24 June 2019

Merindukan Sistem dan Pemimpin Pelayan Rakyat

Oleh: Yuyun Rumiwati

Ambisi untuk berkuasa dan mempertahankan kekuasaan terkadang membuat manusia lupa diri. Bahkan, bisa menumpulkan nalar sehat. Demikian rezim hari ini bekerja di akhir masa jabatannya. Betapa tidak, ucapan menkoinfo, yang bertanya pada seorang pegawai, "bu, bu, yang bayar gaji ibu siapa sekarang?, atau siapa?" kepada si ibu pegawai negeri  yang cenderung ke capres no. 2

Kejadian di atas menyiratkan kearogansian rezim, seakan mereka yang telah berjasa bagi PNS. Justru tindakan tersebut menjadi bukti nyata kedangkalan nalar rezim. Rezim yang berkuasa lupa, bahwa rakyat kian cerdas dan tidak mudah terpengaruh dengan pernyataan penggiringan layaknya masa orde lama.

Rakyat tahu bahwa posisi pegawai negeri adalah bekerja. Bukan abdi pemguasa atau abdi pemerintah yang berkuasa. Kewajiban mereka bekerja sesuai akad kerjanya. Dan gaji adalah hak mereka. Gaji pun bukan dari kantong penguasa. Tapi dari kas negara yang bersumber dari pajak yang dibayar rakyat. Jadi sama sekali tidak ada jasa apapun dari penguasaseperti/Demokrasi Minus Pengabdian Penguasa/

Sistem demokrasi dengan kekuasaan sebagai fokus tujuan. Karenanya segala kewajiban yang seharusnya mereka kerjakan untuk rakyat justru terabaikan. Kebijakan penguasa justru lebih berpihak pada kelompok atau asing maupun aseng yang mendanai hingga kursi kekuasaan. Bahkan kerja yang seharusnya dilakukan, justru dielu-elukan sebagai prestasi bahan kampanye untuk mempertahankan kekuasaan di periode selanjutnya. 

Penguasa di sistem demokrasi seakan tidak terbebani melihat kondisi utang meningkat, kejahatan dan keamanan menjadi hal langka, kesehatan dan kesejahteraan rakyat jauh panggang dari api. Penguasa justru sibuk membuat pencitraan untuk menutupi segala kegagalan demi melanggengkan kekuasaan. Jadilah presiden laksana aktor film yang butuh untuk dishoting kamera agar terlihat wah.

/Kekuasaan dalam Islam Amanah/

Bertolak belakang dengan kepemimpinan kapitalis demokrasi. Islam memiliki sistem yang unik dan adil. Kekuasaan adalah amanah. Amanah untuk melayani dan mengurusi rakyat sesuai syariat sang maha pencipta manusia. Amanah tersebut yang siap dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.

Pemimpin dalam Islam bertanggung jawab pada kondisi kesejahteraan rakyat. Bertanggungjawab pada penegakan keadilan hukum syariat. Sehingga tidak tersibukkan untuk mencari pencitraan demi kekuasaan. 

Kekuasaan pemimpin tidak dibatasi oleh periode tertentu. Selama kepemimpinannya tidak ke luar dari rel syariat. Kepemimpinan umum (khalifah) tetap berlanjut. Anda ada ketidaktepatan proses muhasabah atau kritik baik secara pribadi atau umum terbuka. Tidak ada ketakutan menjatuhkan citra dan elaktabilitas seperti di sistem demokrasi. Yang berpeluang represif bagi pihak yang kritis. Karena dianggap membahayakan kekuasaannya. 

Kepemimpinan yang bertanggung jawab. Yang bekerja dengan tulus mengabdikan diri untuk rakyat sebagaimana tuntunan syariat (Allah) melahirkan kepemimpinan yang dicintai rakyat secara alami Kepemimpinan yang melahirkan kewibawaan dan disegani  serta merdeka atau bebas dekte dari kebijakan  luar negeri (aseng maupun asing). Model kepemimpinan dan pemimpin seperti ini yang butuh diwujutkan di negeri ini.

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 24 Jun 2019 - 14:22
Senin, 24 Jun 2019 - 14:12
Senin, 24 Jun 2019 - 11:56
Senin, 24 Jun 2019 - 11:49
Senin, 24 Jun 2019 - 11:46
Senin, 24 Jun 2019 - 11:40
Senin, 24 Jun 2019 - 11:33
Senin, 24 Jun 2019 - 11:29
Senin, 24 Jun 2019 - 11:19
Senin, 24 Jun 2019 - 11:16
Senin, 24 Jun 2019 - 11:08
Senin, 24 Jun 2019 - 10:58