16 December 2017

Payah, Presiden Jokowi Kalah sama Polri Badrodin, BG dan Buwas?

KONFRONTASI- Presiden Joko Widodo meminta agar kepolisian menunggu hasil mediasi terkait kisruh Hakim Sarpin Rizaldi dengan dua Pimpinan Komisis Yudisial. Sudah berulang kali perintah Presiden diabaikan Kapolri dan Kabareskrim, dimana Bareskrim bersikukuh memeriksa dua pimpinan KY, Suparman dan Taufiqurachman Sahuri, dalam kasus pencemaran nama baik. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Tedjo Edhi Purdijatno mengaku sudah bertemu dengan hakim Sarpin Rizaldi pada 15 Juli 2015 sebagai upaya mediasi dengan komisioner Komisi Yudisial.

Dari pertemuan itu, Sarpin mengaku terpaksa melaporkan dua komisioner KY, Suparman Marzuki dan Taufiqurrahman Syahuri, karena sudah telanjur sakit hati. Dua orang pimpinan KY dinilai Sarpin asal cuap-cuap keluar ke media massa. Akibatnya, kehidupan keluarganya tidak mengalami ketenangan, istrinya stroke, anaknya sekarang tidak lagi kuliah. Ini yang membuat dia sakit hati sehingga dia dan keluarganya kebingungan mau ke mana, ya sudah lapor aja ke polisi. ( JAKARTA, KOMPAS.com)

Kabareskrim mendapat laporan pencemaran nama baik, Budi Waseso langsung ambil tindakan. Sebagai bekas rekanan kerja yang sangat berjasa membela Polri tentu saja kini saatnya membalas budi baik Sarpin, demikian hasil tukar pandangan antara mereka bertiga yang tergabung dalam personnel 3B itu, Badroti Haiti, Budi Gunawan dan Budi Waseso. Dengan modal kekuasaannya dan pengalamannya sebagai “Kriminalisator” yang sukses mengkriminalisasi KPK maka mudah saja BW menggiring komisioner KY menjadi tersangka.

Menjadikan dua komisioner KY menjadi tersangka berarti 3B dengan kendaraan Polri dan Kabareskrimnya jalan terus telah melakukan perlawanan kepada instruksi Presiden. Kini yang menjadi sasaran tembak adalah dua orang pimpinan Komisi Yudisial Suparman dan Sahuri. Atas kemelut Sarpin-KY-Polri, Istana mengutus Menkopolhukam untuk melobi Polri terutama hakim Sarpin, agar reda dan tidak pendendam.

Tetapi pertemuan Menteri Tedjo dengan Sarpin tidak membuahkan hasil. Bandrodin Haiti-pun beralasan Polri tidak mungkin menghentikan laporan Sarpin. Alasannya bukti-bukti yang diajukan lebih dari cukup. Demikian juga Budi Waseso sebagai Kabareskrim ia membantah telah melakukan perlawanan terhadap instruksi Presiden, ia justru mengatakan kasus dua komisioner KY dikebut lantaran sesuai dengan perintah Presiden.

Pihak Istana yang diwakili Menteri Tedjo dan Mensesneg Pratikno menjadi tambah kelabakan atas jawaban Budi Waseso yang diplomatis itu, dan langsung membantahnya. Presiden Jokowi justru mempertanyakan kenapa dua orang komisioner KY lagsung dijadikan tersangka, bukankah Polri sudah diperintahkan agar kasus Sarpin VS KY diselesaikan lewat mediasi dan jalan perdamaian.

Jangankan Tedjo dan Pratikno, Presiden Jokowi sebagai Pimpinan tertingginya Polri, bisa di buat tak berkutik. Inilah hebatnya Polri dengan tiga orang kekuatan intinya pasca kemenangan Budi Gunawan melawan Abraham Samad serta Bambang Widjajanto. Dari pihak Polri inilah letak kekuatan Tritunggal yang boleh disebut dengan 3B, tidak bisa diganggu gugat, sekalipun oleh seorang Presiden sendiri. Sudah terbukti berulang kali sejak kasus pengkriminalisasi AS, BW, Novel Baswedan, Dani Indrayana Instruksi Presiden Jokowi oleh Polri diabaikan begitu saja terkesan menantang dengan sangat berani.

Keberanian Budi Waseso, Badroti Haiti dan Budi Gunawan terhadap Jokowi ditunjukan dengan secara terang benderang, tanpa tedeng aling-aling juga dengan entengnya Polri melawan arus publik. Tentu saja ada alasan kuat. Masyarakat sudah dapat membacanya dibelakang itu ada kekuatan besar dibalik kepentingan Budi Waseso, Badroti Haiti dan Budi Gunawan. Kekuatan yang sanggup membuat Jokowi tidak berkutik, kekuatan yang membuat Polri dan Bareskrim menurut apa kata “kekuatan yang ada diatas sana”.

Dilihat dari sisi luarnya memang luar biasa sekali kekuatan Budi Waseso, Budi Gunawan dan Badrodin Haiti yang tidak lagi memperdulikan perintah presidennya. Apakah mereka bertiga benar-benar atas kehendak mereka bertiga semata atau ada kekuatan-kekuatan lain yang menekan kepada 3B. Mereka bertigapun sepertinya tidak berkutik, alias dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan “kekuatan yang ada diatas sana”. Mulai dari Polrinya, Jokowinya, bahkan bisa jadi merembet ke menteri-menterinya Jokowi-JK. Mereka, termasuk Jokowi seperti menjadi korban rekayasa kekuasaan politik tingkat tinggi, siapakah sebenarnya aktor tertinggi yang mampu membuat mereka bergerak seperti boneka.

Akan tetapi dibalik ketidak berdayaan Polri, Bareskrim, tersimpan perasaan kuat percaya diri dan mendatangkan ketenteraman. Selagi masih ada ketaatan terhadap “kekuatan yang ada diatas sana”. itu. Oleh sebab itu apapun bentuk hujatan, makian, bahkan ancaman, yang akan membuat mereka jatuh atau terkena mosi ketidak percayaan dari publik, semua tidak mereka khawatirkan, karena pedoman utamanya adalah kepatuhan kepada “kekuatan yang ada diatas sana”. Misalnya saja Menanggapi desakan masif dari masyarakat agar Kabareskrim dicopot. Termasuk juga dari Prof. Syafii Maarif sebelumnya meminta ketegasan Presiden atas kriminalisasi terhadap dua komisioner KY, yaitu Suparman Marzuki dan Taufiqurrohman Syahuri, ketegasan Presiden yang diminta Ma’arif adalah mengganti Kabareskrim Budi Waseso.

Kepala Polri Jenderal Pol Badrodin Haiti dengan entengnya menolak. Kepala Bareskrim Polri Komjen Budi Waseso juga membalas dengan berkomentar soal pernyataan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif agar Presiden Joko Widodo melalui Kapolri Jenderal (Pol) Badrodin Haiti mengganti Kabareskrim. Budi Waseso malah balik mempertanyakan kapasitas Syafii. Apa kapasitasnya beliau? Enggak usahlah berkomentar dan mencampuri penegakan hukum kalau dia tidak mengerti penegakan hukum itu sendiri.

Mereka bertiga seolah-olah sedang menampilkan sosok yang paling mengerti dan berkuasa dalam soal penegakan hukum, dan Polri sebagai penegak hukum harus mentuntaskan secara hukum tanpa kecuali termasuk kepada pimpinan komisioner KY. Oleh sebab itu kasus KY karena berdasarkan laporan masyarakat maka Polri wajib menindaklanjuti. Walaupun untuk itu Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Komjen Polisi Budi Waseso mendapat kritikan dan diusulkan dari banyak pihak untuk dicopot sebagai Kabareskrim.

Keberanian Budi Waseso bersikap kekeh terkesan kenekatannya melawan Presiden dan berani melawan arus publik karena adanya kekuatan besar yang melindunginya. Masyarakat sudah dapat membacanya dibelakang itu adalah kekuatan dibalik kepentingan 3 B yang mendapat dukungan secara politik yaitu dari “kekuatan yang ada diatas sana”.Lalu siapakah sesungguhnya “Kekuatan yanag ada diatas sana” itu, apakah ia seorang manusia lumrah atau manusia biasa saja, apakah seorang politisi, apakah seorang pengusaha kaya, apakah seorang Militer, atau dia seorang perempuan yang masih ada darah keturunan trah pemimpin besar revolusi, yang jelas hanya 3B dan Jokowi saja yang tahu akan jawaban tersebut. (Imam Kodri, jurnalis warga/KCM)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...