22 November 2019

Mr Crack Dari Parepare: dari Ilmuan ke Negarawan

Prof Dr Ing BJ Habibie, siapa yang tidak mengenalnya? Di lingkungan ahli aeronautic, aerospace,  industri pesawat, ilmuwan internasional, BJ Habibie dijuluki Mr Crack.  

Julukan tersebut penghormatan para ahli atas temuan Pak BJH. Awal mulanya, setelah menyelesaikan S-3 — dengan nilai rata-rata 10, di Rheinisc Westfälische Technische Hochschule (RWTH) Aachen, universitas teknik terbaik di Jerman, 1965—, Pak BJH yang saat itu berusia 28 tahun, bekerja di Hamburger Flugzeugbau (HFB). 

Di sini, Pak BJH ditantang untuk memecahkan persoalan pelik yang tak terpecahkan, yakni kestabilan konstruksi ekor pesawat Fokker 28. Lebih dari tiga tahun tim ahli HFB mencoba mencari pemecahannya dengan biaya besar, namun gagal. Pak BJH memerlukan waktu enam bulan dan berhasil.

Sukses besar ini membanggakan HFB. Tugas baru datang lagi, memecahkan problem konstruksi gantungan mesin di belakang pesawat terbang eksekutif, HFB 320. Pak BJH kembali berhasil dalam waktu tujuh bulan. 

Sukses ini menjadi pembicaraan luas. Ketika beberapa pesawat tempur Jerman, Starfighter F-104 G jatuh, timbul kehebohan. Tidak ada yang tahu penyebabnya. Departemen Pertahanan Jerman mengajak para ahli melakuka riset mencari penyebab jatuhnya F-104 G. Perusahaan HFB tempat Pak BJH bekerja, menugaskannya untuk melakukan riset. Setelah melakukan riset mendalam, Pak BJH menemukan penyebabnya: sayap.

Kesimpulan ini diambil Pak BJH karena pesawat temput tersebut hanya jatuh di Jerman, tidak di negara lain. Ini karena maneuver berbeda, yang membenani sayap. Lalu, bagaimana memperbaikinya? Pak BJH melakukan riset mendalam dan menemukan “motode perhitungan kecepatan suatu retakan berjalan pada bahan yang elastoplastik”. 

Riset ini diterima HFB dan Departemen Pertahanan Jerman. Setelah dilakukan perbaikan berdasarakan metoden Pak BJH itu, tidak terjadi lagi pesawat tempur F-104 G jatuh. Hasil-hasil riset itu kemudian ditulis Dari Pak BJH, terutama menyangkut “Thermodynamics, Instationair Aerodynamics, Fracture Macanics, dan Construcsion”.

Dari sini kemudian, lahirlah Teori Habibie, Faktor Habibie, Prediksi Habibie yang sangat populer. Rumusan Habibie tersebut dapat ditemui pada sejumlah jilid “Advisory Group for Aerospace Research and Development (AGARD), sebagai buku pegangan tentang prinsip-prinsip ilmu desain pesawat terbang standar NATO. 

Kulltur masyarakat Timur dalam dirinya, membuat Pak BJH tidak menyebut temuan itu sebagai  “Factor of Habibie, Prediction of Habibie, Method of Habibie”, namun kalangan ilmuan Jerman yang menyimpulkan temuan rumus itu sebagai Faktor Habibie, Prediksi Habibie, dan Metode Habibie. Rumus Habibie ini kemudian menjadi pelajaran wajib di faktultes teknik di Jerman. Bahkan, juga dipelajari anak sulungnya, Ilham Habibie saat kuliah di Fakultas Teknik Munchen, Jerman.

Dalam rumus itu, Pak BJH menemukan cara — yang sebelumnya misterius dan tidak dikenal — tentang penyebab keretakan (crack) bodi pesawat, terutama sayap. Sebelumnya, industri pesawat dunia, termasuk Airbus, Boeing, dan lainnya, kesulitan menemukan cara agar meterial pesawat tidak retak. Agar material pesawat tidak retak, industri pesawat ketika itu menebalkan seluruh bagian. Namun ini berakibat pesawat menjadi berat. 

Temuan Pak BJH, yang dapat menghitung crack propagation on random samai ke atom-atomnya itu, sangat bermanfaat bagi penerbangan. Ini temuan pertama di dunia. Kini, semua pesawat menggunakan temuan Pak BJH tersebut. Dari sini pula, Pak BJH yang dilahirkan di Parepare, Sulawesi Selatan itu, dijuluki Mr Crack. 

Prof Dr Ing B Lascka, ahli aerodinamika Jerman, dalam tulisannya menyebutkan, crack propagation hasil penemuan Habibie sangat penting dalam dunia penerbangan. Inilah sumbangan terbesar dalam dunia dirgantara. “Retakan dalam struktur pesawat memang santat mencemaskan para perekayasa struktural, penyebaran retak sungguh sulit diperhitungkan. Habibie berhasil menemukannya,” tulis Lascka.

Rumus Habibie itu menjadi sumbangan terbesar, tidak saja dalam ilmu pengetahuan, tapi juga kemanusiaan, terutama keselamatan jiwa penumpang. Sebelum temuan Pak BJH itu, rata-rata kecelakaan pesawat jet komersial akibat keretakan, mencapai 12 kali per satu juta penerbangan. Dengan temuan Pak BJH pada 1965 tersebut, angka kecelakaan menjadi dua sampai tiga kali dalam sejuta penerbangan. Airbus dan Boeing, dua industri pesawat terkemuka di dunia, menggunakan rumus Habibie tersebut.

Hebatnya, mungkin karena latar belakang Pak BJH sebagai orang Indonesia dan kuat beribadah, Pak BJH tidak mempatenkan karyanya atas nama pribadi. Ketika ditanya pemimpin Messerschmitt Bolkow Bllohm (MBB) — perusahaan industri pesawat hasil merger dengan HFB — perusahaan tempatnya mengabdi tentang mempatenkan temuan tersebut, Pak BJH justru mengatakan, “Pak, saya membuatnya kan saat saya menjadi karyawan Anda. Wajar saja, itu (temuan) atas nama perusahaan. Saya sudah bersyukur dapat bekerja di sini dan itu tugas saya..”

MBB kemudian mempatenkan temuan Pak BJH tersebut. Pada 1974, Pak BJH menjadi wakil direktur teknologi MBB, jabatan tertinggi yang pernh diduduki orang asing di Jerman. Hingga saat ini, Pak BJH terus mendapatkan penghaslilan dari MBB atas temuan tersebut, termasuk dana pensiun, asuransi. Pak BJH hanya tahu, dana terus masuk ke rekeningnya, rekening banknya yang sejak mahasiswa digunakannya.

**
TULISAN di atas cuplikan dari buku “Mr Crack Dari Parepare; dari Ilmuan ke Negarawan, sampai Minandito” karya A Makmur Makka. Buku 494 halaman, terbitan Pustaka Republika ini, bercerita banyak tentang Pak BJH, Presiden ke-3 Indonesia. Perjalanan Pak BH ini lebih lengkap dari buku-buku sebelumnya, termasuk saat goncangan politik awal masa reformasi, hubungan dengan Pak Harto, hingga menjadi “pesohor” di dunia film.

Peluncuran buku “MR CRACK DARI PAREPARE” di Perpustakaan Habibie & Ainun, Jakarta, Selasa (13/2), dihadiri antara lain oleh Prof Salim Said, Prof Indria Samego, Prof A Malik Fadjar, Hasjim Djalal, dan sekaligus reuni senior Republika, antara lain Ikhwanul Kiram Masyhuri, Daru Priyambodo, Anif Punto Utomo, Tommy Tamtomo, Nasihin Masha, dan Pemred Repubika Irfa Junaidi. Juga hadir Dirut Mahaka penerbit Republika, Agoosh Yooshran, dan Direktur Arys Hilman.

Fachry Ali, pembicara tunggal dalam peluncuran buku ini, mengupas sumbangsih Habibie untuk peradaban. Saat N-250 pesawat karya Pak BJH diluncurkan, Agustus 1995, Fachry tidak saja memaknai sebegai kebangkitan teknologi Indonesia, tapi juga menyumbangkan titik kesadaran mendalam akan eksistensi Habibie. 

Fachry meletakkan penerbagan perdana N-250 sebagai refleksi pertistiwa “antropologis”, di mana ilmu pengetahuan dan teknologi—dunia modern— menyatu dengan dunia agama. Sehari sebelum pesawat diterbangkan, ribuan karyawan IPTN yang beragama Islam sholat Isya bersama dan berdoa di Masjid Habibur Rahman IPTN untuk kesuksesan penerbangan perdana.

Saat terbang perdana N-250, Pak BJH adalah Ketua Umum ICMI. Menurut Fachry, kelahiran ICMI telah memberi “isi”  atas kebangkitan kelompok Nasionalis Islam dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dalam buku karya Makmur Makka ini juga diceritakan tentang pesawat rerbaru karya Pak BJH, R-80, dalam tajuk “N-250 Menghilang, R-80 Terbilang.” Pesawat R-80 dijadwalkan terbang pada 2019-2020. Ini akan menghapus kekecewaan Pak BJH, setelah “anak intlektualnya” dibuang. Anak inltektual itu adalah 48 ribu karyawan IPTN, yang dibesarkan, dididik, harus pergi karena tekanan IMF, yang mengharuskan IPTN dihentikan.

Kini, harapan pada  R-80. Untuk membangun prototipe dari turbo R80 berkapasitas 80 kursi, PT Regio Aviasi Industri yang dipimpin Ilham Habibie, memerlukan dana sekitar  US $ 1,5 miliar. Alhamdulillah, atas kerjasama PT Regio Aviasi Industri dan  PT Bintang Angkasa Berjaya, anak usaha Bintang Group (ceknricek.com) telah terkumpul sebagian dana yang berasal dari diaspora Indonesia. 

Fikar Rizky Mohammad, putra Ilham Bintang, terus berupaya menggalang dana  untuk industri kebanggaan bangsa ini, di antaranya melalui acara Diaspora Indonesia Summit di beberapa kota dunia. 

PT Regio Aviasi Industri membutuhkan US $ 1,5 miliar. Fikar mengatakan, ceknricek.com akan bekerjasama dengan kitabisa.com untuk mengumpulkan dana di acara Diaspora Summit di beberapa kota besar di Madrid, San Francisco, Melbourne, dan Tokyo pada 2018.

Pekan lalu (7/2), Fikar yang juga CeO Ceknricek.com, menemui Pak Habibie di Munich, Jerman, membahas dan melaporkan perkembangan  "crowd founding" pesawat R80 melalui Diaspora Summit. Pak BJH menyambut gembira dan sangat berkeinginan R-80 dapat direalisasikan.

Tentu, tidak hanya Pak BJH yang menginginkan R-80 terbang, tapi kita semua — yang mencintai bangsa ini — menginginkannya. 

Ilham Habibie, Fikar, dan anak-anak muda —yang ketika N-250 terbang 23 tahun lalu — masih anak, kini bergerak untuk mewujudkan kebanggaan bangsa itu. IMF telah mematikan N-250, karya besar bangsa, kini anak-anak muda itu mencoba sekuatnya membangkitkannya kembali. Mereka ingin melihat R-80 terbang tinggi, membawa kebanggaan bangsa. 

Berbagai upaya mereka tempuh, sekuat yang dapat mereka lakukan, untuk membantu pendanaan R-80. Lalu, dimana kita saat anak-anak muda itu mengetuk-mengetuk hati kita?

Selamat jalan Pak Prof. BJ. Habibie
Semoga semua karyamu yang bermanfaat bagi  manusia menjadi amal jariyah di sisi Allah SWT. Aamiin

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...