19 April 2018

Netralitas Media Sebuah Autophia : Ranungan Orang Biasa

                                                                             Warih W Subekti *)

Saat ini, jelang Pilpres 2014 kita susah untuk menemukan media yang netral, independen dan non partisan, hampir-hampir mustahil dan barangkali tak akan kita temukan. Media massa pada awalnya adalah alat perjuangan dan mereka tunduk pada idiologinya yang membela kepentingan rakyat kini mereka membela para pemilik media yang merangkap jadi politisi, kita masih sering dengar walaupun kian samar, bahwa media adalah pilar ke 4 dari demokrasi. masihkah kita melihat bahwa pilar itu masih berdiri tegar ?. Masih segar dalam ingatan kita seorang pemilik media yang nota bene anak seorang pengusaha pemilik media mampu mempengaruhi redaksi, bahkan secara tegas melarang ruang gerak redaksi, ini sebuah cacat bagi independensi media juga kebebasan berekspresi.

Secara kasat mata kita bisa melihat dua media besar yang saling berhadapan mereka berada pada kubu Prabowo-Hatta ( TVOne) dan pada kubu Jokowi-JK (Metro TV), susah mengatakan kedua media yang saya sebut di atas indepent, yang menjadi pertanyaan bagi kita sekarang syahkah tindakan/kebijakan redaksi kedua media itu berpihak pada pasangan Capres/Cawapres tertentu. Bagi saya syah dan tidaknya yang tergantung pada nurani para awak redaksi di kedua media di atas, jika mereka masih punya nurani maka mereka tidak akan fanatik pada satu pasangan tapi akan bertindak independent, netral dan berimbang.

Independensi menjadi sesuatu yang mahal di tengah kapitalisme media saat ini. media perjuangan yang berpihak pada rakyat atau masyarakat banyak cuma isapan jempol saja, sebab media tak bisa hidup bila hanya mengandalkan idealisme semata, tapi mereka harus hidup yang mengandalkan tiras, rating juga pemasukan iklan. dan distitulah kemudian media itung-itungan mencari cara aman untuk tetap hidup menjaga jarak dengan independensi dan kebebasan berpendapat yang ujung-ujungnya kompromi, yang terkadang akan menjadi sebuah media yang menjadi corong partai atau kelompok tertentu ( Baca : Pasangan Capres tertentu ) ini tidak bisa kita nafikan sebab memang sudah terjadi dan kemana slogan yang ' Angker dan Keramat ' bahwa media adalah pilar ke 4 dari demokrasi untuk sementara, kita lupakan saja dulu.Salam.

- Warih W Subekti, orang biasa yang menjalani hidup dengan bersahaja, dengan kredo ' Urip mung mampir ngombe ' (war)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...