15 November 2018

Mutiara yang Terlupakan di Bulan Romadhon

Oleh: Ainul Mizan*

Kedatangan Bulan Suci Romadhon adalah saat yang ditunggu - tunggu oleh seluruh kaum muslimin. Di saat Bulan Romadhon, mereka selalu diingatkan untuk menyambut bulan suci dengan kegembiraan. Adanya kegembiraan itu senantiasa bisa memompa ghiroh atau semangat seorang hamba agar mengisi hari –hari di Bulan Romadhon dengan memperbanyak ibadah, baik yang wajib dan sunnah. Di samping itu, agar selalu ingat untuk menjauhi hal – hal yang dilarang oleh Alloh SWT. Kegembiraan akan luasnya samudera kemuliaan bulan suci yang menggerakkan keimanan setiap muslim untuk mendapatkannya.

Tidak terlewatkan pula, di Bulan Romadhon kaum muslimin akan senantiasa diingatkan akan kewajiban berpuasa. Alloh SWT berfirman:

ياايها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون

Artinya: Wahai orang – orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas – atas orang –orang sebelum kalian, supaya kalian menjadi kaum yang bertaqwa (QS Al- Baqarah ayat 183).

Alloh SWT dalam mewajibkan berpuasa di dalam ayat tersebut menggunakan lafadz kutiba. Di dalam lafadz kutiba mengandung sebuah keharusan untuk melakukan sesuatu dan adanya masyaqqoh atau kesulitan – kesulitan di dalam melakukannya. Keharusan untuk melakukannya didasarkan atas sebuah keimanan. Sedangkan kesulitan – kesulitan yang menyertainya yakni dalam kewajiban berpuasa tentunya adalah menahan untuk tidak makan, minum dan berhubungan suami istri di siang hari Romadhon. Makan dan minum yang merupakan kebutuhan jasmani. Tentunya akan merasakan lapar dan dahaga di saat berpuasa. Adapun kesulitan lainnya adalah sebagaimana hadits Rasulullah SAW dari sahabat Abu Hurairah ra yang menyatakan sebagai berikut:

ليس الصيام من الاكل والشرب انما الصيام من اللغو والرفث فان سابك احد او جهل عليك فقل اني صائم

Artinya: Bukanlah disebut berpuasa itu dari makan dan minum saja, sesungguhnya berpuasa itu menahan diri dari sesuatu yang sia-sia dan yang tercela. Maka jika ada seseorang yang mencelamu atau mengajak berbuat kebodohan atasmu maka katakanlah “Sesungguhnya aku sedang berpuasa”.

Bahkan Rasul SAW sendiri mengingatkan akan banyaknya orang yang berpuasa dan tidak mendapatkan apapun dari puasanya, selain hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Pahala puasanya lenyap karena dalam puasanya tidak bisa menghindarkan dirinya dari hal –hal yang berbau maksiat. Dengan demikian puasa bagi seorang muslim itu bisa menjadi perisai bagi dirinya. Rasul SAW menegaskan hal demikian dalam sabdanya:

الصيام جنة فلا يرفث ولا يجهل

Artinya: Puasa itu adalah perisai, maka janganlah melakukan perkataan yang tercela dan janganlah melakukan kebodohan yakni kemaksiatan.

Oleh karena itu, tujuan dari kewajiban berpuasa ini ditegaskan oleh Alloh SWT supaya kita menjadi orang yang bertaqwa. Melalui puasa itu mendidik diri kita untuk senantiasa ta’at dalam menjalankan perintah Alloh SWT dan menjauhi semua yang dilarang olehNya.

Sekarang marilah kita perhatikan firman Alloh SWT berikut ini.

ياايها الذين امنوا كتب عليكم القصاص فى القتلى

Artinya: Wahai orang – orang yang beriman telah diwajibkan atas kalian akan pelaksanaan Qishosh (balas bunuh) dalam kasus pembunuhan (al Baqoroh ayat 178).

كتب عليكم القتال وهو كره لكم

Artinya: Diwajibkan atas kalian untuk berperang walaupun berperang itu sesuatu yang dibenci oleh kalian (al Baqaroh ayat 216).

Kedua ayat tersebut sebagaimana ayat ke-183 Surat al Baqaroh yang mewajibkan puasa, juga menggunakan lafadz kutiba. Artinya bahwa hukum Qishosh dan berperang kedudukannya sama dengan berpuasa yakni sama – sama sebagai sebuah kewajiban. Penggunaan lafadz kutiba menunjukkan adanya landasan keimanan dan masyaqqoh yang menyertai dalam pelaksanaan kewajiban yang tertera dalam ketiga ayat tersebut.

Dalam hukum Qishosh, tentunya secara naluriah, manusia enggan untuk diterapkan padanya hukum tersebut. Hanya saja ketika wali dari pihak yang dibunuh tidak mau memaafkan, maka penerapan hukum Qishosh sebagai hukum Alloh SWT tetap harus dijalankan sebagai konsekwensi keimanan. Bahkan kalaupun sudah mendapat pemaafan tetap secara naluriah manusia itu akan terasa berat dalam membayar denda sebesar 100 ekor unta yang 40 ekornya bunting atau dengan membayar 1000 dinar. Walhasil dengan hukum yang sedemikian tegasnya dalam kasus pembunuhan ini, hikmah terbesarnya adalah adanya jaminan kehidupannya. Alloh SWT menjelaskan di dalam firmanNya.

ولكم فى القصاص حياة يااولى الالباب لعلكم تتقون

Artinya: Dan di dalam hukum Qishosh itu terdapat jaminan kehidupan bagi kalian, wahai orang – orang yang berakal supaya kalian menjadi orang yang bertaqwa (al Baqaroh 217).

Masyarakat yang di dalamnya diterapkan hukum Qishsosh dengan sendirinya akan mengurangi dan mencegah tindakan pembunuhan. Pelaksanaan hukum qishosh yang dilakukan dengan disaksikan khalayak tentunya akan melahirkan efek jera yang efektif. Walhasil dengan sendirinya kehidupan itu terjaga dan bukankah ini merupakan jaminan kehidupan?! Apakah masih lebih baik masyarakat yang di dalamnya tidak diterapkan hukum qishosh dengan alasan bahwa qishosh itu tidak manusiawi dan kejam, sementara mereka tidak mampu mengurangi jumlah pembunuhan di tengah – tengah masyarakatnya?! Pembunuhan menjadi pemandangan harian karena tidak adanya sangsi yang bisa memberikan efek jera. Nyawa manusia menjadi begitu murahnya hingga pada persoalan kecil saja menjadi pemicu, pembunuhan seolah itulah solusinya. Miris sekali.

Begitu pula di dalam hukum wajibnya berperang. Secara naluriah manusia itu membenci peperangan. Alloh SWT telah menghabarkan watak dasar manusia ini. Ambil contoh pada waktu Perang Tabuk. Pasukan kaum muslimin disebut dengan Jaisyul usyroh yakni pasukan dalam kesusahan. Musim panas yang begitu panjang dan manusia sedang nyamannya untuk menunggu panen kurmanya. Panggilan jihad yang berkumandang dan seruan untuk berinfaq mengetuk pintu keimanan hingga mereka pun tetap harus memenuhi seruan walau dalam keadaan yang cukup berat. Alloh SWT menegaskan bahwa dengan berangkat berperang tentunya hikmahnya sangat besar. Di dalam shiroh Nabawi akhirnya bisa dipetik hikmah yang agung bagi perkembangan Islam selanjutnya dan kestabilan keadaan politik ekonomi masyarakatnya. Terbunuh dalam perang di jalan Alloh SWT sebagai syahid. Mendapatkan kemenangan di medan perang mendapatkan banyak ghonimah atau harta rampasan perang, di samping kewibawaan Islam semakin kokoh.

Sesungguhnya hukum Qishosh dan perang yang ada di dalam Surat al Baqaroh ayat 178 dan 216 tersebut, tidak akan bisa dilaksanakan dengan tanpa adanya Kepemimpinan Islam. Daulah Islam yang selanjutnya dikenal dengan sebutan Khilafah atau Imamah itulah sebagai pelaksananya.

Kalau puasa itu menjadi junnah (perisai) diri dari perbuatan maksiat, yang selanjutnya ketaqwaan akan terbentuk dari puasa yang dilakukan. Sedangkan ketaqwaan itu sendiri mengharuskan adanya ketaatan dan pelaksanaan total seluruh hukum di dalam Islam. Dimensi hukum Islam tidak hanya sebatas dimensi individu, tetapi juga berdimensi komunal yakni pengaturan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Maka sebagai pribadi yang beriman dan bertaqwa, pastinya tidak mencukupkan diri untuk mewujudkan junnah atau perisai yang bersifat individual, bahkan ia akan berusaha mewujudkan adanya junnah/perisai bagi masyarakat dan negerinya. Dalam konteks inilah Rasul SAW menyatakan dalam hadits berikut ini.

انما الامام جنة يقاتل من ورائه ويتقى به

Artinya: sesungguhnya Imam itu adalah perisai. Orang – orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya (HR Muslim).

Lafadz Imam di sini adalah sinonim dari lafadz Kholifah. Adanya pujian Rasul SAW terhadap keberadan Imam bermakna adanya tholab atau tuntutan untuk mewujudkannya.

Keberadaan Imam atau Kholifah menempati posisi Tajjul Furuudh yang bermakna bahwa pelaksanaan seluruh hukum Islam itu disandarkan kepadanya. Bahkan dalam dimensi hukum Islam yang bersifat individual pun tidak akan bisa sempurna dalam pelaksanaannya tanpa peran serta kebijakan Kholifah.

Pelaksanaan ibadah puasa tidak bisa dilepaskan dari peran politik penguasa. Penentuan awal dan akhir Romadhon, kebijakan pemberantasan tempat maksiat di Bulan Romadhon hingga seterusnya, larangan berjualan makanan dan minuman di siang hari Romadhon dan pengaturan tontonan TV pada Bulan Romadhon, merupakan bagian dari kebijakan politik Kholifah.

Marilah kita bersama – sama menjadikan Bulan Romadhon ini sebagai wahana meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Alloh SWT dengan menjadikan puasa yang kita lakukan ini sebagai junnah/perisai bagi diri kita masing – masing. Di samping itu, momen Romadhon juga kita jadikan sebagai wahana mewujudkan junnah/perisai bagi masyarakat, bangsa dan negeri – negeri Islam. Dengan demikian, Romadhon akan menemukan maknanya sebagai tonggak bagi kemuliaan Islam dan kaum muslimin serta tersebarnya kerahmatan Islam bagi alam semesta. Jika tidak, Romadhon akan silih berganti datang, sedangkan keadaan umat ini tetap berada dalam dominasi penjajahan dan keterpurukan.

*Penulis tinggal di Malang.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...