19 October 2019

Nature

Refleksi Dr Ani Hasibuan

 

Pagi ini saya berdiskusi dengan anak gadis saya tentang banyak hal. Terutama tentang harmoni dalam kehidupan, antara manusia dengan alam. Saya sampaikan kepadanya bahwa kemungkinan besar minggu depan saya akan berangkat ke kawasan hutan yang terbakar di Kalimantan Tengah, melakukan sebanyak mungkin yang bisa saya lakukan. Bahwa  saya sangat resah dengan diamnya anak-anak muda yang membisu dengan ribuan hektar hutan kita yang terbakar (atau dibakar?). Ada berapa flora n fauna yang terancam kehidupan n kelestariannya saat ini?

Saya tunjukkan foto-foto saya dan puluhan anak muda lain dari MAPALA UI n KONPHALINDO tahun 1997 saat memadamkan api yang membakar hutan Tanjung Puting. Ada foto saya di situ bergandengan tangan dengan seekor orang utan di tengah hutan yg berasap.

Pastinya saya tidak sedang pamer pada anak saya tentang kisah heroik diri saya sendiri. Yang tengah saya lakukan adalah menggugah jiwa kemanusiaannya yang terdalam, bahwa hakikatnya manusia itu punya sense of crise yang mestinya sangat tinggi, alertness yang luar biasa sehingga bila terjadi sesuatu dengan lingkungan, pasti adrenalin terpacu untuk mengambil tindakan penyelamatan. N ketika sense of crise itu lenyap entah kemana, sudah saatnya kita bertanya, apakah kita masih manusia?

Anak saya merengek minta dibawa ke belantara yang terbakar itu, sedikit hati saya gembira bahwa masih ada anak muda yang paham tentang harmoni kehidupan. Saya tawarkan padanya untuk mengajak teman2nya mewakili kampus mereka, untuk membantu memadamkan api dan menyelamatkan apa saja yang bisa diselamatkan di sana. Dia bilang dia akan segera mengadakan pertemuan dengan teman-temannya hari ini juga. Good young girl!

Betapa meresahkan dunia kita. Bahwa dunia akan berjalan menuju akhir, itu adalah suatu kepastian. Namun, seyogyanya manusia, senantiasa berupaya menyelamatkan kehidupan, bahkan jika besok pun adalah hari kiamat. Begitulah hakikat manusia.

Namun memang kita tengah berada dalam fase transisi, mungkin. Dehumanisasi yang ganas dan mewabah, entah kenapa. Kita senang melihat harimau tidur di kandang di rumah kita, tapi benci pada kucing yang teriak2 kawin di depan pintu kita. Betapa itu suatu kontradiksi bukan? Harimau hakikatnya tidur dalam radius 100 km di dalam hutan belantara yang misterius, sesuai namanya yang sangat sangar, Panthera Tigris. sementara kucing yg satu famili dengannya, mestinya adalah makhluk rumahan sesuai namanya yang imut, Felix Manicullata  Domestica. We are suffering in severe and massive disability learning. Kita benci ada burung balam berak di teras kita, tapi mengharap ada anak simpanse main bersama kita di dapur. Kita abai dan acuh pada ribuan anak orang utan yang terbakar di Sumatera dan Kalimantan sana, tapi kita senang bawa anak2 kita nengok gorilla di Ragunan. Kita kesal dengan bau tai kucing saat melintas di jalan depan rumah kita, tapi kita berharap anak2 kita tumbuh menjadi anak yang sayang binatang dan perduli pada sesama. Ambigu pamungkas yang acapkali kita pertontonkan dengan sadar di depan anak2, generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan di dunia ini, sampai masa akhir datang.

Let’s think and act properly. Alam ini diciptakan oleh Allah dalam harmoni yang luar biasa. Bahkan suara burung dan kucing kawin itu adalah penyeimbang irama jantung kita. Bahwa ketiadaan kehadiran hutan dan orang utan serta segala flora n fauna yang ada di dalamnya akan mengganggu ambilan oksigen oleh alveolus di paru2 kita. Bahwa ketiadaan kucing di sekitar kita akan membuat musang dan ular bebas berkeliaran. Bahwa tai burung2 yg melintas bolak balik di atas atap kita adalah pupuk yang diperlukan tanam2an utk tumbuh subur yang akan menjadi sumber oksigen kita, dan seterusnya. Mari upayakan dekat dengan alam, alam lah yang memberikan kekuatan kita dalam kehidupan. Cintai n rawat saja, n berharaplah semoga alam berkenan memberi kita TUMPANGAN  hidup yang berkualitas di dunia ini, aameen.

THOSE WHO CONTEMPLATE THE BEAUTY OF THE EARTH FIND RESERVES OF STRENGTH THAT WILL ENDURE AS LONG AS LIFE LASTS

Jakarta 18 September 2019

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...