusan hadits. Menginjak remaja sudah mengajarkan ilmu dan memberi fatwa. Seorang Usamah bin Zaid, di usia belasan tahun telah mampu menjalankan amanah sebagai panglima perang. Demikian sosok generasi yang lahir dari kegemilangan peradaban Islam. Andai jodoh datang di usia belia, in sya Allah mereka berada dalam kondisi siap dan mampu. Karena sejak akil baligh, kematangan berfikir telah berfungsi optimal. Tentu saja seirama dengan kesiapan memikul beban hukum syara' serta bertanggung jawab atas setiap perbuatan yang dilakukan. Sehingga ketika seorang pemuda menikah, maka sudah tergambar dalam benaknya, kewajiban apa saja yang menanti di hadapan. Mereka pun memahami bahwa sebuah kewajiban akan berimplikasi pada pahala dan dosa. Ridho dan murka Allah.

Dengan demikian, polemik tentang batasan usia pernikahan tidak perlu diperuncing. Karena Islam sudah sangat jelas mengaturnya. Para pemuda dibolehkan menikah meski usia muda belia.

Allah Swt berfirman dalam surat Ath-Thalaq ayat 4:

وَاللَّائِي يَئِسْنَ مِنَ الْمَحِيضِ مِنْ نِسَائِكُمْ إِنِ ارْتَبْتُمْ فَعِدَّتُهُنَّ ثَلاثَةُ أَشْهُرٍ وَاللَّائِي لَمْ يَحِضْنَ

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid.”

Para mufasir menjelaskan bahwa makna وَاللائِي لَمْ يَحِضْنَ (Dan perempuan-perempuan yang tidak haid) adalah anak kecil yang belum mendapatkan haid dan wanita yang sudah baligh tapi belum pernah mendapatkan haid.

Yang pasti, menikah itu tak hanya modal cinta. Supaya tak ada yang ternoda. Siap menikah, berarti siap tertatih dalam jalan perjuangan. Karena pernikahan adalah adalah pintu menuju amanah baru.

Walhasil, kaum muslimin sebagai bagian dari anggota masyarakat hendaknya berkontribusi dalam menciptakan iklim terbaik bagi generasi. Yang akan menghasilkan sosok generasi muda pengisi peradaban yang tangguh. Yakni, tiada lain adalah masyarakat Islam, yang berada di bawah naungan Daulah Islam. Sebuah institusi yang dipenuhi cahaya Islam, dengan aqidah Islam sebagai dasar negara. Kokoh berdiri dengan syariatNya yang diberlakukan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...