25 February 2020

Pelita Asing Pemadam Lilin Negeri

Oleh: Indah Yuliatik
Komunitas Menulis Setajam Pena

Listrik menjadi kebutuhan utama masyarakat modern sekarang. Seluruh sektor baik rumah tangga kecil hingga skala perusahaan besar menggunakan sumber tenaga listrik, sehingga membuat ketergantungan terhadap sumber daya listrik ini. Listrik menjadi primadona ditengah dunia bisnis, menjadi lahan subur untuk mencari kebermanfaatan didalamnya. Sektor ini juga tidak luput dari incaran pengusaha asing hingga Pemerintah mengeluarkan wacana kebijakan menggandeng Cina untuk pembangunan pembangkit listrik baru.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan meminta PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk tidak terlalu banyak terlibat dalam pembangunan-pembangunan listrik. Hal itu, dia ungkapkan setelah menggelar rapat bersama Plt Direktur Utama PT PLN, Sripeni Inten Cahyani di Kantor Kemaritiman Jakarta.Saya pengen, PLN lebih efisien lah. Terus kemudian kalian (PLN) jangan terlalu banyak dulu lah terlibat dalam pembangunan listrik, biarin aja private sector yang lebih masuk. Seperti 51% harus untuk Indonesia power untuk waste to energy. Jadi konsolidasi aja dulu, biarkan private sector main," ujar dia. (okezone.com, 14/8/2019 )

Sebelumnya, listrik padam diarea Jawa-Bali hingga kurang lebih 12 jam. Akibatnya kelumpuhan total diberbagai sektor bisnis hingga rumah tangga. Inilah salah satu yang dijadikan alasan oleh pemerintah sehingga menggandeng investor asing untuk mencukupi suplai kebutuhan listrik dalam negeri. Benarkah karena tidak becusnya perusahaan dalam negeri menyediakan listrik?

Keputusan pemerintah menggandeng asing karena PLN tidak mampu mencukupi kebutuhan listrik hanyalah isapan jempol. Alasan utamanya adalah mengukuhkan liberalisasi asing terhadap Indonesia dan penguasaan sektor strategis kepada asing. Hampir semua sektor dalam negeri telah dikuasai asing hingga mengakibatkan perusahaan dalam negeri bangkrut, tidak terkecuali PLN diambang kebangkrutan.

Matinya perusahaan dalam negeri dan penguasaan sektor-sektor dalam negeri oleh asing merupakan efek diterapkannya sistem ekonomi liberal oleh pemerintah. Efek buruknya akan kembali kepada masyarakat seperti biaya listrik yang terus naik dan berimbas pada naiknya kebutuhan masyarakat. Kesejahteraan yang harusnya dirasakan masyarakat hanya ilusi. Janji mensejahterakan masyarakat hanya kebohongan untuk menarik hati masyarakat.

Rasulullah SAW bersabda,

"Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air dan api". (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

Hadist tersebut menjelaskan bahwa padang rumput (tanah), air (perairan) dan api (sumber daya alam migas) menjadi kebutuhan utama masyarakat dan tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. 3 kebutuhan masyarakat ini merupakan kebutuhan bersama dan kepemilikannya tidak boleh dikelola individu atau asing, sehingga disebut sebagai kepemilikan umum. Sudah pasti harus dipenuhi oleh pemerintah dan harus dikelola oleh pemerintah bukan asing.

Keberadaan pemerintah dalam pengaturan penggunaan sumber daya alam ini sangat penting. Kebijakan-kebijakan pemerintah terhadap pengelolaannya berpengaruh besar terhadap masyarakat. Pemerintah adalah perisai bagi siapa saja yang dipimpinnya seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya. Jika seorang imam (Khalifah) memerintahkan supaya takwa kepada Allah ’azza wajalla dan berlaku adil, maka dia (khalifah) mendapatkan pahala karenanya, dan jika dia memerintahkan selain itu, maka ia akan mendapatkan siksa.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Abu Dawud, Ahmad)

Pemimpin memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada dibawahnya dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tidak merugikan masyarakat. Pemimpin harus memberikan rasa aman atas dunia dan agama. Memimpin masyarakat dengan aturan Allah SWT dan tunduk pada semua aturan yang telah diturunkan.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...